Modul Supervisi Untuk Kepala Sekolah Tahun 2019

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah disebutkan ada lima kompetensi kepala sekolah, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, dan kompetensi supervisi.

Modul Supervisi  Untuk Kepala Sekolah Tahun 2019


Supervisi Guru atau Supervisi Akademik


Banyak pengertian tentang supervisi kepada guru atau biasa disebut dengan supervisi akademik. Supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya dalam mengelola proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kompetensi paedagogik dan profesional, yang muaranya kepada peningkatan mutu lulusan peserta didik (Glickman:2007). Sedangkan Daresh (2001) menyebutkan bahwa supervisi akademik merupakan upaya membantu guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pengajaran. Kegiatan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah yang ditujukan kepada guru dengan tujuan memberikan bantuan profesional, selain itu supervisi akademik juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi profesional maupun kompetensi paedagogik yang akan berdampak pada peningkatan kinerja guru-guru di sekolah.

Mengembangkan kemampuan guru tidak hanya ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen, kemauan, atau motivasi guru. Dengan meningkatkan kemampuan dan motivasi kerja guru, kualitas akademik akan meningkat. Tanggung jawab pelaksanaan supervisi di sekolah adalah kepala sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus memiliki kompetensi supervisi.

Inti dari kegiatan supervisi adalah membantu guru dan berbeda dengan penilaian kinerja guru, meskipun di dalam supervisi akademik ada penilaian. Dalam supervisi akademik menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya (Sergiovanni, 1987).

Menurut Sergiovanni (dalam Depdiknas, 2007: 10), ada tiga tujuan supervisi akademik, yaitu:

  1. Supervisi akademik dilakukan untuk membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalnya dalam memahami kehidupan kelas, mengembangkan keterampilan mengajarnya dan menggunakan kemampuannya melalui teknik-teknik tertentu.
  2. Supervisi akademik dilakukan untuk memonitor kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Kegiatan memonitor ini bisa dilakukan melalui kunjungan kepala sekolah ke kelas kelas di saat guru sedang mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman sejawatnya, maupun dengan sebagian peserta didik.
  3. Supervisi akademik dilakukan untuk mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas mengajar, mendorong guru mengembangkan kemampuannya sendiri, serta mendorong guru agar ia memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Menurut Alfonso, Firth, dan Neville (dalam Depdiknas, 2007) Supervisi akademik yang baik adalah supervisi akademik yang mampu berfungsi mencapai multi tujuan tersebut di atas. Tidak ada keberhasilan bagi supervisi akademik jika hanya memperhatikan salah satu tujuan tertentu dengan mengesampingkan tujuan lainnya. Hanya dengan merefleksi ketiga tujuan inilah supervisi akademik akan berfungsi mengubah perilaku mengajar guru (Gambar 2). Pada gilirannya nanti perubahan perilaku guru ke arah yang lebih berkualitas akan menimbulkan perilaku belajar murid yang lebih baik.

Prinsip-Prinsip Supervisi Akademik


Prinsip-prinsip supervisi akademik ada 14, meliputi:
  1. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
  2. Sistematis, artinya dikembangkan sesuai perencanaan program supervisi dan tujuan pembelajaran.
  3. Objektif, artinya masukan data/informasi sesuai aspek-aspek instrumen.
  4. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
  5. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.
  6. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.
  7. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.
  8. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
  9. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.
  10. Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
  11. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor.
  12. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).
  13. Terpadu, artinya menyatu dengan program pendidikan.
  14. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas (Dodd, 1972).

Pendekatan, Teknik dan Model Supervisi Akademik



Pendekatan

Pendekatan adalah cara mendekatkan diri kepada objek atau langkah-langkah menuju objek. Menurut Sudjana (2004) pendekatan supervisi ada tiga jenis yaitu:
  1. Pendekatan langsung (direct contact) yaitu cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Dalam hal ini peran supervisor lebih dominan.
  2. Pendekatan tidak langsung (indirect contact) yaitu cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Supervisor hanya mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, dan secara bersama-sama memecahkan masalah.
  3. Pendekatan kolaboratif adalah pendekatan yang memadukan cara pendekatan langsung dan tidak langsung.

Teknik Supervisi

Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman, et al. 2007). Oleh karena itu kepala sekolah harus memahami berbagai teknik supervisi. Ada dua macam teknik supervisi, yaitu teknik individual dan teknik kelompok (Gwyn, 1961).

Model Supervisi

Kepala sekolah dapat melakukan supervisi dengan memilih model yang tepat. Berbagai model supervisi sebagaimana berikut ini:

Model supervisi tradisional
Model supervisi tradisional yang masih digunakan adalah Observasi Langsung. Supervisi model ini dapat dilakukan dengan observasi langsung kepada guru yang sedang mengajar melalui prosedur: pra-observasi dan post-observasi.

