Ketentuan Pelaksanaan Upacara Yadnya dan Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali

Guna mengantisipasi merebaknya penyebaran Covid-19 dan mengatur pelaksanaan Upacara Yadnya dan Kegiatan Adat di Bali, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali mengeluarkan keputusan bersama tentang Ketentuan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya dan/atau Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali.

Ketentuan Pelaksanaan Upacara Yadnya dan Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali


A. DASAR


  1. Arahan Presiden Republik Indonesia melalui pidato tanggal 15 Maret 2020, tentang perkembangan penyebaran penyakitvirus Corona (COVID-19) di Indonesia;
  2. Maklumat Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor: Mak/2/111/2020 tanggal 19 Maret 2020 tentang Kepatuhan Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (COVID-19);
  3. Data Penyebaran COVlD-19 di sejumlah daerah yang semakin meningkat harus diwaspadai dan diantisipasi agar tidak menimbulkan dampak yang semakin meluas demi penyelamatan umat manusia; dan
  4. Hasil Paruman Bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali tanggal 28 Maret 2020.
  5. Surat Edaran PHDI Pusat No. 312/SE/PHDI Pusat/IIl/2020 tentang PEDOMAN PERAWATAN JENAZAH DAN UPACARA PITRA YAJNA BAG[ JENAZAH PASIEN COVID- 19.

B. PRINSIP UPACARA PANCA YADNYA


  1. Yadnya dalam bentuk upacara wajib dilaksanakan sesuai dengan tiga kerangka agama Hindu, yang rncliputi: Tattwa, Susi/a, dan Acara. Dalam hal ini Acara mencakup: kitab suci, orang suci, tern pat suci, hari sucl, dan upacara suci.
  2. Upacara Yadnya dalam praktikagama Hindu di Bali menyediakan pilihan beragam, sebagai berikut: a. Kanistaning Kanista [kecil/inti], Madyaning Kanista, Utamaning Kanista; b. Kanistaning Madya; Madyaning Madya, Utamaning Madya; c. Kanistaning Utama; Madyaning Utama, dan Utamaning Utama.
  3. Dalam pelaksanaan Upacara Yadnya boleh dan dibenarkan ada penyesuaian sesuai dengan prinsip Desa (Tempat Pelaksanaan Upacara Yadnya), Kala (Waktu Pelaksanaan Yadnya), dan Patra (Kondisi Orang yang Melaksanakan Yadnya) dan berdasarkan sastra.
  4. Ada Upacara Yadnya yang pelaksanaannya harus mencari Dewasa Ayu, seperti mapandes, pawiwahan; ada pula Upacara Yadnya yang dilaksanakan tanpa mencari Dewasa Ayu, seperti upacara tiga bulanan, otonan, dan sejenisnya.
  5. Yadnya mesti didasari dengan niat, pikiran, dan hati yang lascarya nekeng twas (tulus ikhlas).

C. JENIS UPACARA PANCA YADNYA

Yadnya dalam bentuk upacara menurut agama Hindu terutama meliputi lima jenis yang disebut Panca Yadnya, yakni:

  1. Dewa Yadnya;
  2. Rsi Yadnya;
  3. PitraYadnya;
  4. Manusa Yadnya; dan
  5. Bhuta Yadnya.
Dalam setiap pelaksanaan Upacara Yadnya senantiasa ada Tri Manggalaning Yadnya, yakni:

  1. Sang Yajamana, yang melaksanakan Upacara Yadnya;
  2. Sang Tapini/Sarati, yang merancang dan membuat banten (tukang banten); dan
  3. Sang Wiku Pamuput, yang memimpin pelaksanaan Upacara Yadnya, biasanya sulinggih dwijati atau pamangku ekajati. Dalam hal ini Sang Yajamana dapat bermusyawarah untuk mufakat dengan Sang Tapini serta Sang Wiku Pamuput.


D. PELAKSANAAN UPACARA PANCA YADNYA

Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya dalam kondisi Negara, termasuk Provinsi Bali, sedang menghadapi kondisi pandemi Virus Corona (COVID-19) saat ini, hendaknya diatur sesuai dengan prinsip ber-yadnya (Dharma A,gama) yang telah disebutkan pada huruf B dan huruf C dan prinsip Dharma Negara dengan mengikuti Arahan, lmbauan, lnstruksi, baik dari Pemerintah maupun Pemerintah Daerah, Lembaga, serta instansi yang berwenang lainnya.

Berdasarkan pertimbangan prinsip Dharma Agama dan Dharma Negara tersebut, maka Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya selama berlangsung "Pandemi COVID-19" di Provinsi Bali, diberlakukan ketentuan-ketentuan sebagai berikut.

1. Semua Upacara Panca Yadnya yang bersifat ngawangun ( direncanakan), seperti karya malaspas, ngenteg linggih, ngaben, ngaben massal, mamukur, maliqia, Rsi Yadnya (Padikshan), serta karya ngawangun yang lainnya, seperti "maajar-ajar, nyegara-gunung" dan lain-lain, supaya DITUNDA sampai batas waktu dicabutnya Status Pandemi COVID-19.

2. Upacara Panca Yadnya selain yang bersifat ngawangun ( direncanakan) sebagaimana dimaksud pada angka 1, dapat dilaksanakan dengan melibatkan peserta yang terbatas.
Dalam setiap pelaksanaan Upacara Panca Yadnya sebagaimana dimaksud pada angka 2 agar mengikuti prosedur tetap penanggulangan pandemi COVID-19 dari instansi yang berwenang:

  • Tetap mengutamakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS);
  • Tetap menjaga jarak antar orang paling sedikit 1,5-2,0 meter;
  • Tersedia tempat mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer); dan
  • Menggunakan masker.
4. Karya Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih
  • Pelaksana Upacara saking pangawit nqantos panyineban kamargiang olih Krama Desa Adat Besakih.
  • Malasti Ngubeng.
  • Karya Nyejer a wuku (7 rahina). 
  • Pangubaktian Krama Siosan (Panyungsung/Panyiwi) ngayat sakinq Merajan / Sanggah soang-soang.
  • Ring Padharman nganutin pamargi sekadi ring ajeng, nyejer tur kasineb a rahina.
5. Karya Ngusaba Kadasa di Pura Batur

  • Pelaksana Upacara saking panqawit ngantos panyineban kamarqianq olih Krama Desa Adat Batur.
  • Karya Nyejera wuku (7 rahina).
  • Pangubhaktian Krama Siosan ngayat sakinq Merajan / Sanggah soang-soang.
  • Krama Subak sane jagi ngaturang suwinih ke Pura Batur, wantah diwakili oleh utusan maksimal 2 orang. 
6. Karya di Pura selain Kahyangan Jagat

  • Pelaksana Upacara sakinq pangawit ngantos panyineban kamargiang olih Krama Pamaksan /Pangemong.
  • Malasti Ngubeng.
  • Nyejer paling suwe 3 rahina. 
  • Pangubhaktian Krama ngayat sakinq Merajan / Sanggah soang-soang.
  • Tidak diiringi seni wali/wewalen, seperti gambelan, rejanq, baris, topenq siddha karya miwah sane tiosan.
7. Pitra Yadnya
  • Upacara Pitra Yadnya, berupa Ngaben, bagi yang meninggal karena positif COVID-19, dilakukan dengan kremasi langsung atau makingsan di gni sesuai dengan Protokol Kesehatan COVID-19. 1) Jenasah diantarkan oleh petugas kesehatan. 2) Upacara makingsan di gni / kremasi disesuaikan. 
  • Bagi yang meninggal bukan karena COVID-19, supaya dilaksanakan Upacara makingsan di gni atau dikubur, kecuali Sulinggih dan Pamangku.
  • Apabila Ngaben tidak mungkin ditunda, dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut 1) Upacara dilaksanakan dengan sederhana dan jumlah peserta yang terbatas. 2) Tidak ada undangan, atau bentuk keramaian lainnya.
8. Manusa Yadnya

Upacara Manusa Yadnya yang terkait dengan kelahiran, seperti upacara bayi telu bulanan (tiga bulan), otonan (hari lahir/siklus enam bulanan) DAPAT DILAKSANAKAN dengan:

  1. Upacara dilaksanakan dengan sederhana dan jumlah peserta yang terbatas.
  2. Tidak ada undangan, atau bentuk keramaian lainnya.
Apabila Upacara Pawiwahan tidak dapat ditunda, maka pelaksanaannya dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Dihadiri hanya oleh kedua pihak keluarga inti dan saksi-saksi;
  2. Upakara paling inti berupa pakala-kalaan/pabyakaonan, tataban di Bale (Atma Kerthi), banten nunas Tirta Tri Kayangan Desa Adat, Tirta Mrajan, dan Tirta dari Sulinggih-cukup dilaksanakan oleh 2-3 orang.
  3. Pawiwahan cukup dipimpin Pamangku dibantu oleh Sarati Banten.
  4. TIDAK MENGGELAR RESEPSl-sampai batas waktu "Status Pandemi COVID-19" dicabut resmi oleh Pihak Berwenang.
Keputusan Bersama PHDI dan MAD Provinsi Bali  tentang Ketentuan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya dan/atau Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali bisa diunduh melalui link berikut ini : Unduh Keputusan Bersama

Surat Edaran PHDI Pedoman Perawatan Jenazah dan Pitra Yadnya Pasien Covid-19

Melihat perkembangan wabah Covid-19 akhir-akhir ini, Parisadha Hindu Dhrama Indonesia (PHDI) mengeluarkan Surat Edaran Nomor 312/SE/PHDI Pusat/III/2020 tentang Pedoman Perawatan dan Upacara Pitra Yadnya Bagi Jenazah Pasien Covid-19. Berikut merupakan isi dari Surat Edaran tersebut.

