Mengatasi "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster

Mengatasi Situs ini tidak dapat dijangkau - Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami kendala saat mengakses beberapa situs milik google. Contohnya adalah Situs ini tidak dapat dijangkau,Alamat IP server www.google.com tidak dapat ditemukan, ataupun DNS_PROBE_FINISHED_NXDOMAIN. Permasalahan tersebut juga sering saya alami. Terutama saat mengakses google webmaster dan google adsanse.

Penyebab "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster


Permasalahan "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster sampai saat ini belum saya ketahui. Biasanya saya mengalami permasalahan tersebut saat mengakses dengan menggunakan laptop yang internet berasal dari theatring melalui HP. Perkiraan awal saya adalah karena koneksi internet yang lambat.


Mengatasi "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster


Saat dicari di google, ternyata belum belum ada blog yang membahas masalah ini. Karenanya saya merasa kebingungan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Akhirnya yang saya lakukan adalah mengakses google adsanse dan google webmaster melalui smartphone saya. Dan ini berhasil dengan baik.

Karena merasa kerepotan mengakses dua situs tersebut melalui smartphone, saya pun mencoba-coba beberapa cara. Mulai dari mengganti DNS, sampai membersihkan chache browser saya. Dan usaha ini pun masih tidak berhasil.

Akhirnya, tanpa sengaja saya berhasil menemukan cara Mengatasi "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster. Berikut merupakan cara Mengatasi "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster.

Langkah 1
Buka Google Adsanse atau Google Webmaster.

Langkah 2
Kalau muncul warning "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau", silakan klik Coba jalankan Diagnostik Jaringan Windows.

Perhatikan gambar berikut!

Mengatasi "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster


Langkah 3
Tunggu beberapa saat, sampai google selesai melakukan diagnostik jaringa.

Langkah 4
Setelah selesai, biasanya situs tersebut akan langsung terbuka. Jika tidak terbuka, kita bisa reload situs itu.

Demikianlah Mengatasi "Situs Ini Tidak Dapat Dijangkau" Pada Google Adsanse dan Google Webmaster. Semoga bermanfaat.

Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean Berhadiah 100 Juta

Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean Berhadiah 100 Juta - Badan Bahasa dan Sastra Sabah, Komunitas Puisi Esai Indonesia menyelenggarakan Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean Berhadiah 100 Juta. Lomba ini boleh diikuti oleh warga dari negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand.

Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean Berhadiah 100 Juta


Tema Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean


"Potret Batin Hubungan Kemanusiaan Asean"


Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean



  1. Terbuka untuk umum
  2. Panjang puisi esai yang dibuat minimal 2000 kata
  3. Puisi esai minimal disertai minimal 10 catatan kaki
  4. Puisi menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu
  5. Naskah dikirimkan dalam bentuk softcopy ke email panitia yaitu : puisiesai.asean@gmail.com
  6. Naskah yang dikirimkan harus asli dan belum pernah dipublikasi.
  7. Puisi esai harus sesuai dengan tema lomba
  8. Setiap naskah puisi esai disertai dengan biodata dan copy ID peserta
  9. Boleh mengirimkan lebih dari satu judul.
  10. Keputusan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
  11. Naskah ditunggu hingga tanggal 30 Januari 2019

Hadiah Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean



Semua pemenang mendapatkan sertifikat.
Semua pemenang hadiah utama diundang menghadiri puncak acara Festival Penulis Sabah di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia pada bulan April 2019.

Hadiah Utama Satu : 1 Orang Rp. 25 juta
Hadiah Utama Dua : 1 Orang Rp. 20 juta
Hadiah Utama Tiga : 1 Orang Rp. 15 juta
(Semua hadiah utama mendapat tiket pesawat PP Kinabalu)

Hadiah puisi esai pilihan, 7 orang masing-masing Rp. 5 juta

Contoh Puisi Esai Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean Berhadiah 100 Juta


Berikut merupakan contoh puisi esai yang bisa digunakan sebagai acuan dalam menulis puisi esai.
  1. Jiwa yang Berzikir
  2. Kemilau Satu Langit
  3. Lahirnya Angkatan Puisi Esai
  4. Antopologi 50 Puisi Esai
Untuk melihat koleksi puisi esai yang lain, bisa bergabung di grup facebook https://web.facebook.com/groups/163866001106512/

Demikian informasi mengenai Lomba Menulis Puisi Tingkat Asean Berhadiah 100 Juta. Semoga bermanfaat.

Daftar Hari Libur Nasional Dan Cuti Bersama Tahun 2019

Daftar Hari Libur Nasional Dan Cuti Bersama Tahun 2019 - Hari libur atau cuti bersama merupakan hari yang ditunggu oleh semua orang. Di mana saat itu, kita bisa berkumpul dengan keluarga dan saudara. Terkadang, hari libur nasional dan cuti bersama dimanfaatkan oleh orang-orang untuk berlibur.

Daftar Hari Libur Nasional Dan Cuti Bersama Tahun 2019



Di tahun 2019, ada sekitar 20 kali (16 hari libur nasional dan 4 hari cuti bersama) hari libur dan cuti bersama. Data ini berdasarkan pada surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri yaitu Meneteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Menteri Agama, serta Menteri Ketenaga Kerjaan.

Daftar Hari Libur Nasional Tahun 2019


  • 1 januari 2019 : Tahun Baru 2019
  • 5 Pebruari 2019 : Tahun Baru Imlek
  • 7 Maret 2019 : Hari Raya Nyepi
  • 3 April 2019 : Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW
  • 19 April 2019 : Wafat Isa Al Masih
  • 1 Mei 2019 : Hari Buruh Internasional
  • 19 Mei 2019 : Hari Raya Waisak
  • 30 Mei 2019 : Kenaikan Isa Al Masih
  • 1 Juni 2019 : Hari Lahirnya Pancasila
  • 5-6 Juni 2019 : Hari Raya Idul Fitri
  • 11 Agustus 2019 : Hari Raya Idul Adha
  • 17 Agustus 2019 : Hari Kemerdekaan Indonesia
  • 1 September 2019 : Tahun Baru Hijriah
  • 9 Nopember 2019 : Maulid Nabi Muhammad SAW
  • 25 Desember 2019 : Hari Raya Natal

Daftar Hari Cuti Bersama Tahun 2019



  • 3, 4, dan 7 Juni 2019 : Hari Raya Idul Fitri
  • 24 Desember 2019 : Hari Raya natal
Untuk lebih jelas, berikut saya lampirkan Surat Keputusan Tiga Menteri mengenai Daftar Hari Libur Nasional Dan Cuti Bersama Tahun 2019.

DOWNLOAD SKB TIGA MENTERI TENTANG HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2019.

Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark

Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark - PT Kuark Internasional dalam menyambut hari guru tahun 2018, menyelenggarakan Kontes Foto Guru 2018. Kontes ini bertajuk Guru Baik Anak Hebat.

Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark



Tantangan:
Bagaimana Guru melatih siswa mengatasi krisis yang dihadapi melalui pendidikan?

Peserta Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark


Lomba ini boleh diikuti oleh SEMUA GURU SD/MI di Indonesia

Periode Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark


Periode lomba ini adalag dari 16 Oktober - 30 November 2018


Ketentuan Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark


Buat sebuah rencana pembelajaran dengan menggunan salah satu dari topik berikut ini:

  1. Penanggulangan bencana (bencana alam, kebakaran, dll) 
  2. Pendidikan anti tindak kekerasan (bullying) 
  3. Kepedulian terhadap keselamatan
Post foto kegiatan pembelajaran di Instagram atau Facebook, lalu tag dan mention @Kuark (IG) atau Komik Sains Kuark (FB) dan sertakan hashtag #GuBAH kemudian kirim via email ke kuis@komikuark.net. Tag juga 5 orang teman.

Hadiah Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark

Pemenang lomba akan memperoleh hadiah seperti berikut ini.