Pra-Observasi
Sebelum observasi kelas, supervisor seharusnya melakukan wawancara serta diskusi dengan guru yang akan diamati. Isi diskusi dan wawancara tersebut mencakup kurikulum, pendekatan, metode dan strategi pembelajaran, media pengajaran, evaluasi dan analisis.

Observasi
Setelah wawancara dan diskusi mengenai apa yang akan dilaksanakan guru dalam kegiatan belajar mengajar, kemudian supervisor mengadakan observasi kelas. Observasi kelas meliputi keseluruhan jalannya pembelajaran, yaitu pendahuluan (apersepsi), pengembangan, penerapan dan penutup.

Post-Observasi
Setelah observasi kelas selesai, mengadakan wawancara dan diskusi tentang: kesan guru terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan dan kelemahan guru, identifikasi ketrampilan-ketrampilan mengajar yang perlu ditingkatkan, gagasan-gagasan baru yang akan dilakukan.

Selengkapnya modul Supervisi Untuk Kepala Sekolah Tahun 2019 bisa diunduh melalui link di bawah ini.


Demikian informasi mengenai Modul Supervisi  Untuk Kepala Sekolah Tahun 2019. Semoga bermanfaat.

Contoh Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila telah dijadikan pandangan hidup bangsa. Nilai-nilai dan makna yang terkandung di dalam sila-sila Pancasila menjadi pedoman dalam setiap prilaku dan tindakan rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini merupakan Contoh Penerapan Nilai-Nilai Setiap Sila Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari.

Contoh Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari


Penerapan Nilai Sila Satu Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari


Sila pertama Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari sesuai sila ini yaitu:

  1. Meningkatkan rasa toleransi sesama umat beragama.
  2. Tidak memaksakan agama dan kepercayaan kepada orang lain.
  3. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  4. Menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya


Penerapan Nilai Sila Kedua Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari


Sila kedua Pancasila berbunyi Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari sesuai sila ini yaitu:

  1. Saling mencintai sesama manusia.
  2. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  3. Tidak melakukan perbuatan yang semena-mena terhadap orang lain.
  4. Bersedia membantu orang lain yang mendapat masalah.
  5. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  6. Berani membela kebenaran dan keadilan.


Penerapan Nilai Sila Ketiga Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari


Sila ketiga Pancasila berbunyi Persatuan Indonesia. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari sesuai sila ini yaitu:

  1. Cinta tanah air dan bangsa.
  2. Bangga sebagai bangsa Indonesia.
  3. Rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.
  4. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Penerapan Nilai Sila Keempat Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari


Sila keempat Pancasila berbunyi Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari sesuai sila ini yaitu:

  1. Setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak memaksanakan kehendak kepada orang lain Mengutamakan musyawarah untuk mufakat.
  3. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  4. Menjalankan hasil musyawarah dengan penuh rasa tanggungjawab.
  5. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.


Penerapan Nilai Sila Kelima Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari


Sila kelima Pancasila berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari sesuai sila ini yaitu:

  1. Menghormati hak-hak orang lain.
  2. Suka bekerja keras.
  3. Bersikap adil.
  4. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Suka bekerja keras. 
  7. Menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Demikian Contoh Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari. Semoga bermanfaat.

Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019

Di tahun 2019 ini, www.semangatdonk.id menyelenggarakan Lomba Menulis Esai bertajuk Lomba  Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019. Berikut merupakan ketentuan Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019.

Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019



Tema Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019


Tema Lomba
"Pendidikan Indonesia di Era Industri 4.0"

Subtema
  1. Pendidikan dan Teknologi
  2. Pendidikan dan Lingkungan
  3. Pendidikan dan Kearifan Lokal

Hadiah Pemenang dan Peserta Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019

  1. Juara 1 “Paket liburan ke Singapura 3D2N + Medali Emas + Sertifikat”
  2. Juara 2 “Uang Tunai Rp 1.000.000 + Medali Perak + Sertifikat”
  3. Juara 3 “Uang Tunai Rp 500.000 + Medali Perunggu + Sertifikat” 
  4. Juara Harapan 1, 2, dan 3 “Uang Tunai Rp 250.000 + Medali” 
  5. Finalis 7 s/d 100 Besar “Voucher Belanja Elektronik”
  6. Semua Peserta berhak mendapatkan: e-sertifikat, e-book Yang Muda Yang Mendunia dan ebook Pendidikan.

Mekanisme Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019


Bagi yang ingin mengikuti lomba ini bisa membaca panduan Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019 yang dapat diunduh melalui link di bawah ini.