Surat Edaran PHDI Pedoman Perawatan Jenazah dan Pitra Yadnya Pasien Covid-19



  1. Dalam hal pasien COVID-19 meninggal dunia baik yang dirawat di rumah sakit (RS) maupun yang melakukan karantina/isolasi mandiri di rumah atau pasien dalam pengawasan (PDP), termasuk orang dalam pemantauan (ODP) maka perawatan jenazah tidak boleh ditangani sendiri secara tradisional, melainkan dilaporkan ke RS yang menangani COVID- 19, untuk selanjutnya ditangani oleh petugas yang berkompeten;
  2. Perawatan jenazah sejak di ruang rawat/kamar isolasi, ruang jenazah, menuju dan sampai di pemakaman/kremasi wajib mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemulasaran Jenazah Pasien COVID-19 yang ditetapkan oleh Pemerintah. Penjelasan SOP dimaksud dapat diminta kepada petugas setempat yang berwenang;
  3. Proses upacara Pitra Yajna sebaiknya sampai "mendem/makingsan ring agni" melalui kremasi, atau "mendem ring prthiwi" (dikubur) dengan upakara/sesajen sederhana tanpa mengurangi makna/tattva agama Hindu, sehingga tidak melibatkan banyak orang;
  4. Tirtha Pabresihan, Panglukatan, dan Pangentas dimohonkan kepada Pandita/Sulinggih, yang diproses di geria Sulinggih/Pandita pamuput karya, sedangkan proses upacara di krematorium atau di pemakaman dilaksanakan hanya oleh Pinandita Lokapalasraya, Sarati Banten, dan pihak keluarga terdekat dengan jumlah yang sangat terbatas, dengan tetap mematuhi protokoler kewaspadaan terhadap COVID-19 guna mencegah terjadinya penularan;
  5. Jika pihak keluarga korban menginginkan langsung Ngaben, sebaiknya upacaranya dilaksanakan melalui proses kremasi/pembakaran jenazah, tetapi bagi komunitas umat Hindu yang menganut tradisi "mendem ring prthiwi" dapat melakukan upacara Pitra Yadnya di pemakaman dan upacaranya dipimpin (kapuput) oleh Pandita/Sulinggih, tidak melibatkan banyak orang serta wajib mematuhi protokoler kewaspadaan terhadap COVID-19;
  6. Bagi PDP dan ODP yang meninggal bukan di RS penanganan COVID-19, pihak keluarga wajib melaporkan kematian itu kepada pihak berwenang, terutama kepada pihak RS penanganan COVID-19 setempat (proses perawatan j enazah dan ritual/upakara dan upacaranya sama dengan perlakuan terhadap jenazah pasien COVID-19 yang meninggal di RS);
  7. Untuk komunitas umat Hindu yang memiliki/menganut tradisi atau budaya keagamaan yang berbeda makna proses perawatan jenazahnya tetap mengikuti dan mematuhi SOP Pemulasaran Jenazah Pasien COVID-19 serta protokoler kewaspadaan terhadap COVID- 19;
  8. Kepada seluruh Pengurus Parisada Hindu Indonesia Provinsi dan Kabupaten/Kota agar melakukan sosialisasi/diseminasi kepada seluruh Ormas Keagamaan Hindu dan umatnya di wilayahnya masing-masing serta melaksanakan koordinasi dengan pihak yang berwenang; 
  9. Kepada seluruh umat Hindu sangat diharapkan untuk tetap waspada dan setia melaksanakan social distancing serta protokoler kewaspadaan terhadap COVID-19 guna mendukung kebijak:an Pemerintah dalam memutus rantai penyebaran/penularan COVID-19 sehingga kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara segera pulih.
Surat Edaran PHDI tentang Pedoman Perawatan dan Upacara Pitra Yadnya Bagi Jenazah Pasien Covid-19 dapat diunduh melalui link berikut: Unduh Surat Edaran PHDI

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 6

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 6


Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 134


Evaluasi

Perubahan apa yang terjadi pada masa pubertas?
Jawaban :
Pada saat pubertas, terjadi perubahan fisik baik pada anak laki-laki maupun perempuan.
Perubahan fisik pada anak laki-laki

  1. Tumbuhnya jakun
  2. Tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh
  3. Dada membidang
  4. Suara membesar
  5. Otot-otot berkembang dengan pesat
Perubahan fisik pada anak perempuan
  1. Payudara membesar
  2. Pinggul membesar
  3. Suara melengking
  4. Tumbuhnya rambut dibeberapa bagian tubuh


Bagaimana cara menjaga kesehatan reproduksi pada masa pubertas?
Jawaban :
Cara menjaga kesehatan reproduksi pada masa pubertas

  1. Setiap hari mengganti celana dalam
  2. Menjaga organ reproduksi agar tetap kering
  3. Makan-makanan yang bergizi
  4. Rajin berolahraga
  5. Tidak menahan kencing
  6. Membersihkan organ reproduksi


Apa nilai yang terkandung dalam sila kelima Pancasila?
Jawaban :
Nilai yang terkandung dalam sila kelima Pancasila
  1. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  2. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  3. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  4. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  6. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, mengutamakan nilai-nilai kebersamaan dan keadilan, serta mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Apa pendapatmu, jika kita selalu memberikan bantuan kepada seseorang sepanjang hidupnya? Mengapa?
Jawaban :
Kita tidak boleh selalu memberikan bantuan kepada seseorang sepanjang hidupnya, karena akan membuat orang itu malas dan tidak mau berusaha. Kita boleh membantu jika dia benar-benar memerlukan bantuan.

Bagaimana cara membuat patung dari sabun batangan?
Jawaban :
Cara membuat patung dari sabun batangan?

  1. Buat sketsa patung yang akan dibuat pada batang sabun
  2. Potong sabun sesuai dengan sketsa yang dibuat dengan menggunakan pisau atau cutter
  3. Haluskan patung


Apa yang harus disiapkan jika kita akan membuat patung dari bubur kertas?
Jawaban :

  1. Siapkan kertas bekas.
  2. Rendam kertas kira-kira selama 24 jam sampai lunak.
  3. Buatlah kerangka menggunakan kawat. Besar kecilnya kawat menyesuaikan besar kecilnya patung yang akan dibuat.
  4. Kertas yang sudah lunak dapat ditumbuk lagi, lalu diperas dan dicampur dengan lem kanji (sampai berbentuk seperti tanah liat).
  5. Tempelkan bubur kertas pada kerangka kawat sesuai dengan bentuk yang dinginkan.
  6. Untuk mendapatkan lapisan luar yang halus, lapislah dengan kertas yang berwarna putih dengan lem.
  7. Jemur patung di bawah sinar matahari. Setelah kering, warnai patung dengan cat kayu atau cat tembok, sesuai warna yang kamu sukai.

Apa saja bentuk kerja sama Indonesia dengan negara-negara ASEAN dalam bidang pendidikan?
Jawaban :
  1. Dibentuknya The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) tanggal 30 November 1965.
  2. Pensinkronisasian standar ijasah antar negara anggota ASEAN.
  3. Peningkatan ilmu pengetahuan kalangan pemuda ASEAN dalam proses integrasi regional.
  4. Pembentukan kelompok peneliti antar negara.
  5. Pertukaran pelajar antar negara anggota.
  6. Peningkatan kualitas sumber daya manusia negara anggota ASEAN agar mampu bersaing baik di tingkat regional maupun internasional.
  7. Pembentukan kurikulum sekolah di negara –negara ASEAN yang berprinsipkan demokrasi, berorientasi pada perdamaian, serta menghargai HAM.
  8. Pembentukan ASEAN University Network (AUN) yang merupakan jaringan kerjasama antar universitas terkemuka di ASEAN. 
  9. Penawaran Beasiswa Pendidikan. contohnya Singapura memberikan beasiswa latihan pengolahan jasa pelabuhan udara,kesehatan dan keselamatan kerja industri,komunikasi bahari dan lain². 
  10.  Negara² ASEAN memanfaatkan beasiswa untuk belajar diberbagai universitas dinegara-negara ASEAN dan Jepang atas biaya yg diberikan oleh ASEAN-Japan Scholarship Fund (Dana Beasiswa ASEAN-Jepang)



Daftar Isi Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 5

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 5


Ayo Membaca


Pagi itu ayah dan ibu sudah menunggu Beni di kamar makan. Mereka biasa sarapan bersama di pagi hari. Ayah memanggil nama Beni, tetapi Beni tidak menyahut. Kemudian, ibu berjalan menuju kamar Beni. Tiba di depan kamar Beni, ibu mengetuk pintunya sambil berkata, “Beni, ayo kita sarapan.”

“Iya, Bu”, jawab Beni.

Ibu membuka pintu kamar Beni. Ibu melihat Beni sudah mengenakan seragam, tetapi belum menyisir rambutnya. Beni sedang memasukkan buku-buku dan perlengkapan sekolahnya ke dalam tas.

“Kamu tadi terlambat bangun, Beni?” tanya ibu,

“Iya, Bu. Tadi malam Beni mengerjakan tugas. Beni baru tidur pukul 11 lebih” jawab Beni.

“Kapan ibu guru memberikan tugas itu?” tanya ibu.

“Sebenarnya sudah seminggu yang lalu, Bu,” jawab Beni lirih.

“Hhmmm... jika kamu dapat memimpin dirimu sendiri, pasti pagi ini kamu tidak akan terlambat bangun,” kata ibu.

“Maksud Ibu?” tanya Beni.

“Maksud Ibu, jika kamu dapat memimpin dirimu sendiri dengan mengatur waktumu dengan baik, tentu tugas itu sudah selesai dari kemarin, bukan?” kata ibu.

“Iya, Bu. Besok-besok Beni tidak akan menunda mengerjakan tugas,” kata Beni.

“Baiklah. Tapi, Ibu senang kamu telah berusaha keras dan mengerjakan tugasmu sendiri tanpa perlu bantuan orang lain. Ayo, sekarang kita sarapan. Ayah sudah menunggu,” kata ibu.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 130


Ayo Berdiskusi
Diskusikan dengan teman dalam kelompokmu hal-hal berikut.

Pernahkah kamu mengalami kejadian seperti Beni?
Jawaban : Pernah

Sikap apa yang tidak pantas ditiru dari cerita Beni di atas?
Jawaban : Beni tidak mampu mengatur waktu dengan baik. Dia harus bergadang untuk membuat PR sehingga terlambat bangun pagi.

Sikap apa yang dapat ditiru dari cerita Beni di atas?
Jawaban : Beni berusaha keras dalam mengerjakan tugas sekolah tanpa perlu dibantu oleh orang lain.


Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Berikut nilai-nilai yang terkandung dalam sila kelima Pancasila.