  1. 5 Pemenang Favorit Hari Guru @ 1 action camera (karya harus dikirim dan di posting sebelum 20 Nopember 2018)
  2. 3 Pemenang Utama @ Rp. 1.000.000
  3. 25 Pemenang Harapan @ Rp. 500.000
  4. 1 Juara Favorit Umum @ Rp. 500.000

Pengumuman Kontes Foto Guru 2018 Guru Baik Anak Hebat Kuark


Pemenang akan diumumkan pada 15 Desember 2018


Unduh Contoh Rencana Pembelajaran

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik
http://www.komikuark.net/v2/detail-berita/20181011143222/Guru-Baik--Anak-Hebat-(GuBAH)

Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta

Lomba Menggambar 2019 - PT Toyota Astra Motor (TAM), Jakarta menyelenggarakan lomba menggambar dengan tajuk "Toyota Dream Car Art Contest (TDCAC)". Lomba ini terbuka untuk anak-anak dari seluruh dunia.

Lomba Menggambar 2019



Berikut ini merupakan ketentuan Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta.

Tema Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta


"Mobil masa depan impianmu"

Waktu Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta


Karya harus dikumpulkan paling lambat 31 Januari 2019 (cap pos)

Kategori Usia Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta


  1. Di bawah usia 8 tahun (untuk anak berusia 7 tahun dan lebih muda dari 7 tahun)
  2. Anak usia 8-11 tahun
  3. Anak berusia 12-15 tahun 

Usia tersebut terhitung per 31 Januari 2019.

Hadiah Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta



  1. Akan dipilih juara 1-3 di masing-masing kategori, sehingga akan ada 9 orang pemenang.
  2. Juara 1 : Rp. 10 juta, Juara 2 : Rp. 7 juta, dan Juara 3 : Rp. 5 juta untuk masing-masing kategori.
  3. Pemenang akan berkesempatan mewakili Indonesia ke Jepang dalam ajang Toyota Dream Car Art Contest di tahun 2019.
  4. Panitia akan melakukan verivikasi terhadap keaslian karya yang dikirimkan.

Cara Mengikuti Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta




  1. Mengisi formulir pendaftaran lomba. Formulir bisa didownload di sini.
  2. Gambarlah mobil impianmu di masa depan pada selembar kertas A3.
  3. Warna kertas yang digunakan meggambar bebas.
  4. Gambar boleh dibuat landscape maupun portrait.
  5. Gambar yang dibuat harus berwarna.
  6. Seluruh kertas harus penuh teriisi warna.
  7. Alat mewarnai yang digunakan harus secara manual (pensil warna, crayon, cat air, spidol, dan lain-lain). Tidak diperkenankan mewarnai dengan aplikasi digital.
  8. Karya merupakan hasil karya sendiri (perorangan), bukan kelompok.


Pengiriman Lomba Menggambar 2019 Toyota Dream Car Art Contest Berhadiah Ratusan Juta


Kirimkan gambar dan formulir pendaftaran ke alamat di bawah ini.
PANITIA TDCAC
PT. Toyota-Astra Motor, Head Office Lantai 5
Jl. Laksamana Yos Sudarso, Sunter II, Jakarta Utara 14330
Kontak yang bisa dihubungi
081296358862 (advisor TDCAC)

Informasi lebih lanjut silakan klik
https://www.toyota.astra.co.id/tdcac/

Beasiswa Santri Periode November-Desember Tahun 2018

Beasiswa Santri Tahun 2018 - Berikut ini akan saya bagikan informasi beasiswa santri tahun 2018. Postingan ini terdiri atas syarat beasiswa santri 2018, proses seleksi beasiswa santri 2018, komponen pembiayaan beasiswa santri 2018.

Beasiswa Santri Tahun 2018



Beasiswa Santri 2018 merupakan program pemerintah melalui LPDP yang bertujuan untk membantu Santri untuk menempuh pendidikan magister dan doktoral. Di tahun 2018, jumlah Santri yang akan diberikan beasiswa sebanyak 100 orang.

1. Syarat Pendaftaran Beasiswa Santri Tahun 2018


1.1 Sasaran

  1. Santri aktif, Pendidik(Ustadz/Ustadzah) dan/atauTenagaKependidikandi PondokPesantrenminimal 3 (tiga) tahunterakhir;
  2. Alumni Program BeasiswaSantriBerprestasi(PBSB) yang padasaatmendaftaraktifdalampengembanganPondokPesantrenminimal 3 (tiga) tahunterakhir

1.2 KriteriaPesantren

Pondokpesantrenadadi list Kemenag;

1.3 MelampirkanSurat:

  1. Surat keterangan santri mukim atau aktif dalam pengembangan pesantren minimal 3 tahun dan surat rekomendasi dari pimpinan pondok pesantren
  2. Surat kesediaan mengabdi di pondok pesantren setelah menyelesaikan studi selama 2n+1
  3. Dokumenkelengkapanlainnya

1.4 Usia

S2 maksimum 42 tahun
S3 maksimum 47 tahun

2. Proses Seleksi Beasiswa Santri Tahun 2018


1. Seleksi Administrasi

  1. Waktu: 15 November –31 Desember 2018
  2. Online melalui website https://www.lpdp.kemenkeu.go.id

2. Seleksi Berbasis Komputer

Waktu: 7 –18 januari2019

3. Seleksi Substansi

Waktu: 4 –23 Februari 2019
Keterampilan berkomunikasi melalui LGD (Leaderless Group Discussion)
Wawancara (menggunakan aplikasi IT)

4. Pendaftaran(DN/LN)

15 November –31 Desember2018

3. Komponen Pembiayaan Beasiswa Santri Tahun 2018


1. LIVING ALLOWANCE

  1. Biaya Hidup Bulanan; dan
  2. Biaya Transportasi Keberangkatan dan kepulangan ke Provinsi Asal

2. BIAYA PENDIDIKAN

  1. Biaya Program PersiapanStudi;
  2. Biaya Pendaftaran;
  3. Biaya SPP (termasuk matrikulasi), dan
  4. Biaya Non-SPP yang dapat digunakan untuk buku, tesis, seminar, publikasi dan jurnal internasional.

3. BIAYA PENDUKUNG

  1. Biaya program pengayaan bahasa
  2. Biaya transportasi keberangkatan dan kepulangan studi dari domisili asal ke PerguruanTinggi tujuan;
  3. Biaya visa, termasuk paspor;
  4. Biaya kedatangan (settlement allowance);
  5. Biaya hidup bulanan (living allowance);
  6. Tunjangan keluarga (untuk Program Doktoral);
  7. Biaya asuransi kesehatan dasar; dan
  8. Biaya keadaan darurat yang disetujui LPDP.
Selengkapnya informasi Beasiswa Santri Tahun 2018 bisa diunduh melalui link berikut.


Literasi Finansial

Literasi Finansial - Kali ini kita akan mengulas tentang Literasi Finansial. Pembahasan kita terdiri atas Pengertian Literasi FinansialPrinsip Dasar Literasi FinansialRuang Lingkup Literasi Finansial, dan Indikator Literasi Finansial.

Literasi Finansial



1. Pengertian Literasi 


Finansial Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan penekanan mengenai pentingnya inklusi finansial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari literasi finansial. Pengertian inklusi finansial sendiri adalah sebuah proses yang menjamin kemudahan akses, ketersediaan, dan penggunaan sistem keuangan formal untuk semua individu.

Literasi finansial sebagai salah satu literasi dasar menawarkan seperangkat pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber daya keuangan secara efektif untuk kesejahteraan hidup sekaligus kebutuhan dasar bagi setiap orang untuk meminimalisasi, mencari solusi, dan membuat keputusan yang tepat dalam masalah keuangan. Literasi finansial juga memberikan pengetahuan tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya sebagai amunisi untuk pembentukan dan penguatan sumber daya manusia Indonesia yang kompeten, kompetitif, dan berintegritas dalam menghadapi persaingan di era globalisasi dan pasar bebas dan juga sebagai warga negara dan warga dunia yang bertanggung jawab dalam pelestarian alam dan lingkungan dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan kesejahteraan.