Pendaftaran Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019 bisa dilakukan melalui link pendaftaran di bawah ini.
www.bit.ly/PanduanLENGK2019

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi:
IG: @semangatdonk.id
Web: www.semangatdonk.id
Kontak: 082146295757

Demikian informasi mengenai Lomba Esai Nasional Guru Kreatif 2019. Semoga bermanfaat.

Hastag Lomba
#semangatdonkindonesia #semangatdonk.id #pendidikan #pendidikanindonesia #gurukreatif #guru #guruinovatif #lombaesai #lombaesaikreatif #guruindonesia #pendidikindonesia #pendidikan4.0 #esainasional #indonesia

Instrumen Penilaian Sikap Spiritual Kurikulum 2013

Dalam kurikulum 2013, guru diwajibkan untuk melakukan penilaian sikap. Penilaian tersebut dilakukan sebagai penilaian terhadap prilaku peserta didik dalam proses pembelajaran. Penilaian sikap ini meliputi penilaian sikap spiritual (KI-1) dan penilaian sikap sosial (KI-2). Berikut, kita akan membahas instrumen penilaian sikap spiritual kurikulum 2013.

Penilaian Sikap Dalam Kurikulum 2013


Dalam melakukan penilaian sikap, guru terlebih dahulu harus merencanakan indikator sikap yang akan diamati. Indikator tersebut disesuaikan dengan karakteristik proses pembelajaran yang akan dilakukan. Sebagai contoh, misalkan guru hendak mengamati prilaku kerjasama. Guru bisa melakukan penilaian melalui pengamatan terhadap interaksi siswa dalam melakukan diskusi kelompok.

Penilaian sikap dilakukan tidak hanya dalam proses pembelajaran saja. Guru juga dapat melakukan proses penilaian di luar proses pembelajaran, misalkan prilaku yang muncul tidak terduga di luar proses pembelajaran seperti prilaku siswa dalam mengerjakan tugas piket, prilaku siswa ketika menemukan uang, dan sebagainya.

Penilaian sikap ini tidak hanya dilakukan oleh guru kelas saja. Guru mata pelajaran seperti guru agama dan budi pekerti, guru PJOK, dan pembina ekstrakurikuler juga wajib ikut dalam melakukan penilaian. Guru kelas, mengumpulkan data dari hasil penilaian sikap yang dilakukan oleh guru mata pelajaran lainnya, kemudian merangkum menjadi deskripsi (bukan angka atau skala).

Peserta didik yang berperilaku menonjol sangat baik diberi penghargaan, sedangkan peserta didik yang berperilaku kurang baik diberi pembinaan. Penilaian sikap spiritual dan sosial dilaporkan kepada orangtua dan pemangku kepentingan sekurang-kurangnya dua kali dalam satu semester. Hasil akhir penilaian sikap diolah menjadi deskripsi sikap yang dituliskan di dalam rapor peserta didik. Dilaporkan juga pada saat ditemukan ada sikap spiritual atau sikap sosial yang menonjol perlu diberi pembinaan.

Instrumen Penilaian Sikap Spiritual Kurikulum 2013

Dalam melakuakn penilaian sikap spiritual, guru harus menggunakan instrumen penilaian. Instrumen penilaian sikap spiritual meliputi instrumen utama dan instrumen penunjang. Instrumen utama yang digunakan yaitu hasil observasi guru kelas dan guru mata pelajaran pada saat pembelajaran dan di lura pembelajaran. Sementara instrumen penunjang dari penilaian sikap ini adalah penilaian diri dan penilaian antar teman. Penilaian diri dan penilaian antar teman diperlukan guru untuk konfirmasi terhadap instrumen utama.

Untuk bisa melakukan penilaian sikap, terlebih dahulu guru melakukan perencanaan penilaian sikap spiritual. Ada empat sikap spiritual yang akan diukur meliputi ketaatan beribadah, berprilaku bersyukur, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan toleransi dalam beribadah. Berikut merupakan indikator dari masing-masing sikap.

Ketaatan beribadah
  1. perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya
  2. mau mengajak teman seagamanya untuk melakukan ibadah bersama
  3. mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan sekolah
  4. melaksanakan ibadah sesuai ajaran agama, misalnya: shalat dan puasa
  5. merayakan hari besar agama
  6. melaksanakan ibadah tepat waktu
Berperilaku syukur
  1. mengakui kebesaran Tuhan dalam menciptakan alam semesta
  2. menjaga kelestarian alam, tidak merusak tanaman
  3. tidak mengeluh
  4. selalu merasa gembira dalam segala hal
  5. tidak berkecil hati dengan keadaannya
  6. suka memberi atau menolong sesama
  7. selalu berterima kasih bila menerima pertolongan
  8. menerima perbedaan karakteristik sebagai anugerah Tuhan
  9. selalu menerima penugasan dengan sikap terbuka
  10. berterima kasih atas pemberian orang lain
Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan
  1. berdoa sebelum dan sesudah belajar
  2. berdoa sebelum dan sesudah makan
  3. mengajak teman berdoa saat memulai kegiatan
  4. mengingatkan teman untuk selalu berdoa
Toleransi dalam beribadah
  1. tindakan yang menghargai perbedaan dalam beribadah
  2. menghormati teman yang berbeda agama
  3. berteman tanpa membedakan agama
  4. tidak mengganggu teman yang sedang beribadah
  5. menghormati hari besar keagamaan lain
  6. tidak menjelekkan ajaran agama lain.
Indikator sikap spiritual tersebut dapat ditambah sesuai karakteristik satuan pendidikan dan dicantumkan dalam dokumen I Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Observasi yang dilakukan guru dicatat dalam jurnal siswa. Untuk mempermudah dalam melakukan rekap, masing-masing siswa diberikan sebuah jurnal seperti berikut.
Instrumen Penilaian Sikap Spiritual