  1. Mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Suka bekerja keras.
  7. Menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 131


Ayo Menulis


Tuliskanlah contoh-contoh penerapan nilai-nilai keadilan dalam kehidupanmu sehari-hari.
Jawaban :
contoh-contoh penerapan nilai-nilai keadilan dalam kehidupanmu sehari-hari.
  1. Pembagian tugas di rumah yang adil
  2. Pembagian uang jajan yang adil
  3. Tidak curang saat bermain dengan teman
  4. Sportif saat bermain sepak bola

Tuliskan pendapatmu mengenai pelaksanaan keadilan di lingkungan sekitarmu.
Jawaban : 
Menurut saya pelaksanaan keadilan dilingkungan sekitar sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari jarangnya terjadi pertengkaran.

Daftar Isi Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7

Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942

Berkenaan dengan diselenggarakan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942 pada tanggal 25 Maret 2020, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali mengeluarkan surat edaran Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942. Berikut merupakan isi Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942.


Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942


RANGKAIAN UPACARA/UPAKARA


A. MELIS / MELASTI / MEKIYIS

Kegiatan Upacara Melis/Melasti/Mekiyis dapat dilaksanakan dari hari Minggu-Selasa, tanggal 22-24 Maret 2020, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan desa adat setempat dan diatur oleh Prajuru Desa masing-masing;

B. BHATARA NYEJER DI PURA DESA/BALE AGUNG

Sekembali dari Melis/Melasti/Mekiyis, Ida Bhatara nyejer di Pura Desa/Bale Agung sampai dengan Tanggal 24 Maret 2020, dan setelah selesai Ngaturang Tawur Kesanga, Ida Bhatara kembali ke Kahyangan masing-masing;

C. TAWUR KESANGA

Upacara Tawur Kesanga pada Tilem Kesanga Saka 1941, pada hari Selasa, Tanggal 24 Maret 2020 dengan acuan pelaksanaan sebagai berikut :

1. NUNAS TIRTA DAN NASI TAWUR

Tanggal 24 Maret 2020, perwakilan dari masing-masing desa/kecamatan agar datang ke Pura Besakih sekitar jam 10.00 Wita, dengan membawa Sujang untuk tempat Tirtha Tawur serta Daksina Pejati dan perlengkapan persembahyangan, guna mohon Nasi Tawur dan Tirtha Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

2. TINGKAT KABUPATEN/KOTA

Menggunakan Upakara Tawur Agung dengan segala kelengkapannya. Dilaksanakan dengan mengambil tempat pada Catuspata pada waktu ”Tengai Tepet” (Sekitar Pukul 12.00 Wita). Apabila Kabupaten/Kota belum mampu melaksanakan Tawur Kesanga dengan menggunakan Upacara Tawur Agung, disarankan paling tidak, bisa melaksanakan Panca Kelud Bhuwana atau sesuai dengan kemampuan.

3. TINGKAT KECAMATAN

Menggunakan Upakara Caru Panca Sanak yaitu dengan lima ekor ayam (Panca Warna) ditambah itik belang kalung beserta kelengkapannya atau sesuai dengan kemampuan. Pelaksanaan upacara ini mengambil tempat di Catuspata pada waktu ”Tengai Tepet” (sekitar pukul 12.00 Wita).

4. TINGKAT DESA

Menggunakan Upakara Caru Panca Sata dengan lima ekor ayam (Panca Warna) beserta kelengkapannya atau sesuai dengan kemampuan desa masing-masing dengan mengambil tempat di Catuspata pada waktu ”Sandi Kala” (sekitar jam 18.30 Wita).

5. TINGKAT BANJAR

Menggunakan Upakara Caru Eka Sata yaitu Ayam Brumbun dengan olahan urip 33 (Urip Bhuwana) beserta kelengkapannya atau sesuai dengan kemampuan Banjar masing-masing, dengan mengambil tempat di Catuspata pada waktu ”Sandi Kala” (sekitar jam 18.30 Wita).

6. TINGKAT RUMAH TANGGA

a. MERAJAN/SANGGAH

Menghaturkan Banten Pejati Sakasidan (semampunya) dan dinatar depan pelinggih cukup menghaturkan Segehan Agung Atanding atau Segehan Cacahan 11/33 Tanding dan dipersembahkan kepada Sang Bhuta Bhucari.

b. DI HALAMAN / NATAH RUMAH

Menghaturkan Segehan Manca Warna 9 (Sembilan) tanding dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem dan air yang didapatkan dari desa setempat, dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja

c. DI JABA/LEBUH ( Depan Pintu Masuk Halaman Rumah )

Menghatur upakara sebagai berikut :

  • Segehan Cacahan 108 (seratus delapan) tanding dengan ulam jejeron matah dilengkapi dengan Segehan Agung serta tetabuhan tuak, arak, berem, air tawar dari desa setempat, dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Bala dan Sang Kala Bala.
  • Semua segehan tersebut dihaturkan dibawah pada saat ”sandi kala” (sekitar jam 18.30 Wita)
  • Di sanggah cucuk dihaturkan peras daksina tipat kelanan.

d. SEMUA ANGGOTA KELUARGA (kecuali yang belum meketus) mebiyakala dan meprayascita di halaman rumah masing-masing. Setelah itu dilanjutkan dengan pengrupukan (mabuu-buu) berkeliling di rumah masing-masing dengan sarana api (obor), bunyi-bunyian (kulkul bambu atau yang lain), bawang, mesui dan jangu.

D. NGERUPUK

Akhir dari pelaksanaan Upacara Tawur Kesanga terutama di tingkat Desa, Banjar dan Rumah Tangga adalah dengan melaksakan upacara Mabuu-buu atau lebih dikenal dengan Ngerupuk. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat Ngerupuk antara lain:


  1. Ngerupuk agar dilaksanakan dengan hikmat, tertib dan aman sesuai dengan nilai-nilai kesucian keagamaan serta dipimpin oleh Bendesa/Klian Adat dan Perbekel setempat, sedangkan untuk ditingkat rumah tangga dipimpin oleh kepala keluarga.
  2. Sarana pokok Ngerupuk berupa: api (obor), bawang, mesui, dan bunyi-bunyian atau tangguran/beleganjuran. Ngerupuk dilaksanakan Nyatur Desa (keliling desa/banjar/rumah) atau menyesuaikan dengan kondisi setempat. Perlu adanya koordinasi dengan desa/banjar sekitar demi terpeliharanya suasana khidmat, tertib dan keamanan bersama.
  3. Apabila ada masyarakat membuat Ogoh-ogoh hendaknya bersifat etis, estetis, religius, dan pelaksanaannya merupakan tanggung jawab Desa Adat, Banjar, dan lingkungan masing-masing.

NYEPI SIPENG



Nyepi Sipeng dilaksanakan pada Hari Rabu, tanggal 25 Maret 2020 selama sehari penuh (24) jam sejak jam 06.00 Wita sampai dengan jam 06.00 Wita keesokan harinya, dengan melaksakan Catur Brata Penyepian :
  1. Amati Gni, yaitu : tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.
  2. Amati Karya, yaitu : tidak melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri.
  3. Amati Lelungan, yaitu: tidak berpergian, akan tetapi senantiasa introspeksi diri/mawas diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti kehadapan Hyang Widhi /Ista Dewata beliau.
  4. Amati Lelanguan, yaitu : tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih bathin untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.
Pelaksanaan Catur Brata Penyepian ini supaya di awasi secara ketat dan seksama oleh Pecalang Desa/Banjar masing-masing dibawah koordinasi Prajuru Desa/Banjar setempat dan menghimbau kepada Pemerintah Daerah beserta Jajarannya untuk berkordinasi dengan umat lain melalui FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) agar dapat menyesuaikan diri didalam menyukseskan pelaksanaan Brata Penyepian seperti: tidak ada bunyi pengeras suara saat Sholat dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Dapat diberikan pengecualian bagi yang menderita atau sakit dan membutuhkan layanan untuk keselamatan dan hal-hal lain dengan alasan kemanusiaan


NGEMBAK GNI


Setelah melaksanakan Nyepi Sipeng, keesokan harinya yaitu Hari Kamis, tanggal 26 Maret 2020 dilaksanakan acara Ngembak Gni yaitu Ngelebar Brata Penyepian dengan melakukan Sima Krama atau Dharma Santi yang pelaksanaannya diatur oleh Desa Adat, Banjar, Lingkungan, Instansi terkait sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.

LAIN-LAIN

Sehubungan dengan pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942, tanggal 25 Maret 2020, maka bilamana umat Hindu di Bali ada yang melaksanakan upacara Piodalan/Pujawali di Merajan/Sanggah atau Pura tertentu, maka Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali menyampaikan himbauan sebagai berikut:
  1. Upacara Piodalan/Pujawali tetap dilaksanakan, namun diusahakan agar menggunakan upacara tingkat terkecil dan dilaksanakan sedini mungkin dan upacara tersebut harus selesai saat”Galang Kangin” (pukul 06.00 Wita) pada hari Nyepi, tanggal 25 Maret 2020.
  2. Upacara Piodalan/Pujawali dipimpin oleh Pemangku Pura yang bersangkutan dengan meminimalkan penggunaan api/dupa, tidak menggunakan tetangguran/tetabuhan gong dan Dharmagita.
  3. Usahakan agar tidak mengerahkan umat terlalu banyak atau cukup dilaksanakan oleh Pengempon yang berdomisili dekat dengan Pura, sedangkan umat yang lainnya cukup ngayat dari rumah masing-masing.
  4. Pelaksanaan Piodalan/Pujawali seperti tersebut diatas, secara lebih teknis agar diatur/dikoordinasikan oleh Pengurus Parisada setempat sesuai dengan Dresta yang berlaku, dengan catatan agar tidak banyak menyimpang dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
  5. Bagi mereka wisatawan yang berada di Bali saat hari raya Nyepi tahun Caka 1942 tanggal, 25 Maret 2020 agar turut serta menjaga kesucian, kedamaian, keharmonisan, kerukunan antar dan inter umat beragama.
  6. Merujuk seruan bersama Majelis-Majelis Agama dan keagamaan Provinsi Bali tahun 2018 tertanggal, 15 februari 2018 tentang penggunaan media (cetak, elektronik dan sosial media) agar ditindaklanjuti kembali oleh instansi terkait.
Demikian pedoman ini, untuk disampaikan kepada lembaga/instansi terkait untuk menjadi maklum dan selanjutnya pedoman ini dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya dengan tetap memperhatikan Dresta setempat yang berlaku.