2. Prinsip Dasar Literasi Finansial 


  1. Keutuhan (holistik) unsur-unsur literasi finansial bersinergi dengan lima literasi dasar yang lain, dengan kecakapan abad ke- 21.
  2. Keterpaduan (terintegrasi) dengan kompetensi, kualitas karakter dengan lima literasi dasar lainnya. Keterpaduan dengan berbagai ranah, baik sekolah, keluarga, dan masyarakat.
  3. Responsif terhadap kearifan lokal dan ajaran religi yang ada di Indonesia. Berisi muatan yang mempertimbangkan kearifan lokal dan ajaran religi yang sangat beragam di Indonesia.
  4. Responsif kesejagatan: mempertimbangkan, tanggap, dan memanfaatkan hal-hal yang berkenaan dengan literasi finansial yang berasal dari mana saja (bersifat universal).
  5. Inklusif: merangkul semua pihak dengan terbuka dan setara; membuka kesempatan atau peluang serta kemungkinankemungkinan yang berasal dari pihak lain.
  6. Partisipatif: melibatkan, mendayagunakan, memanfaatkan berbagai pemangku kepentingan literasi finansial, dan berbagai sumber daya yang dimiliki berbagai pemangku kepentingan.
  7. Kesesuaian perkembangan psikologis, sosial, dan budaya: bahanbahan, program, dan kegiatan literasi finansial selaras dengan perkembangan individu, perkembangan sosial, dan budaya yang melingkupi atau menaungi individu.
  8. Keberlanjutan: seluruh program, kegiatan, dan hasilnya harus berlanjut dan saling menopang.
  9. Keakuntabelan semua program, kegiatan, dan hasil literasi finansial harus dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pemangku kepentingan literasi serta bisa diakses dan dikaji kembali oleh pihak lain.

3. Ruang Lingkup Literasi Finansial


Materi
Pengertian transaksi ekonomi dan beragam jenis praktiknya
Uraian
Pengertian alat tukar, barang, dan jasa

Materi
Pengenalan sumber daya ekonomi (earning)
Uraian
Sumber daya alam (SDA). Potensi mengenali dan menggunakan SDA untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama
Sumber daya manusia (SDM). SDM untuk mata pencaharian/profesi untuk pemenuhan kebutuhan dasar

Materi
Pengenalan konsep belanja (spending) sebagai pemenuhan kebutuhan dasar
Uraian
Skala prioritas, yakni kebutuhan primer, sekunder, dan tertier.
Sosialisasi dan kampanye gaya hidup ugahari (moderasi).
Ilmu konsumen.

Materi
Pengenalan konsep menyimpan (saving) dalam terminologi tradisional dan modern
Uraian
Menabung
Asuransi
Investasi

Materi
Pengenalan konsep berbagi (sharing) dengan berbasis pada kearifan lokal, ajaran agama, dan negara
Uraian
Amal
Pajak

Materi
Pengenalan konsep mengenai praktik tidak baik dan kejahatan finansial
Uraian
Korupsi
Rasuah
Investasi bodong
Jenis kejahatan finansial lainnya


4. Indikator Literasi Finansial



  1. Adanya peningkatan indeks literasi finansial. Peningkatan indeks literasi finansial dapat dilihat dari survei yang dilakukan oleh lembaga keuangan nasional dan internasional, seperti lembaga Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Dunia (World Bank).
  2. Ketersediaan berbagai modul literasi finansial dan sarana penunjang yang mendukungnya. Modul literasi finansial dalam beragam media yang variatif, seperti buku cetak, buku elektronik, audio, audio visual, aplikasi, alat peraga, dan sumber literasi finansial lainnya yang dapat diakses dengan mudah oleh semua lapisan masyarakat.
  3. Implementasi gaya hidup ugahari. Sosialisasi ugahari (moderasi) sebagai gaya hidup yang berdampak pada pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, dan berimbang.
  4. Peningkatan penggunaan berbagai produk jasa keuangan, seperti bank, asuransi, investasi, dan berbagai produk jasa keuangan lainnya. Masyarakat dapat mengakses layanan produk jasa keuangan yang legal dan aman untuk melakukan transaksi finansial.
  5. Konsumen yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab. Masyarakat dapat memilih dan memilah produk dan jasa yang akan digunakan serta melahirkan produk dan layanan ekonomi yang berkualitas.
  6. Masyarakat yang lebih memprioritaskan produk lokal (nasional). Meningkatnya produksi dan konsumsi produk lokal yang menguatkan perekonomian nasional untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
  7. Kompilasi kegiatan literasi finansial berbasis kearifan lokal di seluruh Indonesia. Keberagaman konsep dan praktik literasi finansial berbasis kearifan lokal yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan ekonomi.
  8. Sosialisasi dan pemanfaatan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang efektif dan efisien. Pemanfaatan KIP yang optimal oleh rakyat Indonesia mendorong kualitas pendidikan dan SDM.

4.1 Indikator Literasi Finansial di Sekolah


Basis Kelas

  1. Jumlah pelatihan literasi finansial untuk kepala sekolah, guru, dan manajemen sekolah;
  2. Intensitas pemanfaatan dan penerapan literasi finansial dalam kegiatan pembelajaran; dan
  3. Nilai literasi finansial berdasarkan OJK dan lembaga lainnya.
Basis Budaya Sekolah

  1. Jumlah dan variasi buku dan alat peraga berbasis literasi finansial;
  2. Frekuensi peminjaman bahan bacaan literasi finansial;
  3. Jumlah kegiatan literasi finansial ;
  4. Terdapat kebijakan sekolah terkait literasi finansial;
  5. Jumlah penyajian informasi literasi finansial;
  6. Akses situs daring dan luring yang berhubungan dengan literasi finansial; dan
  7. Terdapat lembaga keuangan sekolah yang aktif (bank sekolah atau koperasi).
Basis Masyarakat

  1. Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi finansial di sekolah; dan
  2. Tingkat keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi finansial di sekolah. 
4.2 Indikator Literasi Finansial di Keluarga

  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi finansial yang dimiliki keluarga;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi finansial dalam keluarga setiap harinya;
  3. Jumlah bacaan literasi finansial yang dibaca oleh anggota keluarga;
  4. Jumlah pelatihan literasi finansial yang aplikatif dan berdampak pada keluarga;
  5. Jumlah produk keuangan yang digunakan dalam keluarga, seperti tabungan, asuransi dan investasi;
  6. Tingkat pemahaman konsep tentang fungsi dasar keuangan, seperti cara menghasilkan uang atau mata pencaharian dan alat tukar barang dan jasa; dan
  7. Tingkat keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan finansial dalam kehidupan sehari-hari. 

4.3 Indikator Literasi Finansial di Masyarakat

  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi finansial yang dimiliki fasilitas publik;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi finansial setiap hari;
  3. Jumlah bahan bacaan literasi finansial yang dibaca oleh masyarakat setiap hari;
  4. Jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacaan literasi finansial;
  5. Jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi finansial;
  6. Jumlah kegiatan literasi finansial yang ada di masyarakat;
  7. Tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi finansial;
  8. Jumlah pelatihan literasi finansial yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  9. Tingkat ketersediaan akses informasi dan layanan finansial di seluruh Indonesia;
  10. Jumlah pengguna produk dan layanan jasa keuangan yang dibuktikan dengan hasil survei oleh lembaga keuangan yang kredibel;
  11. Angka pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan kesenjangan sosial yang dibuktikan oleh hasil survei (contoh: Badan Pusat Statistik, World Bank);
  12. Tingkat pendapatan per kapita masyarakat kelas menengah dan bawah yang dibuktikan dengan hasil sensus nasional oleh lembaga negara yang berwenang;
  13. Terbukanya lapangan pekerjaan yang diiringi dengan meningkatnya wirausaha dan UMKM yang dibuktikan oleh lembaga negara yang berwenang; dan
  14. Angka kejahatan finansial (contoh: laporan atau survei dari POLRI, KPK, OJK, BPK dan lembaga lainnya).
Demikian postingan mengenai Literasi Finansial. Semoga bermanfaat.

Gerakan Literasi Sains Di Keluarga

Gerakan Literasi Sains Di Keluarga - Berikut ini merupakan materi lengkap tentang Gerakan Literasi Sains Di Keluarga. Yang dibahas dalam Gerakan Literasi Sains Di Keluarga ini meliputi Sasaran Gerakan Literasi Sains di Keluarga dan Strategi Gerakan Literasi Sains di Keluarga.