Keterangan:
  1. Tanggal diisi dengan tanggal munculnya sikap
  2. Catatan prilaku diisi dengan prilaku yang muncul misalkan "Mengajak teman yang se-agama untuk melakukan ibadah"
  3. Butir Sikap diisi dengan butir sikap spiritual misalkan "Ketaatan beribadah"
  4. Tindak lanjut diisi jika sikap yang dimunculkan bersifat negatif.
Sikap yang dimunculkan oleh siswa bisa positif bisa negatif. Jika sikap yang dimuculkan negatif, guru wajib mengisi tindak lanjut yang berupa kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.


Download Instrumen Penilaian Sikap Spiritual Kurikulum 2013.


Bentuk instrumen penilaian sikap spiritual tidak ada yang baku. Intinya adalah mempermudah guru dalam melakukan rekap penilaian sikap spiritual yang nantinya akan dituangkan dalam rapot. Berikut ini merupakan contoh Instrumen Penilaian Sikap Kurikulum 2013.


Demikian informasi mengenai Instrumen Penilaian Sikap Spiritual Kurikulum 2013. Semoga informasi ini bisa memberikan pemahaman mengenai pelaksanaan penilaian sikap spiritual di sekolah.

Buku Penilaian HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019

Buku Penilaian HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019 - Kemampuan peserta didik di Indonesia dalam menyelesaikan soal HOTS masih sangat rendah. Berdasarkan hasil UN tahun 2018 menunjukkan bahwa peserta didik-peserta didik masih lemah dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill) seperti menalar, menganalisa, dan mengevaluasi. Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas peserta didik dengan menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP). Salah satu materi yang dikembangkan pada program PKP adalah Penilaian Berbasis HOTS. Materi ini bertujuan untuk membekali guru agar mampu melaksanakan penilaian berbasis HOTS sehingga peserta didik terbiasa dengan soal-soal dan pembelajaran yang berorientasi kepada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill) agar terdorong kemampuan berpikir kritisnya.

Buku Penilaian HOTS Terbaru


Pengertian dan Karakteristik HOTS


Kegiatan berpikir sudah dilakukan sejak manusia ada, tetapi pengertian tentang berpikir masih terus diperdebatkan berbagai kalangan, terutama kalangan pemikir pendidikan. Menurut Dewey (1859 – 1952) berpikir merupakan aktivitas psikologis ketika terjadi situasi keraguan, sedangkan Vygotsky (1896 – 1934) lebih mengaitkan berpikir dengan proses mental. Secara umum para tokoh pemikir bersepakat bahwa berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang ketika orang tersebut dihadapkan pada situasi atau suatu permasalahan yang harus dipecahkan. Berpikir selalu berkaitan dengan proses mengeksplorasi gagasan, membentuk berbagai kemungkinan atau alternatif-alternatif yang bervariasi, dan dapat menemukan solusi.

Salah satu taksonomi proses berpikir yang diacu secara luas adalah taksonomi Bloom dan telah direvisi oleh Anderson & Krathwohl (2001). Dalam taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan 6 level proses berpikir, yaitu:
C 1 = mengingat (remembering )
C 2 = memahami (understanding)
C 3 = menerapkan (applying)
C 4 = menganalisis (analyzing)
C 5 = mengevaluasi (evaluating)
C 6 = mengkreasi (creating)

Mengingat (remembering) merupakan level proses berpikir paling rendah. Mengapa? Karena mengingat hanyalah memanggil kembali kognisi yang sudah ada dalam memori. Memahami (understanding) satu level lebih tinggi dibandingkan dengan mengingat. Seseorang yang memahami sesuatu akan mampu menggunakan ingatannya untuk membuat deskripsi, menjelaskan, atau memberikan contoh terkait sesuatu tersebut. Jika seseorang yang telah memahami sesuatu mampu melakukan kembali hal-hal yang dipahaminya pada situasi yang baru atau situasi yang berbeda, orang tersebut telah mencapai level berpikir aplikasi (applying).