Berikut merupakan Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942



Pedoman juga dapat diunduh melalui link berikut : Unduh Pedoman

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 4

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 4


Dheda dan Lima Butir Kentang

Dahulu, ada seorang pencari kayu bakar bernama Dheda. Dia hidup bersama istri dan ketiga anaknya. Mereka keluarga miskin yang tinggal di gubuk sederhana. Sudah seminggu ini, turun hujan. Dheda pun tidak dapat pergi ke hutan mencari kayu bakar.

Istri Dheda berkata, “Suamiku, persediaan makanan kita hampir habis. Di sini, hanya tersisa lima butir kentang. Itu pun tidak cukup untuk makan kita sekeluarga.”

“Aku tahu. Bersabarlah, semoga besok tidak hujan dan aku dapat pergi bekerja. Sisa kentang yang ada biarlah untuk makan anak-anak saja,” kata Dheda.

Menjelang sore, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Dheda. Setelah dibuka, ternyata ada seorang pengemis tua. Dia basah kuyup kehujanan. “Aku sudah berhari-hari kehujanan. Aku juga kedinginan dan kelaparan. Bolehkah aku minta sedikit makanan?” tanyanya.

Dheda kasihan melihat si Pengemis. Tapi, dia juga tidak mempunyai banyak makanan. Dheda bermusyawarah dengan istri dan anak-anaknya. Akhirnya, mereka bersepakat untuk memberikan sisa makanan kepada si Pengemis.

“Baiklah, kami akan memberikan lima butir kentang itu kepadamu. Kami sangat kasihan melihatmu,” kata Dheda kepada si pengemis.

“Tunggulah sebentar, aku akan memasaknya dulu,” kata istri Dheda. Setelah matang, kentang pun dihidangkan. Si Pengemis makan empat butir kentang. Kini, kentang yang tersisa tinggal satu. Sebelum pergi dia berpesan, “Jika kalian mau makan, irislah kentang ini menjadi lima. Pasti cukup untuk makan keluargamu.”

Dheda kemudian mengiris kentang itu menjadi lima. Ternyata, kelima irisan kentang itu berubah menjadi lima butir kentang. Jika sebutir kentang diiris lima lagi, maka tiap irisannya akan menjadi lima butir kentang lagi. Begitu seterusnya.

Kini, Dheda dan keluarganya tidak pernah kekurangan makanan lagi. Dheda juga membagi-bagikan kentangnya kepada tetangganya.

“Aku sudah berhari-hari kehujanan. Aku juga kedinginan dan kelaparan. Bolehkah aku minta sedikit makanan?” tanyanya.

Dheda kasihan melihat si Pengemis. Tapi, dia juga tidak mempunyai banyak makanan. Dheda bermusyawarah dengan istri dan anak-anaknya. Akhirnya, mereka bersepakat untuk memberikan sisa makanan kepada si Pengemis.

“Baiklah, kami akan memberikan lima butir kentang itu kepadamu. Kami sangat kasihan melihatmu,” kata Dheda kepada si pengemis.

“Tunggulah sebentar, aku akan memasaknya dulu,” kata istri Dheda. Setelah matang, kentang pun dihidangkan. Si Pengemis makan empat butir kentang. Kini, kentang yang tersisa tinggal satu. Sebelum pergi dia berpesan, “Jika kalian mau makan, irislah kentang ini menjadi lima. Pasti cukup untuk makan keluargamu.”

Dheda kemudian mengiris kentang itu menjadi lima. Ternyata, kelima irisan kentang itu berubah menjadi lima butir kentang. Jika sebutir kentang diiris lima lagi, maka tiap irisannya akan menjadi lima butir kentang lagi. Begitu seterusnya.

Kini, Dheda dan keluarganya tidak pernah kekurangan makanan lagi. Dheda juga membagi-bagikan kentangnya kepada tetangganya.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 126


Ayo Berdiskusi

Bersama kelompokmu, identifikasilah penerapan nilai-nilai Pancasila yang ada pada cerita “Dheda dan Lima Butir Kentang” di atas. Tuliskan dalam bentuk tabel seperti berikut.


NO PERISTIWA DALAM CERITA NILAI-NILAI PANCASILA YANG SESUAI
1 Dheda bermusyawarah dengan istri dan anak-anaknya. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarab perwakilan
2 Dheda kasihan melihat si Pengemis Kemanusiaan yang adil dan beradab

Daftar Isi Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 3

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 3

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 119


Rancanglah teks pidato. Kamu dapat menggunakan teks tentang sejahtera bersama koperasi yang telah kamu baca sebagai ide.

Jawaban:
Rancangan pidato
Judul pidato : Ayo belanja di koperasi sekolah.
Bagian pembuka : Mengucapkan salam
Bagian Inti :

  1. Menjelaskan koperasi sekolah
  2. Menjelaskan manfaat koperasi sekolah
  3. Menjelaskan keuntungan berbelanja di koperasi sekolah
  4. Mengajak seluruh siswa berbelanja di koperasi sekolah
Bagian penutup : Menyimpulkan pidato dan mengucapkan salam penutup.


Bacalah teks pidato berikut, kemudian lakukan perintah dari teks yang ada di bawahnya.

“Bapak dan Ibu Guru serta seluruh karyawan SD Palapa yang saya hormati. Tidak terasa, sudah satu tahun saya menjalankan kepercayaan dari Bapak dan Ibu untuk memimpin koperasi karyawan kita. Sudah beberapa tahun kita bersama-sama merasakan manfaat organisasi kecil kita ini. Perlu kita ingat kembali, bahwa tujuan mendirikan koperasi bukan untuk mencari keuntungan. Koperasi karyawan kita dirikan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Semua anggota memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hasil atas berkembangnya usaha bersama ini.”

“Bapak dan Ibu, kekeluargaan dan kebersamaan adalah modal utama dalam koperasi ini. Peduli terhadap jalannya usaha koperasi menjadi kewajiban tiap anggota, bukan hanya tugas ketua atau pengurus. Semua memperoleh kesempatan untuk belajar. Secara mandiri kita menetapkan jenis usaha koperasi dan menjalankannya. Pengurus yang melaksanakan, anggota yang mengawasi dan memberi masukan.”

“Keuntungan pribadi tidak diutamakan. Justru melalui koperasi, kita mengasah kepedulian terhadap kebutuhan anggota lain. Sudah lima tahun berjalan, semua keputusan kita tetapkan bersama secara musyawarah. Begitupun dengan keuntungan koperasi di tahun ini. Apakah keuntungan tersebut akan dibagikan kepada anggota atau akan dimasukkan kembali sebagai penambah modal, akan kita diskusikan dalam rapat besar hari ini.” “Bapak dan Ibu, rapat besar koperasi tidak hanya untuk anggota, namun terbuka untuk semua. Justru saya ingin semua keluarga besar SD Palapa menyaksikan proses musyawarah ini. Saya ingin semua menyaksikan, bahwa banyak hal yang dapat dipelajari melalui koperasi karyawan. Saya ingin semua merasakan bahwa kesejahteraan bersama dapat diwujudkan melalui kepedulian, kekeluargaan, serta kebersamaan.”

“Bapak dan ibu, saya tentu berharap anggota koperasi terus bertambah. Semoga saja, suatu saat nanti keluarga besar SD Palapa lengkap ada di dalamnya. Tak perlu risau memperhitungkan keuntungan pribadi, tetapi, ayo kita berusaha mewujudkan kesejahteraan bersama melalui koperasi.”


Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 120



Dari teks pidato tersebut, tentukanlah bagian pembuka, inti, dan penutup. Berilah tanda di bagian tersebut dengan pensil.

Jawaban :
Bagian Pembuka
“Bapak dan Ibu Guru serta seluruh karyawan SD Palapa yang saya hormati. Tidak terasa, sudah satu tahun saya menjalankan kepercayaan dari Bapak dan Ibu untuk memimpin koperasi karyawan kita. Sudah beberapa tahun kita bersama-sama merasakan manfaat organisasi kecil kita ini. Perlu kita ingat kembali, bahwa tujuan mendirikan koperasi bukan untuk mencari keuntungan. Koperasi karyawan kita dirikan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Semua anggota memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hasil atas berkembangnya usaha bersama ini.”

Bagian Inti
“Bapak dan Ibu, kekeluargaan dan kebersamaan adalah modal utama dalam koperasi ini. Peduli terhadap jalannya usaha koperasi menjadi kewajiban tiap anggota, bukan hanya tugas ketua atau pengurus. Semua memperoleh kesempatan untuk belajar. Secara mandiri kita menetapkan jenis usaha koperasi dan menjalankannya. Pengurus yang melaksanakan, anggota yang mengawasi dan memberi masukan.”

“Keuntungan pribadi tidak diutamakan. Justru melalui koperasi, kita mengasah kepedulian terhadap kebutuhan anggota lain. Sudah lima tahun berjalan, semua keputusan kita tetapkan bersama secara musyawarah. Begitupun dengan keuntungan koperasi di tahun ini. Apakah keuntungan tersebut akan dibagikan kepada anggota atau akan dimasukkan kembali sebagai penambah modal, akan kita diskusikan dalam rapat besar hari ini.” 

“Bapak dan Ibu, rapat besar koperasi tidak hanya untuk anggota, namun terbuka untuk semua. Justru saya ingin semua keluarga besar SD Palapa menyaksikan proses musyawarah ini. Saya ingin semua menyaksikan, bahwa banyak hal yang dapat dipelajari melalui koperasi karyawan. Saya ingin semua merasakan bahwa kesejahteraan bersama dapat diwujudkan melalui kepedulian, kekeluargaan, serta kebersamaan.”

Bagian penutup
“Bapak dan ibu, saya tentu berharap anggota koperasi terus bertambah. Semoga saja, suatu saat nanti keluarga besar SD Palapa lengkap ada di dalamnya. Tak perlu risau memperhitungkan keuntungan pribadi, tetapi, ayo kita berusaha mewujudkan kesejahteraan bersama melalui koperasi.”


Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 121


Tulislah teks pidatomu di bawah ini!

Selamat pagi teman-teman.
Hari ini, saya akan berbicara tentang koperasi sekolah kita. Hal ini penting saya sampaikan, karena jumlah siswa yang berbelanja di koperasi sekolah kita sangat sedikit.

Teman-teman yang saya sayangi, koperasi sekolah ini merupakan sebuah badan usaha yang ada di sekolah kita. Kita deberikan keleluasaan untuk mengelola koperasi ini. Dari sini kita bisa belajar untuk berwirausaha, berinovasi dan berorganisasi.