Gerakan Literasi Sains Di Keluarga



1. Sasaran Gerakan Literasi Sains di Masyarakat



  1. Meningkatnya jumlah dan variasi bahan bacaan literasi sains yang dimiliki oleh setiap fasilitas publik;
  2. Meningkatnya frekuensi membaca bahan bacaan literasi sains setiap hari;
  3. Meningkatnya jumlah bahan bacaan literasi sains yang dibaca oleh masyarakat setiap hari;
  4. Meningkatnya jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacaan;
  5. Meningkatnya jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi sains;
  6. Meningkatnya jumlah kegiatan literasi sains yang ada di masyarakat;
  7. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi sains;
  8. Meningkatnya penggunaan data sains dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada masyarakat;
  9. Meningkatnya jumlah komunitas sains yang aktif di setiap daerah;
  10. Meningkatnya jumlah pelatihan literasi sains yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  11. Meningkatnya indeks kualitas lingkungan hidup (contoh: air, udara, dan tanah); dan
  12. Meningkatnya jumlah pelatihan literasi sains yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat.


2. Strategi Gerakan Literasi Sains di Masyarakat


Literasi sains di masyarakat tidak jauh berbeda dengan literasi sains di keluarga, yaitu upaya peningkatan pengetahuan tentang berbagai dasar literasi sains, termasuk kemampuan untuk mengaplikasikan sains dasar dalam kehidupan bermasyarakat sehingga bermanfaat untuk kehidupan yang lebih baik.

2.1 Penguatan Kapasitas Fasilitator


  1. Menjaring pelaku literasi melalui kampanye literasi sains dalam bentuk infografis, videografis, leaflet, dan tayangan iklan masyarakat pada media massa. Materi kampanye ini dapat mencakup manfaat penting sains pada kehidupan seharihari, alternatif kegiatan sains yang relevan dengan kegiatan masyarakat, dengan profesi/dari kalangan tertentu, dan lainlain. Kampanye literasi sains dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah, perguruan tinggi, LSM, atau pelaku BUMN dan DUDI.
  2. Melakukan kegiatan dalam membangun kesadartahuan akan sains (contoh: kegiatan pengenalan sains kepada anak dalam bentuk seminar, lokakarya (workshop), dan kegiatan mengajarkan literasi sains kepada ibu-ibu PKK). Kegiatankegiatan membangun pemahaman sains dari masyarakat akan berdampak pada pemahaman anggota keluarga.
  3. Tersedianya modul-modul pelatihan dan penyuluhan berbasis sains untuk berbagai kalangan profesi dan elemen masyarakat. Modul-modul pelatihan dapat dibuat oleh lembaga pemerintahan, komunitas profesi yang relevan, perguruan tinggi, atau pelaku BUMN dan DUDI dengan tugas dan fungsi yang relevan.
  4. Terselenggaranya pelatihan penulis, kelompok kerja guru, dan pegiat literasi untuk membuat bahan bacaan berbasis sains. Pelatihan ini dapat diselenggarakan oleh komunitas penulis, perguruan tinggi, atau penerbit buku.
  5. Terselenggaranya pelatihan oleh komunitas penulis, penerbit, dan perguruan tinggi untuk pegiat literasi yang bergiat dalam PKBM dan TBM dalam membuat bahan bacaan bermuatan sains dan menciptakan kegiatan-kegiatan berbasis sains untuk anggota masyarakat yang didampingi.
  6. Pelatihan staf perpustakaan desa oleh lembaga pemerintah, pelaku bisnis, dan perguruan tinggi untuk menciptakan kegiatankegiatan berbasis sains yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa.
  7. Pelatihan staf kantor pemerintahan, seperti kantor kelurahan dan kecamatan, dan kantor pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, oleh lembaga pemerintah, pelaku bisnis, dan perguruan tinggi untuk dapat menyajikan informasi publik tentang literasi sains secara menarik dan efektif.
  8. Pelatihan anggota masyarakat yang bergiat dan berhimpun dalam perkumpulan, seperti kelompok arisan, posyandu, kelompok pengusaha kecil dan menengah, dan kelompok buruh oleh lembaga pemerintah, pelaku bisnis, dan perguruan tinggi. Materi kegiatan berbasis sains yang relevan dengan kegiatan dan kebutuhan mereka. 

2.2 Peningkatan Jumlah dan Ragam Sumber Belajar Bermutu 


  1. Penyediaan bahan bacaan dan sumber belajar sains di masyarakat melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Semua warga masyarakat bertanggung jawab untuk menyokong kesuksesan literasi.
  2. Pemberdayaan museum-museum dan wahana belajar sains di sekitar, seperti rumah pintar dan museum bahari. Masyarakat perlu meningkatkan jumlah dan kualitas kunjungan ke tempat-tempat tersebut agar dapat menggali manfaat dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapannya tentang sains.
  3. Pemberdayaan komunitas-komunitas kerja sebagai sumber belajar, seperti komunitas nelayan, petani, dan penenun. Komunitas yang ada di masyarakat juga dapat berperan serta dalam membangun budaya literasi, yaitu dengan gencar melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka tekuni bersama masyarakat luas.
  4. Pelibatan berbagai LSM sebagai sumber belajar. LSM hendaknya berkegiatan bersama masyarakat dari berbagai lapisan dan memberikan kontribusi dalam pembudayaan literasi.
  5. Sosialisasi sumber-sumber belajar daring tentang literasi sains sebagai inspirasi kegiatan berbasis sains. Sumber belajar daring dibutuhkan untuk memperkaya beragam bahan bacaan tentang literasi sains dan dapat diakses dengan mudah.
  6. Penerjemahan bahan penunjang literasi sains. Bahan-bahan penunjang literasi sains sebagian besar menggunakan bahasa asing sehingga perlu diterjemahkan agar semua keluarga dapat mengaksesnya dengan mudah.


2.3 Perluasan Akses Sumber Belajar Bermutu dan Cakupan Peserta Belajar


  1. Peningkatan jumlah fasilitas publik bertema sains. Fasilitas publik yang bertema sains mendekatkan dan menata pola pikir masyarakat agar lebih dekat dengan sains secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Adanya muatan sains dalam kegiatan-kegiatan rutin di masyarakat, misalnya, kebiasaan menanam dan merawat tumbuhan di lingkungan sekitar, membudidayakan tumbuhantumbuhan yang bermanfaat, dan melestarikan tumbuhan khas daerah.
  3. Peningkatan akses masyarakat terhadap pusat sumber belajar, seperti PBKM, TBM, dan perpustakaan desa. Pusat sumber belajar ini terus didorong untuk bersikap proaktif mendekatkan bahan bacaan, terutama yang bermuatan sains, kepada masyarakat. Misalnya, menggelar bahan bacaan pada hari bebas kendaraan bermotor (car free day), musyawarah desa, dan kegiatan-kegiatan lain.
  4. Penyediaan bahan bacaan sains dan permainan (board games) di ruang pelayanan publik, seperti puskesmas, klinik, kantor kelurahan, kecamatan, dan kantor dinas kependudukan.
  5. Penyediaan pojok baca yang berisi bahan bacaan sains di fasilitas publik. Bahan bacaan yang menarik yang dipajang pada pojok baca dapat memancing ketertarikan masyarakat untuk membaca.
  6. Kampanye literasi sains di masyarakat melalui media massa dan media sosial. Kampanye dilakukan untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan pentingnya literasi sains agar semakin banyak pihak yang terlibat.

2.4 Peningkatan Pelibatan Publik



  1. Pelibatan BUMN dan DUDI untuk meningkatkan jumlah sumber belajar bermuatan sains. Misalnya, memberikan inspirasi kepada penerbit buku untuk memproduksi buku-buku cerita menarik bertema sains; meminta CSR perusahaan untuk mendukung pembuatan fasilitas umum dan fasilitas sosial bertema sains serta sarana informasi untuk menyampaikan data numerik untuk pelayanan publik.
  2. Peningkatan partisipasi BUMN dan DUDI untuk mendukung kegiatan literasi, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan taman, fasilitas umum/sosial, dan museum sains yang memasukkan elemen sains, serta sarana untuk meningkatkan kesadarpahaman serta kecakapan sains publik.
  3. Pelibatan perguruan tinggi dalam program-program penelitian dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan jumlah sarana dan fasilitas pendukung bermuatan sains, serta untuk mengembangkan kesadaran dan kecakapan sains masyarakat.
  4. Pelibatan pelaku bisnis dalam pembuatan materi edukasi di media cetak, layar kaca, misalnya, dalam bentuk program televisi untuk anak, remaja, dan orang dewasa yang bermuatan sains.
  5. Pelibatan pelaku bisnis untuk melibatkan muatan sains dalam kegiatan penyuluhan publik. Materi kampanye ini disediakan di tempat yang mudah diakses publik, misalnya, apotek, puskesmas, dan koperasi.