Orang yang memiliki kemampuan menerapkan belum tentu mampu menyelesaikan masalah (problem solving). Kemampuan menerapkan masih cenderung hanya mengulangi proses yang sudah pernah dilakukan (rutin), sementara permasalahan bisa jadi selalu berbeda dan umumnya tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sama (non rutin). Penyelesaian masalah sesungguhnya berkaitan dengan hal-hal yang non rutin. Oleh karena itu, penyelesaian masalah memerlukan level berpikir yang lebih tinggi dari mengingat, memahami, dan menerapkan. Level berpikir ini disebut higher order thinking atau tingkat berpikir lebih tinggi.

Anderson dan Krathwohl mengategorikan kemampuan proses menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating) termasuk berpikir tingkat tinggi. Menganalisis adalah kemampuan menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil sehingga diperoleh makna yang lebih dalam. Menganalisis dalam taksonomi Bloom yang direvisi ini juga termasuk kemampuan mengorganisir dan menghubungkan antar bagian sehingga diperoleh makna yang lebih komprehensif. Apabila kemampuan menganalisis tersebut berujung pada proses berpikir kritis sehingga seseorang mampu mengambil keputusan dengan tepat, orang tersebut telah mencapai level berpikir mengevaluasi. Dari kegiatan evaluasi, seseorang mampu menemukan kekurangan dan kelebihan. Berdasarkan kekurangan dan kelebihan tersebut akhirnya dihasilkan ide atau gagasan-gagasan baru atau berbeda dari yang sudah ada. Ketika seseorang mampu menghasilkan ide atau gagasan baru atau berbeda itulah level berpikirnya disebut level berpikir mencipta. Seseorang yang tajam analisisnya, mampu mengevaluasi dan mengambil keputusan dengan tepat, serta selalu melahirkan ide atau gagasan-gagasan baru. Oleh karena itu, orang tersebut berpeluang besar mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya.

Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO. Sebagai contoh kata kerja “menentukan‟ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja “menentukan‟ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja “menentukan‟ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Brookhart (2010) sependapat dengan konsep berpikir tingkat tinggi dalam taksonomi Bloom yang direvisi Anderson dan Krathwohl di atas. Secara praktis Brookhart menggunakan tiga istilah dalam mendefinisikan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), yaitu:

  1. HOTS adalah proses transfer.
  2. HOTS adalah berpikir kritis.
  3. HOTS adalah penyelesaian masalah.
HOTS sebagai proses transfer dalam konteks pembelajaran adalah melahirkan belajar bermakna (meaningfull learning), yakni kemampuan peserta didik dalam menerapkan apa yang telah dipelajari ke dalam situasi baru tanpa arahan atau petunjuk pendidik atau orang lain.

HOTS sebagai proses berpikir kritis dalam konteks pembelajaran adalah membentuk peserta didik yang mampu untuk berpikir logis (masuk akal), reflektif, dan mengambil keputusan secara mandiri. 

HOTS sebagai proses penyelesaian masalah adalah menjadikan peserta didik mampu menyelesaikan permasalahan riil dalam kehidupan nyata, yang umumnya bersifat unik sehingga prosedur penyelesaiannya juga bersifat khas dan tidak rutin.

Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja. Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat. Berdasarkan uraian di atas, keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah keterampilan berpikir logis, kritis, kreatif, dan problem solving secara mandiri. Berpikir logis adalah kemampuan bernalar, yaitu berpikir yang dapat diterima oleh akal sehat karena memenuhi kaidah berpikir ilmiah. Berpikir kritis adalah berpikir reflektif-evaluatif. Orang yang kritis selalu menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki untuk menganalisis hal-hal baru, misalnya dengan cara membandingkan atau mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya sehingga mampu menjustifikasi atau mengambil keputusan. Sementara itu, berpikir kreatif adalah kemampuan menemukan ide/gagasan yang baru atau berbeda. Dengan gagasan yang baru atau berbeda, seseorang akan mampu melakukan berbagai inovasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan nyata yang dihadapinya.

Karakteristik Instrumen Penilaian HOTS


Soal yang termasuk Higher Order Thinking memiliki ciri-ciri:

  1. transfer satu konsep ke konsep lainnya;
  2. memproses dan menerapkan informasi;
  3. mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda;
  4. menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah;
  5. menelaah ide dan informasi secara kritis.
Soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk digunakan pada berbagai bentuk penilaian kelas dan Ujian Sekolah.


Download Buku Penilaian HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019


Selengkapnya mengenai Buku Penilaian HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019 bisa diunduh melalui link di bawah ini.

Download Buku Penilaian HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019 Pdf

Demikian informasi mengenai Buku Penilaian HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019. Semoga bermanfaat.