Selain itu teman-teman, perlengkapan yang dijual di koperasi sekolah kita ini lebih murah jika dibandingkan dengan harga toko. Hal ini tentu bisa membantu teman-teman yang kurang mampu. Dengan adanya perlengkapan sekolah yang murah.

Mengingat banyaknya manfaat yang bisa kita peroleh dari koperasi sekolah kita ini, dalam kesempatan ini saya mengajak teman-teman untuk berbelanja di koperasi sekolah kita. Sehingga, koperasi sekolah kita bisa menjadi semakin maju.


Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 122



Diskusikan jawaban pertanyaan-pertanyaan berikut dengan teman sekelompokmu.

Dari teks pidato di atas, apa yang kamu ketahui tentang koperasi?
Jawaban :
Koperasi merupakan badan usaha yang bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya. Asas dari koperasi adalah kekeluargaan.

2. Nilai-nilai Pancasila apa sajakah yang diterapkan oleh para anggota koperasi?
Jawaban :
Nilai-nilai Pancasila yang diterapkan oleh anggota koperasi
Sila 1 : keanggotaan koperasi secara umum tanpa membedakan agama dan kepercayaan yang dianut. Setiap pelaksanaan kegiatan koperasi juga tidak boleh terlepas dari norma-norma agama yang telah ditetapkan.
Sila 2 : semua anggota koperasi berhak mendapat perlakuan yang sama dan mengesampingkan perbedaan yang ada. Dalam sila kedua ini bersikap adil, menghargai hak dan kewajiban, dan bersikap tenggang rasa perlu diterapkan dalam keanggotaan koperasi.
Sila 3 : anggota koperasi perlu menanamkan sikap rela berkorban, cinta tanah air, dan menjaga persatuan antaranggota koperasi itu sendiri.
Sila 4 : pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat di suatu Rapat Anggota. Sila 5 : koperasi bekerja tidak hanya untuk kepentingan anggotanya saja, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat di sekitar koperasi.


Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 122


Coba, carilah informasi bentuk-bentuk kerja sama dalam bidang pendidikan di ASEAN. Carilah informasi dari buku-buku referensi di perpustakaan sekolahmu. Jika kamu mencari informasi dari internet, mintalah Bapak/Ibu guru mendampingimu.
Jawaban :
Bentuk kerjasama dalam bidang pendidikan di ASEAN

  1. Dibentuknya The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) tanggal 30 November 1965.
  2. Pensinkronisasian standar ijasah antar negara anggota ASEAN.
  3. Peningkatan ilmu pengetahuan kalangan pemuda ASEAN dalam proses integrasi regional.
  4. Pembentukan kelompok peneliti antar negara.
  5. Pertukaran pelajar antar negara anggota.
  6. Peningkatan kualitas sumber daya manusia negara anggota ASEAN agar mampu bersaing baik di tingkat regional maupun internasional.
  7. Pembentukan kurikulum sekolah di negara –negara ASEAN yang berprinsipkan demokrasi, berorientasi pada perdamaian, serta menghargai HAM.
  8. Pembentukan ASEAN University Network (AUN) yang merupakan jaringan kerjasama antar universitas terkemuka di ASEAN. 
  9. Penawaran Beasiswa Pendidikan. contohnya Singapura memberikan beasiswa latihan pengolahan jasa pelabuhan udara,kesehatan dan keselamatan kerja industri,komunikasi bahari dan lain². 
  10.  Negara² ASEAN memanfaatkan beasiswa untuk belajar diberbagai universitas dinegara-negara ASEAN dan Jepang atas biaya yg diberikan oleh ASEAN-Japan Scholarship Fund (Dana Beasiswa ASEAN-Jepang)

Daftar Isi Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7

Jenis-Jenis Karang Panes Dalam Kepercayaan Hindu

Jenis-Jenis Karang Panes Dalam Kepercayaan Hindu - Dalam kepercayaan Hindu di Bali, "karang panes" merupakan pekarangan yang tidak baik untuk dijadikan tempat tinggal. Biasanya orang yang tinggal di karang panes akan mengalami berbagai musibah. Misalkan sering sakit, sering terjadi pertengkaran, rejeki seret, bahkan sampai meninggal. Sehingga orang Bali sangat menghindari karang panes ini.

Jenis-Jenis Karang Panes Dalam Kepercayaan Hindu


Namun, tidak banyak orang yang mengetahui tentang ciri-ciri karang panes. Umumnya mereka mengetahui setelah ada berbagai musibah yang menimpa keluarganya. Berikut ini merupakan jenis-jenis karang panes dalam kepercayaan Hindu.


  1. Karang Karubuhan, merupakan karang yang berhadapan atau berpapasan dengan perempatan, pertigaan, atau persimpangan jalan.
  2. Karang Sandanglawe merupakan pekarangan yang pintu masuk berpapasan dengan pekarangan milik orang lain.
  3. Kuarang Kuta Bande, merupakan pekarangan yang diapit oleh 2 ruas jalan.
  4. Karang Sula Nyupi, merupakan pekarangan yang berpapasan dengan jalan raya numbak marga atau numbak rurung.
  5. Karang Gerah, merupakan pekarangan yang terletak di hulu Pura/Parahyangan.
  6. Karang Tenget, merupakan pekarangan bekas kuburan, bekas pura, atau bekas pertapaan.
  7. Karang Buta Salah Wetu, merupakan pekarangan di mana pernah terjadi kejadian aneh seperti: kelahiran babi berkepala gajah, pohon kelapa bercabang, pisang berbuah melalui batangnya, dan peristiwa yang tidak biasa lainnya.
  8. Karang Boros Wong, merupakan pekarangan yang memiliki 2 pintu masuk sama tinggi dan sejajar.
  9. Sunduk Angga, pekarangan yang dibatasi oleh pagar hidup (tanaman) yang akar-akarnya masuk pekarangan orang lain.
  10. Karang Kalingkuhan, merupakan pekarangan yang dikelilingi tanah atau rumah milik satu orang.
  11. Karang Nanggu, merupakan pekarangan yang ada paling pojok dan di depannya tidak ada rumah lagi.
  12. Karang Kepurwan, merupakan pekarangan yang tanahnya tinggi di bagian timur.
  13. Karang Kelingkuhan Rurung merapakan pekarangan yang dilingkari jalan raya.
  14. Karang Teledu Nginyah, merupakan pekarangan yang diitari oleh jalan melingkat di sekelilingnya.
  15. Karang Manyeleking, merupakan pekarangan rumah yang ada dua jenis tempat merajan/sanggah dari dua jenis keluarga yang berbeda.
  16. Karang Mambu Bengu Alid, Panes Mlekpek, Ocem, Mewarni Ireng, merupakan pekarangan yang tanahnya berbau busuk, amis, kotor, atau berwarna hitam.
Selain jenis karang di atas, ada karang panes yang disebut dengan karang kebaya-baya. Ciri dari pekarangan ini adalah:
  1. Nemu baya (mendapat bahaya)
  2. Toya baya (ada darah yang tiba-tiba muncul di pekarangan)
  3. Lulut baya (banyak ulat yang muncul)
  4. Kelebon amuk (bekas terjadi pertumpahan darah)
  5. Wong baya (tumbuh cendawan di halaman pekarangan)
  6. Bumi sayongan atau panca baya (pekarangan yang ditimpa petir, tiba-tiba muncul asap, dihuni tawon atau lebah yang berdiam diri dalam waktu lama hingga beranak pianak)
Demikian informasi mengenai Jenis-Jenis Karang Panes Dalam Kepercayaan Hindu, semoga bermanfaat.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 2

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 2

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 113


Perhatikan gambar patung di atas.

Siapakah tokoh yang diwujudkan dalam bentuk patung itu?
Jawaban :
Tokoh yang diwujudkan dalam bentuk patung itu adalah ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta

Apa bahan pembuatannya?
Jawaban : Bahan pembuatannya patung ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta adalah batu dan semen

Menurut perkiraanmu, bagaimana cara pembuatan patung itu?
Jawaban : Batu dipahat per bagian patung, kemudian di rekatkan dengan menggunkan semen.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 114


Patung Sigale-gale yang Dapat Menari

Pada zaman dahulu, kerajaan di Samosir dipimpin oleh Raja Rahat. Dia memiliki anak semata wayang bernama Manggale. Suatu saat Raja Rahat meminta anaknya untuk berperang melawan musuh di perbatasan. Manggale pun pergi berperang, tetapi dia tidak pernah kembali. Dia meninggal. Jasadnya tidak pernah ditemukan. Raja Rahat pun sedih hingga jatuh sakit.

Masyarakat setempat ingin menghibur raja. Mereka membuat sebuah patung yang menyerupai Manggale dan menamainya Sigale-gale. Gale dalam bahasa Batak Toba artinya lemas. Pada waktu itu, dukun di sana juga ikut membantu memanggil roh Manggale agar masuk ke dalam patung tersebut, sehingga patung Sigale-gale dapat bergerak-gerak sendiri seperti orang yang sedang menari.

Patung Sigale-gale sampai saat ini masih dapat kita jumpai ketika berkunjung ke Tomok, Pulau Samosir. Hanya saja, dalam pertunjukan tersebut, patung Sigale-gale sudah tidak dimasuki roh lagi. Patung ini dapat bergerak-gerak karena digerakkan dengan penggerak mekanis.
(Sumber : http://bobo.grid.id/Sejarah-Dan-Budaya/ Budaya/Patung-Sigale-Gale-Yang-Bisa-Menari)


Kunci Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 115



Mungkin kamu telah sering melihat berbagai patung, baik secara langsung dari gambar, atau fotonya. Ada berbagai macam patung, tergantung dari tema, bentuk, dan teknik pembuatannya. Carilah informasi mengenai hal-hal berikut.