2.5 Penguatan Tata Kelola


  1. Pengintegrasian kegiatan masyarakat dengan berbagai kegiatan literasi sains. Penyelenggaraan kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan literasi dapat memberikan manfaat ganda.
  2. Pengalokasian anggaran khusus dalam dana desa dan dana pendampingan masyarakat untuk pengembangan materi, bahan bacaan, dan kegiatan masyarakat berbasis dan bermuatan sains. Masyarakat perlu berperan serta dalam mengawal penggunaan dana desa yang digunakan dalam setiap kegiatan.
  3. Penguatan jaringan dan kerja sama antarunsur pusat belajar dalam masyarakat, misalnya, PKBM, TBM, perpustakaan daerah, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), institusi pemerintahan lain, universitas, serta institusi pendidikan lain dalam masyarakat.
  4. Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan fasilitas umum yang terkait dengan literasi sains, seperti taman baca, museum, dan taman kota. Fasilitas umum dibangun untuk kenyamanan masyarakat. Selayaknya masyarakat juga terlibat aktif dalam pengelolaan dan pemeliharaannya sebagai bentuk partisipasi.
  5. Peningkatan kapasitas pegiat literasi, staf pemerintahan, dan anggota masyarakat dalam pengelolaan dana, perencanaan kegiatan literasi sains secara baik dan efektif, dan pengawasan penggunaan dana fasilitas publik untuk kegiatan-kegiatan literasi sains yang langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.

Demikianlah postingan Gerakan Literasi Sains Di Keluarga

Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI

Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI - Dalam rangka Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia yang ke 47, Kemenkominfo menyelenggarakan Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI. Dalam postingan ini akan dibahas Tema Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI, Syarat Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI, dan Jadwal Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI.

Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI


Tema Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI


Lomba ini bertajuk "KORPRI anti HOAKS".

Syarat Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI

  1. Peserta adalah seluruh Aparatur Sipil Negara yang ada di Indonesia.
  2. Peserta wajib follow akun sosial media Kementerian Komunikasi dan Informasi instagram @Kemekominfo, twitter @Kemkominfo, dan Youtube Kemkominfo TV.
  3. Untuk lomba foto, peserta wajib membuat foto diri dengan menggunakan pakaian seragam Korpri dan memberikan kata atau kutipan. Misalkan : Tips ASN untuk memerangi Hoaks.
  4. Untuk lomba Vlog, peserta membuat vlog berdurasi paling lama 60 detik sesuai tema. Konten tidak boleh mengandung konten kampanye, sara, politik dan sebagainya.
  5. Bagikan karya yang dibuat di media sosial (Instagram, Twitter, dan Youtube) isi judul di caption. Deskripsikan juga karya yang dibuat.
  6. Mention akun @Kemekominfo, twitter @Kemkominfo, dan Youtube Kemkominfo TV, serti beri taggar #KORPRIANTIHOAKS, #HUTKORPRI2018

Jadwal Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI


Upload Karya : 29 Oktober - 17 Nopember 2018
Posting Karya Favorit : 18 Nopember - 24 Nopember 2018
Pengumuman Pemenang : 29 Nopember 2018

Demikian informasi mengenai Lomba Foto dan Vlog 2018 HUT KORPRI. Semoga bermanfaat.

Tutorial Lengkap Memasukkan Gambar Ke Word

Tutorial Lengkap Memasukkan Gambar Ke Word - Saat ini mungkin kita akan disibukkan dalam membuat soal penilaian harian (PH) maupun soal Penilaian Akhir Semester (PAS). Biasanya kita akan membuat soal tersebut di word.

Dalam kesempatan ini, saya akan memberikan Tutorial Lengkap Memasukkan Gambar Ke Word untuk keperluan membuat soal. Ketika kita tidak memasukkan gambar dengan benar, bisa jadi soal kita akan berantakan saat diedit maupun saat di print.

Memasukkan Gambar Ke Word


Untuk memasukkan gambar ke word, dapat dilakukan melalui beberapa cara. Dia cara yang sering digunakan yaitu dengan insert gambar dan copy paste gambar.

Memasukkan Gambar ke Word dengan Insert Picture


Langkah 1
Klik menu insert pada ribbon tab.

Langkah 2
Klik picture

Langkah 3
Cari lokasi penyimpanan gambar

Langkah 4
Klik insert, gambar akan muncul di lembar kerja kita.

Perhatikan gambar berikut

Memasukkan Gambar Ke Word


Memasukkan Gambar ke Word dengan Copy Paste


Langkah 1
Cari lokasi kita menyimpan gambar

Langkah 2
Klik kanan pada gambar, dan pilih copy

Langkah 3
Kembali ke lembar kerja word kita, kemudian klik kanan dan pilih paste.

Mengatur Ukuran Gambar di Word

Untuk mengatur ukuran gambar di word dapat kita lakukan dengan menggunakan fitur drag pada melakukan pengaturan pada format pada tab picture tool.

Mengatur Ukuran Gambar Dengan Mendrag Ukuran


Langkah 1
Klik gambar pada lembar kerja word kita.

Langkah 2
Akan muncul bulatan di pinggir gambar, arahkan krusor ke bulatan sampai muncul panah. Klik tanda tahan, kemudia geser ke dalam maupun ke luar gambar untuk merubah ukuran gambar.

Mengatur Ukuran Gambar Dengan Format Di Picture Tool


Langkah 1
Klik gambar pada lembar kerja word kita

Langkah 2
Klik format di tab picture tool

Langkah 3
Atur panjang dan lebar gambar.

Perhatikan gambar di bawah.

Mengatur Ukuran Gambar Dengan Format Di Picture Tool

Mengatur Wrap Text Gambar Di Word


Wrap text gambar berfungsi untuk mengatur posisi gambar. Gambar bisa diatur apakah posisinya terletak di depan, di belakang, maupan posisi bersebelahan dengan tulisan. Jika ingin membuat soal, silakan pilih in line with text. Hal ini bertujuan agar gambar tidak bergeser saat diedit, sehingga hasil ketikan tetap rapi. Berikut cara mengatur wrap text gambar agar rapi.

Langkah 1
Klik gambar di lembar kerja word kita.

Langkah 2
Klik format, kemudian dilanjutkan klik Wrap Text dan pilih in line with text.

Perhatikan gambar berikut.

Mengatur Wrap Text Gambar

Membuat Gambar Menjadi PNG di Word

Gambar PNG merupakan gambar yang tidak memiliki backgroud. Gambar jenis ini lebih bagus dilihat saat membuat soal. Namun, terkadang gambar yang kita gunakan formatnya JPG. Berikut ini merupakan cara mengubah gambar JPG menjadi PNG di Word.

Langkah 1
Klik gambar di lembar kerja Word kita.

Langkah 2
Klik format di picture tool, kemudian pilih remove backgroud.

Langkah 3
Geser daerah yang ingin dihilangkan backgroundnya.

Langka 4
Klik save change

Perhatikan gambar berikut.

Membuat Gambar Menjadi PNG di Word

Membuat Gambar Menjadi Hitam Putih Di Word

Mengapa kita perlu mengubah gambar menjadi hitam putih? Ya, untuk soal biasanya akan dicetak hitam putih. Untuk mengetahui apakah gambar yang kita masukkan di word jelas saat dicetak dengan warna hitam putih, kita perlu mengubah warna gambar ke hitam putih. Berikut merupakan cara mengubah gambar menjadi hitam putih di word.

Langkah 1
Klik gambar di lembar kerja word kita.

Langkah 2
Klik format pada picture tool

Langkah 3
Pilih color, dan pergunakan warna hitam putih.