Buku Pembelajaran HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019

Buku Pembelajaran HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019 - Pengembangan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan program yang dikembangkan sebagai upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan. Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang pada tahun 2018 telah terintegrasi Penguatan Pendidikan Karakter dan pembelajaran berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS).

Buku Pembelajaran HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019


Peningkatan kualitas peserta didik salah satunya dilakukan oleh guru yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dengan berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Desain peningkatan kualitas pembelajaran ini merupakan upaya peningkatan kualitas peserta didik yang pada akhirnya meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, maka diperlukan sebuah buku pegangan guru yang memberikan keterampilan mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas lulusan peserta didik.

Apa Itu HOTS?



Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dalam bahasa umum dikenal sebagai Higher Order Thinking Skills (HOTS) dipicu oleh empat kondisi berikut.
  1. Sebuah situasi belajar tertentu yang memerlukan strategi pembelajaran yang spesifik dan tidak dapat digunakan di situasi belajar lainnya.
  2. Kecerdasan yang tidak lagi dipandang sebagai kemampuan yang tidak dapat diubah, melainkan kesatuan pengetahuan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terdiri dari lingkungan belajar, strategi, dan kesadaran dalam belajar.
  3. Pemahaman pandangan yang telah bergeser dari unidimensi, linier, hirarki atau spiral menuju pemahaman pandangan ke multidimensi dan interaktif.
  4. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih spesifik seperti penalaran, kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
Menurut beberapa ahli, definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi salah satunya dari Resnick (1987) adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar. Keterampilan ini juga digunakan untuk menggarisbawahi berbagai proses tingkat tinggi menurut jenjang taksonomi Bloom. Menurut Bloom, keterampilan dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah keterampilan tingkat rendah yang penting dalam proses pembelajaran, yaitu: mengingat (remembering), memahami (understanding), dan menerapkan (applying), dan kedua adalah yang diklasifikasikan ke dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi berupa keterampilan menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating). 

Pembelajaran yang berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi adalah pembelajaran yang melibatkan 3 aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi yaitu: transfer of knowledge, critical and creative thinking, dan problem solving. Dalam proses pembelajaran keterampilan berpikir tingkat tinggi tidak memandang level KD, apakah KD nya berada pada tingkatan C1, C2, C3, C4, C5, atau C6.

Download Buku Pembelajaran HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019


Lebih lengkap mengenai Buku Pembelajaran HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019, bisa di download melalui link di bawah ini. Buku ini merupakan salah satu buku materi dalam pelaksanaan PKP tahun 2019.


Demikian informasi mengenai Buku Pembelajaran HOTS Terbaru Untuk PKP Tahun 2019. Semoga buku ini bisa membantu guru dalam menyelenggarakan pembelajaran HOTS di tahun 2019.

Kumpulan Materi PKP Guru SMP Tahun 2019

Kumpulan Materi PKP Guru SMP Tahun 2019 - Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagai aktualisasi dari profesi pendidik. Untuk merealisasikan amanah undang-undang sebagaimana dimaksud, pada tahun 2019 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan melaksanakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui Pengembangan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi.

Kumpulan Materi PKP Guru SMP Tahun 2019


Program PKB melalui PKP bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Program ini dilaksanakan secara berjenjang mulai dari Pembekalan Narasumber Nasional, Pembekalan Instruktur Kab./Kota, Pembekalan Guru Inti dan selanjutnya Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi di guru sasaran.

Sebagai salah satu upaya untuk mendukung keberhasilan program, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar memfasilitasi kegiatan penyusunan Buku Kumpulan Materi PKP Guru SMP Tahun 2019 Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi. Buku ini telah terintegrasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Gerakan Literasi Nasional dan Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills) serta berisi aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dirancang untuk mendukung proses fasilitasi Pembekalan Instruktur Kab./Kota/Guru Inti. Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan fasilitasi bagi para peserta pembekalan untuk dapat meningkatkan pemahaman tentang program yang akan dilaksanakan.

Kumpulan Materi PKP Guru SMP Tahun 2019 bisa diunduh melalui link di bawah ini.


  1. Materi PKP PJOK SMP - Bola Voli Single
  2. Materi PKP IPS SMP  - Manusia, Tempat, dan Lingkungan
  3. Materi PKP PPKn SMP - Pancasila
  4. Materi PKP Matematika SMP - Pembelajaran Bilangan Rasional
  5. Materi PKP SBdP SMP - Pemeranan
  6. Materi PKP Bahasa Indonesia SMP - Teks Deskripsi, Cerita Imajinasi, dan Prosedur
  7. Materi PKP Bahasa Inggris SMP - Teks Khusus
  8. Materi PKP Informatika SMP - Berpikir Komputasional
  9. Materi PKP IPA SMP - Struktur dan Fungsi Makhluk Hidup
  10. Materi PKP BK SMP - Kemampuan Belajar
Demikian informasi mengenai Kumpulan Materi PKP Guru SMP Tahun 2019. Semoga bermanfaat.