Ciri-ciri patung
Jawaban :

  1. Berwujud tiga dimensi
  2. Memiliki bagian kop, buste, dan torso


Jenis-jenis patung
Jawaban :

  1. Berdasarkan bentuk : patung figuratif dan patung non figuratif
  2. Berdasarkan jenis : Patung zonde bosse dan Patung Relief
  3. Berdasarkan fungsi : Patung religi, Patung Monumen, Patung Arsitektur, Patung Dekoratif, Patung Seni, dan Patung Karajinan.
  4. Bardasarkan corak : Patung imitatif, Patung depormatif, Patung non figuratif


Bahan pembuat patung
Jawaban :

  1. Batu
  2. Kayu
  3. Besi
  4. Kertas
  5. Kaca
  6. Tanah Liat
  7. Es Balok
  8. Semen
  9. Sabun
  10. Plastisin
  11. Gips
  12. Fiber Resin


Teknik pembuatan patung
Jawaban :

  1. Teknik cor
  2. Teknik assembling
  3. Teknik cetak
  4. Teknik las
  5. Teknik butsir
  6. Teknik pahat

Buatlah rencana pembuatan karya patung dari bahan lunak di sekitarmu. Kamu dapat membuat patung bertema hewan berkaki dua, hewan berkaki empat, atau patung bertema manusia. Lengkapi daftar berikut.

RENCANA PEMBUATAN KARYA PATUNG
Bentuk patung : Katak
Bahan : Sabun
Teknik pembuatan : Pahat
Alat : Cutter
Cara pembuatan :

  1. Kita buat sketsa pada sabun
  2. Dengan menggunakan cutter kita ikuti bentuk sketsa tersebut. Buang bagian yang tidak perlu.
  3. Haluskan patung dari bagian-bagian yang mengganggu.



Kunci Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 116



Perubahan pada Masa Pubertas

Tahapan perkembangan dan pertumbuhan manusia umumnya terbagi menjadi: balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan usia lanjut. Masa remaja merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada awal masa remaja, kita mengalami masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan pada tubuh, baik yang terlihat maupun tidak. Di dalam tubuh, hormon reproduksi mulai dihasilkan. Pada perempuan, hormon ini akan mengakibatkan sel telur matang. Pada laki-laki, hormon reproduksi akan mengakibatkan tubuh memproduksi sel sperma. Jika sel telur dan sel sperma bertemu, dapat terjadi pembuahan dan tumbuh menjadi bayi.

Pada umumnya, pada masa ini kesehatan reproduksi remaja akan memperlihatkan ciri-ciri pubertas. Pada perempuan, dia akan mengalami menstruasi setiap jangka waktu tertentu (umumnya setiap 28 hari sekali). Pada laki-laki, dia akan mengeluarkan sperma.

Ciri-ciri lain ditandai dengan perubahan tubuh yang terlihat. Pada perempuan, misalnya payudara akan tumbuh sebagai persiapan untuk memberikan ASI (air susu ibu) bagi bayinya kelak. Pada laki-laki, otot-otot tubuhnya berkembang lebih besar dan kuat, sehingga diharapkan laki-laki lebih kuat secara fisik untuk melindungi keluarganya.


Kunci Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 117


Persiapan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masa pubertas? Diskusikan bersama kelompokmu.
Jawaban :

  1. Mencari informasi tentang pubertas dan menjaga kesehatan reproduksi.
  2. Mengembangkan hobi dan bakat.
  3. Berfikir dan melakukan hal yang positif.


Bersama kelompokmu, buatlah karya berupa peta pikiran berisi persiapan menghadapi masa pubertas sesuai hasil diskusi kalian. Warnai dan hiasilah peta pikiran itu seindah dan semenarik mungkin.
Jawaban :
Jawaban di atas dibuat dalam bentuk peta pikiran.




Daftar Isi Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 1

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 1

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 105


Apabila kamu ingin menjadi seorang pemimpin, kamu harus tahu siapa dirimu, apa kelebihan dan kekuranganmu. Hal ini akan bermanfaat agar kamu tahu kemampuan apa yang harus kamu kembangkan. Kamu bisa belajar tentang kebutuhan dasar seorang pemimpin dari cerita di bawah ini. Bacalah dalam hati teks berikut ini.

Semut dan Belalang

Di bawah terik matahari, barisan semut berjalan rapi menuju sarang. Sudah puluhan kali barisan ini berjalan bolak-balik di bawah komando sang pemimpin. Setiap semut membawa bulir makanan di atas badannya. Tidak lebih dari satu bulir dapat dibawa semut, hingga tak cukup sekali atau dua kali mereka bolak-balik menuju sarang.

Sementara di antara hijau rumput di pinggir kolam, seekor belalang duduk santai menikmati semilir angin. Terheran-heran ia menyaksikan barisan semut bolak-balik melintas di hadapannya.

“Hai Semut-Semut! Apa sih yang kalian lakukan? Sibuk sekali sejak pagi? Tidakkah mondar-mandir di tengah terik matahari membuat kalian lelah dan berkeringat?” seru Belalang kepada barisan
semut.

“Kami bekerja keras mengumpulkan persediaan makanan untuk musim dingin nanti. Barisan kami
memang panjang, tetapi daya angkut kami tidak banyak. Oleh karena itu, kami harus mondar-mandir”
ujar Komandan Semut menjawab Belalang.

“Haaah? Mengumpulkan makanan untuk musim dingin? Repot sekali! Musim dinginkan masih lama? Sekarang nikmati saja teriknya matahari dan makanan yang berlimpah. Untuk apa sibuk dari sekarang?” ujar Belalang sambil terkekeh menertawakan Semut-Semut.

“Hai Belalang! Harusnya kamu melakukan hal yang sama. Serangga seperti kita harus bersiap-siap menghadapi musim dingin. Nanti, semua tanaman dan sumber makanan lain akan beku tertutup salju. Hembusan angin dingin juga akan membuat kita yang bertubuh kecil sulit keluar sarang untuk mencari makan” balas Komandan Semut.

“Benar Belalang! Harusnya kamu mengumpulkan teman-temanmu untuk bekerja sama mengisi sarang dengan persediaan makanan. Justru karena musim panas masih panjang, kita masih punya banyak waktu untuk mencicil pekerjaan,” Semut kecil menambahkan dari barisan belakang.

“Ah, semua temanku juga sedang bersantai. Terserah kalian sajalah kalau ingin merepotkan diri!” tukasnya.

Begitulah adanya. Sepanjang musim panas barisan Semut sibuk bekerja, sementara Belalang santai bermalas-malasan. Hingga tiba saatnya musim dingin. Semut-semut nyaman bercengkerama di sarangnya yang berlimpah makanan. Bagaimana dengan Belalang? Ia meringkuk kedinginan dan kelaparan di balik dinginnya batu.

Jika demikian, mana yang patut dijadikan teladan? Semut atau Belalang?

ditulis ulang berdasarkan fabel “The Ant and the Grasshopper”.


Jawablah pertanyaan berikut!
Apa yang dilakukan sekelompok Semut? Mengapa mereka harus melakukannya?
Jawaban:
Yang dilakukan oleh sekelompok semut tersebut adalah bekerja keras mengumpulkan persediaan makanan. Mereka harus melakukannya untuk persediaan makanan saat musim dingin.

Bagaimana menurutmu sikap Belalang?
Jawaban:
Sikap belalang tidak baik, dan tidak patut untuk ditiru. Karena sifat pemalas yang dimilikinya ia menjadi menderita.

Bagaimana cara Semut bekerja?
Jawaban:
Semut bekerja bersama-sama dengan membawa bulir makanan di atas badannya. Karena tidak lebih dari satu bulir yang dapat dibawa semut, maka mereka harus bolak-balik menuju sarang.

Nilai-nilai baik apa yang bisa kamu teladani dari cerita di atas?
Jawaban:
Nilai-nilai baik yang bisa diteladani dari cerita di atas yaitu nilai kegotong-royongan, kerja keras, kepemimpinan, persatuan dan kesatuan.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 106


Apa yang bisa kamu pelajari dari cerita tersebut?
Jawaban: 
Yang bisa saya pelajari dari cerita tersebut yaitu:

  1. Kalau kita ingin sukses kita harus bekerja keras dan jangan bermalas-malasan.
  2. Agar pekerjaan yang kita kerjakan lebih mudah dan lebih cepat selesai kita perlu menerapkan kerjasama dan gotong royong.
  3. Agar suatu perkumpulan atau organisasi dapat berjalan dengan baik maka kepemimpinan yang baik sangat diperlukan.
  4. Kita harus mengetahui kekurangan diri kita dan kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita miliki karena kesombongan itu akan menghancurkan kita.
  5. Selain itu kita juga perlu  mendengarkan nasihat serta mempertimbangkan pendapat orang lain.


Seorang pemimpin harus tahu kelebihan dan kekurangan dirinya. Semut mencontohkan kondisi dirinya yang tidak bisa bekerja di musim dingin. Untuk mengatasinya, semut bekerja di musim panas agar mereka tidak kelaparan di musim dingin. Semut tahu kelebihan dan kekurangannya. Ia tidak sombong. Nilai-nilai itulah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Apakah kamu tahu kelebihan dan kekurangan dirimu? Ayo, isi diagram berikut!


Kelebihanku Kekuranganku
Saya merupakan orang yang memiliki keingintahuan yang tinggi. Setiap ada pengetahuan baru yang disampaikan oleh guru saya sangat tertarik. Kadang-kadang saya juga mencari pembelajaran yang diberikan oleh guru tersebut di internet, sehingga wawasan saya lebih bertambah. Saya terkadang ceroboh dan pelupa.

Apa yang akan aku lakukan dengan kelebihan dan kekuranganku?
Jawaban :
Saya akan menggunakan kelebihan yang saya miliki untuk mencapai cita-cita. Sedangkan saya akan berusaha untuk mengatasi kekurangan yang saya miliki dengan cara membuat catatan-catatan penting agar tidak mudah lupa.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 107


Menyadari kekurangannya, Semut hidup dengan bergotong royong. Mereka sadar bahwa tidak mungkin dapat mengumpulkan makanan tanpa bekerja sama. Catatlah beberapa kegiatan yang membutuhkan gotong royong di sekolahmu. Bandingkan hasilnya dengan teman sebelahmu.

Kegiatan di sekolah yang membutuhkan gotong royong:

  1. Melaksanakan tugas piket membersihkan ruangan kelas, alasan: karena kebersihan ruang kelas merupakan tanggung jawab bersama, selain itu kalau dilakukan secara bergotong royong pekerjaan akan lebih cepat selesai dan akan terasa lebih ringan.
  2. Membuat majalah dinding sekolah, alasan: jika dikerjakan dengan gotong royong, majalah dinding sekolah akan menjadi lebih kreatif karena merupakan hasil gabungan dari berbagai ide.
  3. Menanam bunga di taman sekolah, alasan: karena sekolah akan menjadi indah dan asri.
  4. Membersihkan tempat ibadah, alasan: jika tempat ibadah bersih, maka kita dapat beribadah dengan tenang dan nyaman.
  5. Bergotong-royong membantu mengumpulkan sumbangan untuk menengok teman yang sedang sakit, alasan: menunjukkan rasa persatuan dan memberikan doa serta dukungan agar teman yang sedang sakit segera sembuh.
  6. Gotong royong melaksanakan upacara bendera, alasan: karena upacara bendera memerlukan banyak petugas upacara.