Perhatikan gambar berikut.

Membuat Gambar Menjadi Hitam Putih Di Word



Demikianlah Tutorial Lengkap Memasukkan Gambar Ke Word. Semoga bermanfaat.

Gerakan Literasi Sains Di Sekolah

Gerakan Literasi Sains Di Sekolah - Berikut ini merupakan materi lengkap dan terbaru tentang Gerkan Literasi Sains Di Sekolah. Dalam materi ini, akan dibahas mengenai Sasaran Gerakan Literasi di Sekolah, dan Strategi Gerakan Literais Sains di Sekolah.

Gerkan Literasi Sains Di Sekolah



1. Sasaran Gerakan Literasi Sains di Sekolah 


Basis Kelas

  1. Meningkatnya jumlah pelatihan guru sains dan nonsains;
  2. Meningkatnya intensitas pemanfaatan dan penerapan literasi sains dalam pembelajaran;
  3. Meningkatnya jumlah pembelajaran sains berbasis permasalahan dan berbasis proyek;
  4. Meningkatnya jumlah pembelajaran nonsains yang melibatkan unsur literasi sains;
  5. Meningkatnya skor literasi sains dalam PISA/TIMSS/INAP; dan
  6. Meningkatnya jumlah produk yang dihasilkan peserta didik melalui pembelajaran sains berbasis proyek. 
Basis Budaya Sekolah

  1. Meningkatnya jumlah dan variasi bahan bacaan literasi sains;
  2. Meningkatnya frekuensi peminjaman bahan bacaan literasi sains;
  3. Meningkatnya jumlah kegiatan literasi sains di sekolah;
  4. Meningkatnya akses situs daring yang berhubungan dengan literasi sains;
  5. Meningkatnya jumlah kegiatan bulan literasi sains;
  6. Meningkatnya alokasi dana untuk literasi sains;
  7. Terdapatnya tim literasi sekolah;
  8. Terdapatnya kebijakan sekolah mengenai literasi sains; dan
  9. Meningkatnya jumlah penyajian informasi literasi sains dalam berbagai bentuk (contoh: infografis dan alat peraga proses terjadinya hujan).
Basis Masyarakat

  1. Meningkatnya jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi sains; dan 
  2. Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi di sekolah. 

2. Strategi Gerakan Literasi Sains di Sekolah 



Strategi utama Gerakan Literasi Sains Sekolah berupa Literasi Sains Lintas Kurikulum, yaitu sebuah pendekatan penerapan literasi sains secara konsisten dan menyeluruh di sekolah untuk mendukung pengembangan literasi sains bagi setiap peserta didik. Keterampilan literasi sains secara eksplisit diajarkan di dalam mata pelajaran, tetapi peserta didik diberikan berbagai kesempatan untuk menggunakan sains di luar mata pelajaran sains di berbagai situasi. Menggunakan keterampilan sains lintas kurikulum memperkaya pembelajaran bidang studi lainnya dan memberikan kontribusi dalam memperluas dan memperdalam pemahaman sains. Selain melalui kurikulum, literasi sains juga dimunculkan di dalam lingkungan sekolah oleh staf nonguru dan kegiatan-kegiatan rutin yang terjadi di sekolah yang memberikan kesempatan nyata bagi peserta didik untuk mempraktikkan keterampilan literasi sains mereka.

2.1 Penguatan Kapasitas Fasilitator



  1. Pelatihan guru sains dalam menerapkan proses berpikir inkuiri dan saintifik serta metode pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan masalahmasalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Guru dilatih untuk memilih, membuat, dan memodifikasi permasalahan sehari-hari yang dapat digunakan di dalam pembelajaran literasi sains. Selain itu, guru juga dilatih berbagai strategi dalam pemberian tugas atau pekerjaan rumah yang dapat melibatkan anggota keluarga dalam literasi sains. 
  2. Pelatihan guru nonsains dalam menggunakan sains untuk memperkaya penyajian informasi di dalam mata pelajaran yang diampu. Dengan cara ini, peserta didik dapat melihat bagaimana penggunaan konsep dan keterampilan sains di dalam bidang studi lain dapat membantu mereka memahami konsep di dalam bidang studi itu. Pada saat yang sama, peserta didik memiliki kesempatan mengaplikasikan konsep dan keterampilan sains di luar jam pembelajaran sains. 
  3. Pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan dalam keterampilan menciptakan ekosistem di sekolah yang mendukung literasi sains. Ekosistem kaya literasi di sekolah dapat dihadirkan dengan memanfaatkan berbagai hal yang sudah tersedia di sekolah. Keterampilan dan kreativitas menciptakan ekosistem tersebut perlu dilatih agar berkembang dengan baik. 
  4. Pendidikan guru dalam mempersiapkan calon-calon guru untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengaplikasikan literasi sains. Dibutuhkan peran aktif LPTK untuk menyiapkan calon-calon guru yang literat sains dengan melakukan penyesuaian pola perkuliahan. 
  5. Forum diskusi bagi warga sekolah tentang literasi sains. Forum diskusi ini dapat menjadi wahana bagi warga sekolah untuk menyampaikan gagasan, berbagi praktik baik pelaksanaan literasi, dan refleksi terhadap berbagai kegiatan literasi yang dilakukan di sekolah. 
  6. Pelatihan pembuatan permainan edukatif tentang literasi sains. Tujuan dari pelatihan ini adalah agar guru dan tenaga kependidikan dapat membuat sendiri permainan edukatif yang dapat dimanfaatkan dan membantu peserta didik agar literat sains.

2.2 Peningkatan Jumlah dan Ragam Sumber Belajar Bermutu



  1. Penyediaan buku-buku berkaitan dengan sains, baik fiksi, nonfiksi, maupun referensi. Buku-buku bermutu yang dapat diakses oleh warga sekolah akan berpengaruh dalam mencetak warga sekolah yang literat sains.
  2. Program Satu Guru Satu Buku, khususnya untuk guru sains untuk menulis buku-buku yang berhubungan dengan sains. Guru hendaknya memiliki kemampuan untuk menyebarluaskan pemikiran dan pengetahuannya kepada banyak orang sesuai dengan bidang keahliannya.
  3. Penyusunan modul pelatihan yang berisi hakikat sains, literasi sains, pola pikir sistem (system thinking), serta bekerja dan berpikir kolaboratif dalam merancang proses pembelajaran. Modul pelatihan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sarana untuk mempercepat penyebarluasan informasi dan pemutakhiran pengetahuan tentang literasi sains.
  4. Penyediaan informasi dan sumber belajar daring mengenai literasi sains oleh Pustekkom. Sumber belajar daring dibutuhkan untuk memperkaya beragam bahan bacaan tentang literasi sains dan dapat diakses dengan mudah dengan menggunakan gawai.
  5. Penggunaan permainan edukatif tentang sains yang dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Permainan edukatif tersedia dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk fisik maupun daring.
  6. Memperbanyak kegiatan jelajah alam sekitar. Lingkungan alam sekitar juga dapat menjadi sumber belajar yang dapat dieksplorasi semaksimal mungkin oleh peserta didik. Kegiatan tersebut dapat dilakukan di dalam dan di luar jam sekolah. Guru dapat memberikan panduan kegiatan, kemudian peserta didik melakukan eksplorasi bersama kelompok atau per individu. 

2.3 Perluasan Akses Sumber Belajar Bermutu dan Cakupan Peserta Belajar


  1. Pengembangan sarana penunjang dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran sains sehingga dapat menciptakan ekosistem yang kaya literasi sains. Misalnya, menghiasi dinding, tangga, dan selasar sekolah dengan gambar berbagai macam planet atau hal lain yang berkaitan dengan sains, dan memberi keterangan manfaat dan nomenklatur pada tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah.
  2. Penyediaan laboratorium sains sebagai tempat bereksperimen dan bereksplorasi serta sebagai sumber belajar bagi peserta didik. Peserta didik membutuhkan ruang belajar yang mendukung. Dengan adanya laboratorium dan alat-alat eksperimen yang memadai, kesempatan belajar bagi peserta didik akan dapat diperluas.
  3. Pengoptimalan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah hendaknya memiliki waktu kunjungan selain jam istirahat, seperti mengalokasikan satu jam per minggu untuk setiap kelas.
  4. Penyediaan sudut baca di kelas yang berisi buku-buku sains. Sudut baca ini mendekatkan buku dengan peserta didik di kelasnya masing-masing. Peserta didik dapat leluasa membaca dan memilih bahan bacaan yang dikehendaki.
  5. Penyelenggaraan open house oleh sekolah yang sudah mengembangkan literasi. Sekolah yang terlibat dalam kegiatan ini dapat saling berbagi pengalaman, saling mendukung, dan berbagi informasi tentang kegiatan yang bermanfaat untuk dikembangkan di sekolah lain.
  6. Program pengimbasan sekolah. Sekolah percontohan secara mandiri dapat menularkan pengalaman dan kegiatan literasi sains ke sekolah imbas di sekitarnya.
  7. Kampanye literasi untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan pentingnya literasi sains agar semakin banyak pihak yang terlibat.