Kumpulan Materi PKP Guru SD tahun 2019

Kumpulan Materi PKP Guru SD tahun 2019 - Peningkatan Kopetensi Pembelajaran (PKP) merupakan program yang diluncurkan oleh Kemendikbud di tahun 2019 ini. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi merupakan salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan. Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang menekankan pada pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru professional.

Kumpulan Materi PKP Guru SD tahun 2019


Guru profesional memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan prestasi peserta didik. Penelitian menunjukkan bahwa 30% prestasi peserta didik ditentukan oleh faktor guru. Dengan demikian maka guru harus senantiasa meng-update dirinya dengan melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Jika program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan sebelumnya didasarkan pada hasil Uji Kompetensi Guru, berfokus pada peningkatan kompetensi guru khususnya kompetensi pedagogi dan profesional, maka Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi lebih berfokus pada upaya memintarkan peserta didik melalui pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berbasis zonasi ini dilakukan mengingat luasnya wilayah Indonesia. Zonasi diperlukan guna memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, sehingga peningkatan pendidikan dapat berjalan secara masif dan tepat sasaran.

Kumpulan Materi PKP Guru SD tahun 2019 tertuang dalam Unit Pembelajaran Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi. Unit Pembelajaran ini disusun berdasarkan analisis Standar Kompetensi Lulusan, Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar, serta analisis soal-soal Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). UN dan USBN merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. UN adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan. Hasil pengukuran capaian siswa berdasar UN ternyata selaras dengan capaian PISA maupun TIMSS. Hasil UN tahun 2018 menunjukkan bahwa siswa-siswa masih lemah dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) seperti menalar, menganalisis, dan mengevaluasi. Oleh karena itu siswa harus dibiasakan dengan soal-soal dan pembelajaran yang berorientasi kepada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) agar terdorong kemampuan berpikir kritisnya.

Berikut ini merupakan Kumpulan Materi PKP Guru SD tahun 2019.


  1. Bumi dan Alam Semesta
  2. Karakteristik Geografis dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam
  3. Karya Seni Rupa Dua Dimensi dan Tiga Dimensi
  4. Kasti
  5. Pancasila
  6. Pembelajaran Bilangan Asli, Cacah, dan Bulat
  7. Operasi Hitung Bilangan Bulat
  8. FPB dan KPK
  9. Akar dan Pangkat
  10. Tata Bahasa
Demikian Infomasi mengenai Kumpulan Materi PKP Guru SD tahun 2019. Semoga bermanfaat.

Pedoman Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Tahun 2019

Pedoman Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Tahun 2019 - Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) di tahun 2019 menyelenggarakan Program Peningkatan Kompentensi Pembelajaran (PKP). Pelaksanaan program ini dilakukan melalui zonasi. Zonasi yang dimaksud adalah dengan memanfaatkan kelompok kerja guru di wilayah misalkan Pusat Kegiatan Guru (PKG) untuk jenjang TK, Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk jenjang SD, Musyawarah Guru Bimbingan dan Pembelajaran (MGMP) untuk SMP, SMA, dan SMK. Mungkin banyak yang bertanya, apa itu PKP? Apa berbedaan dengan PKB, atau bagaimana pelaksanaan PKP tahun 2019, dalam postingan kali ini, kita akan membahas secara lengkap.

Buku PKP 2019


Apa itu PKP?


Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Pelaksanaan PKP ini berorientasi pada Higher Other Thingking Skill (HOTS).

Dalam kegiatan PKP guru akan dibekali dengan kemampuan bagaimana membuat perencanaan pembelajaran (RPP) yang  berorientasi HOTS, melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS, dan melaksanakan penilaian yang juga berorientasi HOTS. Guru-guru yang memiliki kompetensi lebih akan digunakan sebagai Narasumber/Instruktur/Guru Inti Program PKP Tahun 2019 ini.

Perbedaan PKP dengan PKB

Di tahun 2017-2018, kita mengenal Guru Pembelajar yang diluncurkan di tahun 2016. Tentu banyak yang bertanya apa perbedaan PKP dengan PKB. Berikut merupakan dua perbedaan utama PKP 2019 dengan  PKB Guru Pembelajar.

  1. PKB Guru Pembelajar berorientasi pada peningkatan kompetendi substansi/profesional guru, sedangkan PKP tahun 2019 berorientasi pada peningkatan pembelajaran (How to teach)
  2. PKB Guru Pembelajar berbasis pada hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015, sedangkan PKP Tahun 2019 berbasis pada hasil UN dan USBN.