Sejahtera Bersama Koperasi

Secara sukarela, sebagian besar guru dan karyawan di SD Palapa menjadi anggota koperasi karyawan. Koperasi ini didirikan sejak lima tahun yang lalu. Terasa benar oleh mereka manfaat menjadi anggota koperasi ini. Sebagian guru dan karyawan yang memiliki usaha kecil, dapat bekerja
sama dengan unit usaha koperasi untuk mengembangkan usaha mereka. Sebagian lagi merasakan manfaat dari unit simpan pinjam.

Pada akhir tahun diadakan rapat anggota koperasi. Seluruh guru dan pegawai SD Palapa hadir. Pada rapat ini, Pak Badru selaku Ketua Koperasi periode 2012 sampai 2014 akan memaparkan pencapaian selama setahun, sekaligus membuka penerimaan anggota baru.

“Bapak dan Ibu Guru serta seluruh karyawan SD Palapa yang saya hormati. Tidak terasa, sudah satu tahun saya menjalankan kepercayaan dari Bapak dan Ibu untuk memimpin koperasi karyawan kita.”

“Sudah beberapa tahun kita bersama-sama merasakan manfaat organisasi kecil kita ini.”

“Perlu kita ingat kembali, bahwa tujuan mendirikan koperasi bukan untuk mencari keuntungan. Koperasi karyawan kita dirikan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Semua anggota memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hasil atas berkembangnya usaha bersama ini.”

“Bapak dan Ibu, kekeluargaan dan kebersamaan merupakan modal utama dalam koperasi ini. Peduli terhadap jalannya usaha koperasi menjadi kewajiban tiap anggota, bukan hanya tugas ketua atau pengurus. Semua memperoleh kesempatan untuk belajar. Secara mandiri kita menetapkan jenis usaha koperasi dan menjalankannya. Pengurus yang melaksanakan, anggota yang mengawasi dan memberi masukan.”

“Keuntungan pribadi tidak diutamakan. Justru melalui koperasi, kita mengasah kepedulian terhadap kebutuhan anggota lain. Sudah lima tahun berjalan, semua keputusan kita tetapkan bersama secara musyawarah. Begitu pun dengan keuntungan koperasi di tahun ini. Apakah akan dibagikan kepada anggota atau akan dimasukkan kembali sebagai penambah modal, akan kita diskusikan dalam rapat besar hari ini.”

“Bapak dan Ibu, rapat besar koperasi tidak hanya untuk anggota, namun terbuka untuk semua. Justru saya ingin semua keluarga besar SD Palapa menyaksikan proses musyawarah ini. Saya ingin semua menyaksikan, bahwa banyak hal yang dapat dipelajari melalui koperasi karyawan. Saya ingin semua merasakan bahwa kesejahteraan bersama dapat diwujudkan melalui kepedulian, kekeluargaan, serta kebersamaan.”

“Bapak dan Ibu, saya tentu berharap anggota koperasi terus bertambah. Semoga saja, suatu saat nanti keluarga besar SD Palapa lengkap ada di dalamnya. Tak perlu risau memperhitungkan keuntungan pribadi, tetapi, ayo kita berusaha mewujudkan kesejahteraan bersama melalui koperasi.”

Suasana hening sejenak, sebelum gemuruh tepuk tangan menyambut pidato Pak Badru. Di dalam hati, semua mengangguk setuju. Kesejahteraan bersama merupakan tanggung jawab semua.



Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 109

Baca sekali lagi isi pidato Pak Badru. Tuliskan pesan-pesan yang kamu temukan!
Pesan-pesan yang saya temukan  dari pidato Pak Badru yaitu:


  1. Tujuan mendirikan koperasi bukan untuk mencari keuntungan tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.
  2. Semua anggota memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati keuntungan koperasi
  3. Modal utama dalam menjalankan koperasi adalah kekeluargaan dan kebersamaan
  4. Jalannya usaha koperasi bukan hanya tugas ketua atau pengurus tetapi merupakan kewajiban tiap anggota
  5. Koperasi dapat mengasah kepedulian terhadap kebutuhan anggota lain.
  6. Semua keputusan dalam koperasi ditetapkan bersama secara musyawarah.


Isi teks sebelumnya adalah tentang koperasi dan kepemimpinan Pak Badru. Pak Badru mengedepankan musyawarah dan gotong royong serta kepentingan anggotanya.

Pidato Pak Badru di dalam teks sungguh menggugah. Bisakah kamu membuat teks pidato seperti itu?

Kamu bisa merancang teks terlebih dahulu sebelum dijadikan sebagai teks pidato. Dengan topik ‘Bermusyawarah untuk Kepentingan Bersama’, buatlah rancangan teks pidato untuk disampaikan di depan teman kelasmu. Rancangan berisi tentang pentingnya bemusyawarah.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 111

Buatlah rancangan teks pidatomu dalam kotak berikut.


Contoh Pidato Bermusyawarah Untuk Kepentingan Bersama

Selamat Pagi,

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah, yang saya hormati Bapak dan Ibu Guru, serta teman-teman yang saya sayangi. Puji syukur kita panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya, kita semua dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat.

Hadirin yang saya hormati,
Sila keempat Pancasila yang berbunyi "Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan". Dalam sila tersebut, salah satu nilai yang diharapkan kita lakukan adalah musyawarah. Bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah, bermusyawarah dalam merencanakan suatu kegiatan, maupun bermusyawarah dalam memilih pemimpin kita.

Selama ini, banyak permasalahan terjadi di lingkungan kita. Salah satunya yang sering terjadi adalah pertengkaran siswa. Masalah tersebut muncul karena kita kurang bermusyawarah.

Hadirin yang saya hormati,
Musyawarah sangat penting bagi kehidupan kita di sekoah ini. Banyak hal yang bisa kita dapatkan. Melalui musyawarah kita dapat bersatu. Kita dapat belajar menyampaikan pendapat kita. Kita dapat belajar menerima pendapat orang lain. Kita bisa belajar terbuka.

Hadirin yang saya hormati,
Mengingat begitu pentingnya musyawarah, dalam menjaga kerukunan dan persatuan di sekolah kita, dalam kesempatan ini saya mangajak teman-teman untuk selalu mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan suatu masalah.

Terima kasih.

Daftar Isi Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7

Godaan Bayi Baru Lahir Dalam Ajaran Agama Hindu

Bayi yang baru lahir seringkali menangis atau tertawa sendiri. Orang Bali, percaya bahwa bayi tersebut digoda oleh Dewa maupun dari Sang Catur Sanak si bayi. Berikut kita akan membahas tentang godaan bayi baru lahit dalam ajaran Agama Hindu.

Godaan Bayi Baru Lahir Dalam Ajaran Agama Hindu


Ketika bayi baru lahir, dalam satu minggu pertama bayi akan diganggu oleh para Dewa. Dalam kepercayaan Agama Hindu, Sang Hyang Siwa akan mengutus Dewa-Dewa untuk menggoda sang bayi. Berikut merupakan daftar Dewa yang menggoda bayi yang berumur satu minggu.


  1. Malam pertama yang datang untuk menggoda sang bayi adalah Bhatara Khala. Beliau datang dengan perwujudan "Asu Ajag". Kedatangannya ketika matahari terbenam (sandi kala). "Asu Ajag"tersebut akan datang dan menjilat-jilat si bayi. Jika bayi terkejut, maka dia akan menangis menjadi-jadi (kakab-kakab)
  2. Malan kedua yang datang untuk menggoda sang bayi adalah Dewa Brahma. Beliau datang dengan berwujud sapi. Dia akan datang menggoda dengan menjilat-jilat si bayi saat semua orang tertidur. Bila si bayi terkejut, maka dia akan menangis.
  3. Malam ketiga yang datang adalah Bhatara Wisnu. Beliau datang dengan perwujudan seperti celeng. Beliau datang saat tengah malam dan menjilati si bayi. Bila si bayi terkejut dan takut, maka dia akan menangis.
  4. Malam keempat atau yang sering disebut dengan peteng bengi, akan datang Bhatara Guru yang berwujud burung perkutut. Selanjutnya, secara berturut-turut datang Bhatara Mahadewa dengan berwujud kambing, Bhatara Yama yang datang berwujud shanggira, Bhatara Kuwera datang berwujud tikus, Bhatara Pritanjala datang berwujud burung emprit, Bhatara Lungsur datang berwujud manjangan, Bhatara Ludra datang berwujud Sapi Nandini, Bhatara Surya datang berwujud ular, dan Bhatara Chandra datang bwrsujud kucing.
Ketika digoda, bayi akan terkejut dan menangis. Namun, jika bayi tidak takut atau terkejut dan malah senang, maka dia akan tersenyum-senyum, kadang tertawa-tawa, atau tampak berbicara sendiri (makeengan).

Setelah kepus puser (seminggu setelah kelahiran si bayi), godaan akan datang lebih besar lagi. Yang datang menggoda bukan berasal dari Dewa lagi. Yang datang saat itu adalah para lelembut, roh halus, wong samar, dan gumatat-gumitit.

Namun, jangan takut. Meskipun yang datang adalah para lelembut, roh halus, wong samar, dan gumatat-gumitit tersebut merupakan perwujudan dari Catur Sanak si bayi sendiri. Catur Sanak dari si bayi meliputi:
  1. Kutilapas kethek (lutung), merupakan perwujudan dari bungkus/lamas
  2. Celeng demalung, merupakan perwujudan dari yeh nyom/ketuban
  3. Asu Ajag merupakan perwujudan dari ari-ari
  4. Kalsrenggi (banteng) merupakan perwujudan dari getih/darah
  5. Kalamurti (kebo) merupakan perwujudan dari puser/udel
  6. Kalarandin (menjangan) merupakan perwujudan dari ilu/idu/air liur
  7. Kralawelakas (kidang) merupakan perwujudan dari kunir/kunyit
  8. Tikus Jinada merupakan perwujudan dari ceplekaning ari-ari
  9. Taliwangke merupakan perwujudan dari usus ing ari-ari
Begitulah dalam ajaran agama hindu, seorang bayi mulai dari hari kelahiran sampai dengan tutug kambuhan, bulan pitung dina atau empat puluh dua hari akan selalu digoda oleh para Dewa dan saudara-saudaranya.