2.4 Peningkatan Pelibatan Publik 



  1. Sharing session dengan mengundang pihak publik untuk berbagi tentang cara mereka mengaplikasikan sains di dalam profesi dan kehidupan mereka sehari-hari. Pihak sekolah dapat mengundang narasumber pakar sains, peneliti, dosen, tenaga kesehatan, apoteker, teknisi pesawat, dan lain-lain.
  2. Mengadakan kegiatan Bulan dan Festival Literasi Sains dengan cara berikut. a) Mengundang dan melibatkan orang tua dan publik untuk melakukan kegiatan literasi sains bersama dengan peserta didik dan membuat alat peraga dan permainan sains yang dapat digunakan di rumah. b) Memameran hasil karya proyek peserta didik (hasil dari Project-Based Learning) yang bersifat interdisipliner dengan sains sebagai salah satu unsurnya. c) Menampilkan buku-buku yang berhubungan dengan literasi sains.
  3. Menyelenggarakan bedah buku bertema literasi sains. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan mengundang narasumber atau guru-guru sains dari berbagai sekolah dan warga sekolah lainnya sebagai audiens. Berangkat dari kegiatan sederhana semacam ini, peserta didik dan warga sekolah akan terlatih untuk berpikir inkuiri dan kritis terhadap bahan bacaan.
  4. Pelibatan BUMN dan DUDI pada kegiatan literasi sains di sekolah. BUMN dan DUDI dapat mengambil bagian dengan memberikan dana CSR mereka untuk membantu pelaksanaan kegiatan literasi sains, penyediaan bahan bacaan, membantu penyediaan alat-alat eksperimen di laboratorium, atau kegiatan lainnya yang mendukung pengembangan literasi di sekolah.

2.4 Penguatan Tata Kelola



  1. Alokasi dana untuk kegiatan penguatan pelaku, peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar, penyediaan sarana penunjang, dan kegiatan-kegiatan literasi sains terkait. Alokasi dana merupakan bentuk prioritas terhadap kegiatan literasi yang ada di sekolah.
  2. Pembentukan tim literasi sekolah. Tim tersebut terdiri atas kepala sekolah, pengawas, guru, dan wakil orang tua peserta didik dengan tugas menjadi motor penggerak dan memantau berjalannya kegiatan-kegiatan literasi di sekolah.
  3. Pembuatan kebijakan sekolah yang menyatakan pentingnya literasi sains dan keterlibatan semua warga sekolah dalam menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan literasi sains. Kebijakan tersebut dapat berupa pencanangan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah tiap hari secara bergiliran yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah, kegiatan membawa bekal makanan bergizi dari rumah, eksplorasi lingkungan sekitar sekolah, dan lain-lain.
  4. Memperkuat persatuan orang tua dan guru untuk membangun relasi kerja sama yang kuat untuk terlibat di dalam literasi sains. Orang tua dapat mengawal keberlangsungan kegiatan literasi dari pembiasaan yang dilakukan di rumah, sedangkan guru melakukan penguatan pembiasaan kegiatan literasi di sekolah.

Literasi Sains Sebagai Kecakapan Hidup

Pengertian Literasi Sains 


Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (OECD, 2016). National Research Council (2012) menyatakan bahwa rangkaian kompetensi ilmiah yang dibutuhkan pada literasi sains mencerminkan pandangan bahwa sains adalah ansambel dari praktik sosial dan epistemik yang umum pada semua ilmu pengetahuan, yang membingkai semua kompetensi sebagai tindakan.

Literasi Sains Sebagai Kecakapan Hidup


Prinsip Dasar Literasi Sains


  1. Kontekstual, sesuai dengan kearifan lokal dan perkembangan zaman;
  2. Pemenuhan kebutuhan sosial, budaya, dan kenegaraan;
  3. Sesuai dengan standar mutu pembelajaran yang sudah selaras dengan pembelajaran abad XXI;
  4. Holistik dan terintegrasi dengan beragam literasi lainnya; dan
  5. Kolaboratif dan partisipatif.


Ruang Lingkup Literasi Sains 

Literasi sains merupakan bagian dari sains, bersifat praktis, berkaitan dengan isu-isu tentang sains dan ide-ide sains. Warga negara harus memiliki kepekaan terhadap kesehatan, sumber daya alam, kualitas lingkungan, dan bencana alam dalam konteks personal, lokal, nasional, dan global. Dari sini kita bisa melihat bahwa cakupan literasi sains sangat luas, tidak hanya dalam mata pelajaran sains, tetapi juga beririsan dengan literasi lainnya.

Indikator Literasi Sains 


1. Indikator Literasi Sains di Sekolah


Basis Kelas

  1. Jumlah pelatihan guru sains dan nonsains;
  2. Intensitas pemanfaatan dan penerapan literasi sains dalam pembelajaran;
  3. Jumlah pembelajaran sains berbasis permasalahan dan berbasis proyek;
  4. Jumlah pembelajaran nonsains yang melibatkan unsur literasi sains;
  5. Skor literasi sains dalam PISA/TIMSS/INAP; dan
  6. Jumlah produk yang dihasilkan peserta didik melalui pembelajaran sains berbasis proyek.
Basis Budaya Sekolah

  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi sains;
  2. Frekuensi peminjaman bahan bacaan literasi sains;
  3. Jumlah kegiatan literasi sains di sekolah;
  4. Akses situs daring yang berhubungan dengan literasi sains;
  5. Jumlah kegiatan bulan literasi sains;
  6. Alokasi dana untuk literasi sains;
  7. Adanya tim literasi sekolah;
  8. Adanya kebijakan sekolah mengenai literasi sains; dan
  9. Jumlah penyajian informasi literasi sains dalam berbagai bentuk (contoh: infografis dan alat peraga proses terjadinya hujan).

Basis Masyarakat

  1. Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi sains; dan
  2. Keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi di sekolah.


2. Indikator Literasi Sains di Keluarga



  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi sains yang dimiliki keluarga;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi sains dalam keluarga setiap harinya;
  3. Jumlah bahan bacaan literasi sains yang dibaca oleh anggota keluarga;
  4. Frekuensi kesempatan anak mengaplikasikan sains dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga;
  5. Jumlah permainan edukatif berbasis literasi sains dalam keluarga; dan
  6. Jumlah pelatihan literasi sains yang aplikatif dan berdampak pada keluarga.

3. Indikator Literasi Sains di Masyarakat



  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi sains yang dimiliki setiap fasilitas publik;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi sains setiap hari;
  3. Jumlah bahan bacaan literasi sains yang dibaca oleh  masyarakat setiap hari;
  4. Jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacaan literasi sains;
  5. Jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi sains;
  6. Jumlah kegiatan literasi sains yang ada di masyarakat;
  7. Tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi sains;
  8. Tingkat penggunaan data sains dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada masyarakat;
  9. Jumlah komunitas sains yang aktif di setiap daerah;
  10. Jumlah pelatihan literasi sains yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  11. Indeks kualitas lingkungan hidup (contoh: air, udara, tanah); dan
  12. Jumlah pelatihan literasi sains yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat.

Gerakan Literasi Digital Di Masyarakat

Sasaran Gerakan Literasi Digital di Masyarakat


Kecerdasan bermedia di masyarakat sangat penting. Saat ini penggunaan media digital di dunia telah menjadi gaya hidup, yang terkoneksi dengan teknologi informasi. Pertumbuhan media digital memungkinkan pergeseran perilaku masyarakat. Keterbukaan informasi di media sosial tidak dibarengi dengan kecerdasan bermedia untuk menganalisis data dan konten yang ada.

Gerakan Literasi Digital Di Masyarakat



Tujuan literasi digital di masyarakat adalah mengedukasi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi dan komunikasi dengan menggunakan teknologi digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, mengelola, dan membuat informasi secara bijak dan kreatif. Selain itu, literasi digital juga bertujuan untuk menggunakan media digital secara bertanggung jawab, mengetahui aspek-aspek dan konsekuensi hukum terkait dengan UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Fitur-fitur yang perlu dipahami mencakup dasar-dasar komputer, penggunaan internet dan program-program produktif, keamanan dan kerahasiaan, gaya hidup digital, dan kewirausahaan. Selain itu, terdapat juga sasaran spesifik yang ingin dicapai sebagai berikut.

  1. Meningkatnya jumlah dan variasi bahan bacaan literasi digital yang dimiliki setiap fasilitas publik;
  2. Meningkatnya frekuensi membaca bahan bacaan literasi digital setiap hari;
  3. Meningkatnya jumlah bahan bacaan literasi digital yang dibaca oleh masyarakat setiap hari; 
  4. Meningkatnya jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga atau instansi dalam penyediaan bahan bacaan literasi digital;
  5. Meningkatnya jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi digital;
  6. Meningkatnya jumlah kegiatan literasi digital yang ada di masyarakat;
  7. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi digital;
  8. Meningkatnya jumlah pelatihan literasi digital yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  9. Meningkatnya pemanfaatan media digital dan internet dalam memberikan akses informasi dan layanan publik;
  10. Meningkatnya pemahaman masyarakat terkait penggunaan internet dan UU ITE;
  11. Meningkatnya angka ketersediaan akses dan pengguna (melek) internet di suatu daerah; dan
  12. Meningkatnya jumlah pelatihan literasi digital yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat.

Strategi Gerakan Literasi Digital di Masyarakat 


Penguatan Kapasitas Fasilitator


Pelatihan Penggunaan Aplikasi atau Perangkat Digital 


Penggunaan aplikasi atau perangkat digital dalam berliterasi di era digital saat ini sangatlah penting. Untuk itu perlu pelatihan atau sosialisasi kepada para pegiat literasi atau yang memiliki hobi membaca buku untuk memiliki aplikasi, seperti Goodreads, Google Play Books, atau Aldiko Book Reader pada telepon pintar (smartphone) yang mereka miliki.

Pelatihan Penulisan dan Pembuatan Blog Atau Media Jurnal Harian Daring


Media digital untuk menuangkan hasil tulisan saat ini sangat beragam, seperti menuangkan tulisan pada blog, Facebook, situs berita daring, dan sebagainya. Untuk itu pelatihan menulis, memiliki akun, serta cara menuangkan tulisan pada akun

Peningkatan Jumlah dan Ragam Sumber Belajar Bermutu 


Penyediaan Sumber Belajar tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi di Ruang Publik


Peningkatan jumlah dan ragam bahan bacaan bertema teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk koran, majalah, atau buku di ruang publik, seperti stasiun, terminal, bandara, tamanbacaan masyarakat, dan perpustakaan umum. Selain itu, sumber belajar berbentuk salinan lunak atau informasi digital juga perlu diperbanyak dan diletakkan pada sarana umum yang tersedia, misalnya, komputer atau layar digital yang ada di ruang publik atau dalam bentuk salinan lunak yang dapat diakses melalui komputer dan gawai.

Penyebaran Informasi dan Pengetahuan Melalui Media Sosial

Media sosial, seperti pos-el (email), Whatsapp, Line, Facebook, dan Blackberry Messenger sudah dimiliki oleh sebagian besar masyarakat. Pemanfaatan media sosial ini dapat digunakan sebagai penyebaran informasi dan pengetahuan sebagai bentuk sumber belajar masyarakat. Namun, masyarakat perlu kritis dan bijak dalam menyebarkan informasi dan pengetahuan yang dibuat atau yang diperolehnya.

Perluasan Akses Sumber Belajar dan Cakupan Peserta Belajar 


Penyediaan Akses Internet di Ruang Publik 


Penyediaan akses internet merupakan salah satu upaya yang penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada era digital ini. Sumber belajar yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan menggunakan akses internet dengan sangat cepat dan efisien. Kebutuhan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan mengasah keterampilan harus ditunjang oleh kesediaan oleh akses internet yang ada di masyarakat. Misalnya, di desa terdapat pojok internet khusus yang disediakan untuk masyarakat; pada ruang publik lainnya, seperti perpustakaan umum, terminal, bandara, pelabuhan dapat disediakan akses internet untuk masyarakat.

Penyediaan Informasi Melalui Media Digital di Ruang Publik


Penyediaan layar dan papan informasi digital di ruang publik dapat membantu masyarakat dalam memperoleh informasi dan pengetahuan baru. Layar informasi yang ada di bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, persimpangan jalan strategis, dan pasar dapat diisi dengan konten-konten perkembangan ilmu pengetahuan dunia, fakta-fakta sains sederhana, beritaberita terkini, permainan edukatif yang menantang, dan sebagainya. Semuanya dapat ditampilkan dan disediakan sebagai penambahan wawasan masyarakat.

Peningkatan Pelibatan Publik 


Sharing Session

Sharing session dapat dilakukan dengan mengundang pakar untuk berbagi tentang cara mereka mengaplikasikan teknologi digital di dalam profesi dan kehidupan sehari-hari. Pelibatan para pakar, praktisi, dan profesional secara personal atau kelembagaan yang berkaitan dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi di masyarakat dapat meningkatkan literasi digital masyarakat melalui berbagai kegiatan yang menyenangkan, seperti pada kelas inspirasi dan kelas berbagi. Materi yang dibagikan oleh pakar, praktisi, dan profesional dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan sharing session dapat dilakukan dengan berkolaborasi dengan organisasi-organisasi yang ada di masyarakat, seperti karang taruna, PKK, komunitas baca, dan lain-lain.


Pelibatan Para Pemangku Kepentingan


Pemangku kepentingan yang dimaksudkan di sini adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha dan industri, media, dan relawan pendidikan. Pelibatan semua pemangku kepentingan dalam rangka pengembangan literasi digital di masyarakat dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya, membuat kegiatan/aktivitas literasi digital dalam bentuk pameran digital, menyediakan sarana dan prasarana pendukung literasi digital, dan memfasilitasi pelatihan fasilitator literasi digital di lingkungan masyarakat, khususnya untuk para pegiat literasi.

Penguatan Tata Kelola


Pembuatan Kesepakatan atau Aturan 


Kesepakatan atau aturan dalam komunitas dan pemerintah desa atau daerah terkait dengan pemanfaatan dan penggunaan teknologi dan media digital dibuat berdasarkan kebutuhan dan perkembangan setiap daerah. Misalnya, pemerintah mengimbau masyarakat untuk menggunakan akses gawai, televisi, atau internet pada waktu-waktu tertentu, menggunakan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia secara bergantian dan teratur; komunitas membuat aturan, yaitu dengan mewajibkan anggotanya untuk menulis di blog atau media digital lainnya.

Pengalokasian Anggaran Khusus dalam Dana Desa


Pengalokasian anggaran khusus dalam dana desa dapat ditujukan untuk membiayai sarana prasarana dan pendampingan masyarakat terkait dengan pengembangan literasi digital. Sarana prasarana tentang teknologi informasi dan komunikasi yang ada di desa perlu dikelola dengan baik agar keberlanjutan dan kebermanfaatannya dapat terus digunakan oleh masyarakat. Pemanfaatan dana desa tidak hanya untuk menjaga sarana prasarana, tetapi juga untuk membekali petugas pengelola dengan pengetahuan dan keterampilan agar dapat mengoperasikan sarana prasarana teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Misalnya, sebuah desa yang memiliki pojok internet untuk masyarakat dalam rangka desa melek internet dan juga mengadakan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan pemanfaatan fasilitas yang telah disediakan tersebut.