Sumber : Mantram Hindu

Gubernur Bali Mengeluarkan Pergub Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali

Gubernur Bali, I Wayan Koster sangat perduli terhadap pelayanan kesehatan tradisional Bali. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Peraturan Bali Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali. Dengan adanya Pergub ini, pengobatan tradisonal Bali mendapat perlindungan hukum dalam pengembangan dan pemanfaatannya.

Pergub Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali


Tujuan dari dikeluarkan Pergub ini adalah:


  1. memberikan kepastian dan perlindungan hukum kepada Penyehat Tradisional, Pengusada, Tenaga Kesehatan, Klien/Pasien dan masyarakat;
  2. penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali yang terstandar;
  3. perlindungan dan pengembangan Pengobatan Tradisional Bali;
  4. pembinaan dan pengawasan Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali secara berjenjang oleh pemerintah daerah;
  5. penerapan, penelitian, dan pengembangan Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali;
  6. peningkatan mutu penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali;
  7. penjaminan keamanan penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali yang menggunakan bahan dan/atau alat kesehatan tradisional; dan
  8. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali.
Dengan Pergub ini, diharapkan mampu untuk meningkatkan kualitas kesehatan krama Bali, sebagai bagian dari kearifan lokal jana kertih (upaya untuk menjaga kualitas individu).

Pengobatan Tradisional Bali mengacu pada tradisi, pengalaman, keterampilan turun-temurun masyarakat Bali, baik yang belum tercatat maupun yang telah terliterasi dalam lontar usada dan atau pendidikan/pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat Bali.

Pengobatan Tradisional Bali mempunyai ciri khas meliputi:
  1. berkonsep Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali;
  2. berakar budaya Bali dan/atau kearifan lokal/lontar usada;
  3. prosedur penetapan kondisi kesehatan Klien/Pasien ditetapkan dengan mengacu pada lontar usada sebagaimana tercantum pada Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini;
  4. mengacu pada Tata Laksana Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali; dan
  5. menggunakan alat dan teknologi kesehatan tradisional yang sesuai dengan keilmuannya.
Pengobatan Tradisional Bali diselenggarakan melalui Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali.

Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali harus memenuhi kriteria yang meliputi:
  1. dapat dipertanggungjawabkan keamanan dan manfaatnya mengikuti kaidah-kaidah ilmiah bermutu dan digunakan secara rasional dan tidak bertentangan dengan norma agama dan norma yang berlaku di masyarakat;
  2. tidak membahayakan kesehatan Klien/Pasien;
  3. memperhatikan kepentingan terbaik Klien/Pasien;
  4. memiliki potensi pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, penyembuhan, pemulihan kesehatan, dan meningkatkan kualitas hidup Klien/Pasien secara fisik, mental, ciri dan spiritual; dan
  5. tidak bertentangan dengan program pemerintah dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Konsep Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali sebagaimana dimaksud meliputi:
  1. adanya gangguan kesehatan individu disebabkan oleh ketidakseimbangan/harmoni bhuana alit (tubuh manusia) dengan bhuana agung (lingkungan alam semesta), unsur fisik, mental, sosial, spiritual, dan budaya;
  2. manusia memiliki kemampuan beradaptasi dan penyembuhan diri sendiri (self healing); dan
  3. penyehatan dilakukan dengan pendekatan holistik (menyeluruh) dan alamiah yang bertujuan untuk menyeimbangkan kembali antara kemampuan adaptasi dengan penyebab gangguan kesehatan.
Pelayanan Kesehatan Tradisional dapat dilaksanakan oleh Pengusada dan Tenaga Kesehatan Tradisional yang memiliki sertifikat kompetensi. Sertifikat kompetensi sebagai Pengusada diberikan oleh Gotra Pengusada. Sertifikat kompetensi sebagai Tenaga Kesehatan Tradisional diberikan oleh asosiasi yang menaunginya. Pengusada dan Tenaga Kesehatan Tradisional sebagaimana dimaksud wajib menjadi anggota asosiasi profesi.

Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali dikelompokkan berdasarkan cara pelayanannya, terdiri atas:
  1. keterampilan;
  2. ramuan; dan
  3. kombinasi dengan memadukan antara penggunaan ramuan dan keterampilan.
Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali yang menggunakan keterampilan sebagaimana dimaksud terdiri atas: teknik manual, teknik energi ,dan teknik olah pikir.

Jenis Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali meliputi:
  1. Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali Empiris;
  2. Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali Komplementer; dan
  3. Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali Integrasi.
Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali Empiris adalah penerapan pengobatan tradisional Bali yang manfaat dan keamanannya terbukti secara empiris.

Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali Komplementer adalah penerapan pengobatan tradisional Bali yang memanfaatkan ilmu biomedis dan biokultural dalam penjelasannya serta manfaat dan keamanannya terbukti secara ilmiah.

Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali Integrasi adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang mengkombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali komplementer, baik bersifat sebagai pelengkap atau pengganti.

Selengkapnya mengenai Gubernur Bali Mengeluarkan Pergub Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali bisa diunduh melalui link berikut.

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 2 Pembelajaran 6

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Subtema 2 Pembelajaran 6

Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7 Halaman 100-102

EVALUASI

Tulislah satu orang pemimpin yang kamu kenal. Sebutkan nilai-nilai kepemimpinan yang dimilikinya (paling sedikit tiga), contoh kegiatannya, serta manfaatnya bagi orang-orang di sekitarnya.
Jawaban:
Satu orang pemimpin yang saya kenal adalah Bapak saya. Nilai-nilai kepemimpinan yang dimilikinya yaitu: keteladanan, kedisiplinan, kerja keras, bijaksana, tenggang rasa

Contoh kegiatannya:

  1. Setiap hari memberi teladan kepada anak-anaknya mulai dari bangun pagi, sebelum bekerja selalu berdoa.
  2. Melakukan sesuatu selalu disiplin dan tepat waktu
  3. Tidak pernah mengeluh, dan selalu bekerja keras untuk menafkahi keluarga
  4. Jika anak-anaknya mengeluh terhadap sesuatu, beliau selalu memberikan nasihat yang bijaksana.
  5. Jika ada tetangga yang memerlukan bantuan, beliau selalu ringan tangan untuk membantu.

Manfaat bagi orang-orang di sekitarnya:

  1. Karena Bapak selalu memberi teladan, anak-anak mejadi terbiasa mengikuti keteladanan dan kedisiplinan Bapak. Sehingga suasana rumah menjadi tertib dan teratur.
  2. Kerja keras Bapak menyebabkan semua anak-anaknya dapat bersekolah.
  3. Kebijaksanaan Bapak membuat keluarga menjadi damai.
  4. Karena tenggang rasa yang dimiliki oleh beliau, Bapak menjadi orang yang dihormati dan disegani oleh para tetangga.


Isilah diagram Frayer di bawah ini untuk menunjukkan pemahamanmu tentang kepemimpinan.

KEPEMIMPINAN YANG BAIK:

Contoh Kepemimpinan yang Baik
Jawaban:

  1. Seorang kepala desa yang ketika bawahan mengalami kesulitan dalam pekerjaan, mau membantu dan ikut memikirkan solusi yang terbaik.
  2. Seorang dokter yang ketika pasiennya mengeluh mengenai sakit yang dimiliki, dokter tersebut mampu menenangkan dan memberikan penjelasan dengan sabar.


Ciri-Ciri Kepemimpinan yang Baik
Jawaban:
Seorang pemimpin yang baik memiliki nilai melayani, disiplin, rendah hati dan bekerja sepenuh hati, mau terus belajar dari siapa saja, memikirkan kepentingan orang lain, dan mampu berkomunikasi dengan baik.

Pengertian Kepemimpinan yang Baik
Jawaban:
Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa pengikutnya mencapai suatu tujuan tertentu. Pemimpin tidak akan pernah bisa mencapai tujuannya apabila tidak bisa bekerja sama.

Contoh Kepemimpinan yang Kurang Baik
Jawaban:

  1. Seorang pemimpin yang hanya bisa memerintah dan memberikan tugas, kemudian tinggal menagih hasilnya saja.
  2. Seorang pemimpin yang jarang menghargai pendapat orang lain. Tak mau memberi kesempatan pada anggotanya untuk menyampaikan gagasan maupun ide


Tuliskan berbagi kegiatan yang menunjukkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan. Tuliskan paling sedikit lima jenis kegiatannya.
Jawaban:

  1. Membantu tetangga yang terkena musibah
  2. Bergotong royong membersihkan lingkungan
  3. Menjenguk teman atau tetangga yang sedang sakit
  4. Bekerja sama dalam menjaga keamanan lingkungan misalnya dengan melakukan ronda
  5. Melakukan berbagai lomba dalam rangka perayaan hari kemerdekaan.


Tuliskan tiga cara untuk menjaga persatuan dan kesatuan.
Jawaban:

  1. Menghormati hak-hak orang lain
  2. Menghargai pendapat orang lain
  3. Tidak mengadu domba teman
  4. Tidak melakukan kecurangan dalam segala hal
  5. Tidak mengejek atau membully orang lain
  6. Tidak mengganggu orang yang sedang melaksanakan ibadah


Apa keunikan tari Zapin dari Aceh?
Jawaban:
Keunikan tari zapin yaitu tarian ini berasal dari Arab. Di Indonesia tarian ini mendapat sentuhan budaya Indonesia sehingga tarian ini merupakan hasil akulturasi budaya antara Arab dan Indonesia.

Bagaimana sikapmu jika pada saat berdiskusi, ada perbedaan pendapat dengan temanmu?
Jawaban: 
Menghargai pendapat teman tersebut dengan cara memberikan kesempatan untuk berpendapat. Jika pendapat kita berbeda, kita harus menjelaskan pendapat kita dengan cara yang sopan dan tidak menyinggung perasaan orang lain.

Daftar Isi Jawaban Tematik Kelas 6 Tema 7