Pedoman PKP Tahun 2019


Untuk mempermudah pelaksanaan PKP Tahun 2019, Dirjen GTK mengeluarkan Pedoman PKP Tahun 2019. Pedoman ini memuat:
  1. Program PKP
  2. Pelaksanaan PKP 
  3. Penilaian, Sertifikat, dan Pelaporan PKP
  4. Standar Penyelenggaraan PKP
  5. Penjaminan Mutu PKP
  6. Berbagai format penilaian pelaksanaan PKP
Bagi yang ingin memiliki Pedoman PKP Tahun 2019, bisa diunduh melalui link di bawah ini.



Juknis PKP Tahun 2019


Selain mengeluarkan Pedoman PKP Tahun 2019, Dirjen GTK juga mengeluarkan Juknis PKP Tahun 2019. Juknis PKP Tahun 2019 memuat:

GAMBARAN UMUM PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN (PKP) BERBASIS ZONASI
  1. Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran
  2. Prinsip Dasar Pelaksanaan Program PKP
  3. Zona Peningkatan Kompetensi Pembelajaran
  4. Mekanisme Pelaksanaan Program PKP Berbasis Zonasi
  5. Komponen Pelaksana pada Program PKP Berbasis Zonasi

PELAKSANAAN PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN BERORIENTASI KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI DALAM ZONASI
  1. Waktu dan Tempat
  2. Pelaksanaan Program PKP Berbasis Zonasi
  3. Pengelolaan Kelas
  4. Sistem Informasi Manajemen (SIM)
  5. Peran dan Tanggungjawab
  6. Penilaian
MONITORING, EVALUASI, SERTIFIKAT DAN PELAPORAN
  1. Monitoring dan Evaluasi
  2. Perangkat Evaluasi
  3. Pelaporan
  4. Penerbitan Sertifikat dan Surat Keterangan
LAMPIRAN
  1. Lampiran 1 Format Daftar Hadir
  2. Lampiran 2 Format Penilaian Proses
  3. Lampiran 3 Format Monitoring dan Penilaian Hasil Belajar/Tagihan
  4. Lampiran 4 Indikator Evaluasi Pembelajaran Program PKP Berbasis Zonasi
  5. Lampiran 5 Format Penilaian Kompetensi Program PKP Berbasis Zonasi
  6. Lampiran 6 Sistematika Laporan Pelaksanaan  Program PKP Berbasis Zonasi
  7. Lampiran 7 Format Sertifikat Program PKP Berbasis Zonasi (Bagian Depan)
  8. Lampiran 8 Format Surat Keterangan Program PKP Berbasis Zonasi
Petunjuk Teknsi Peningkatan Kompetensi Pembelajaran bisa diunduh melalui link di bawah ini.


Buku Pegangan PKP Bagi Narasumber, Instruktur, dan Guru Inti


Bagi yang terpilih sebagai Narasumber, Instruktur ataupun Guru Inti PKP Tahun 2019, berikut ini merupakan Buku Pegangan PKP Bagi Narasumber, Instruktur, dan Guru Inti. Di dalam Buku Pegangan ini memuat materi:

KEGIATAN PEMBELAJARAN
  1. Topik Umum
  2. Topik Pokok
  3. Topik Penunjang
LEMBAR KERJA DAN RUBRIK

Buku Pegangan PKP Bagi Narasumber, Instruktur bisa diunduh melalui link di bawah ini.



Buku Pegangan Penilaian HOTS PKP Tahun 2019


HOTS merupakan orientasi dari pelaksanaan PKP Tahun 2019. Oleh karena itu, Dirjen GTK juga mengeluarkan Buku Penilaian Berorientasi HOTS. Dalam buku tersebut memuat:

PENDAHULUAN
  1. Rasional 
  2. Dasar Hukum
  3. Tujuan 
  4. Sasaran Buku Pegangan 
PENILAIAN DAN PENGEMBANGAN SOAL HOTS
  1. Deskripsi Singkat
  2. Penilaian Sikap 
  3. Penilaian Pengetahuan
  4. Pengertian HOTS
  5. Karakteristik
  6. Menggunakan bentuk soal beragam 
  7. Level Kognitif
  8. Langkah-langkah Penyusunan soal HOTS
  9. Penilaian Keterampilan 
PENUTUP

Selengkapnya mengenai Buku Pegangan Penilaian HOTS PKP Tahun 2019 dapat diunduh melalui link di bawah ini.


Demikian informasi mengenai Pedoman Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Tahun 2019, semoga bermanfaat.

Border Ijazah SD Tahun 2019

Border Ijazah SD Tahun 2019 - Dalam kesempatan ini, saya akan membagikan border ijazah SD tahun 2019. Border ijazah ini sesuai dengan border ijazah yang ada di contoh ijazah sd tahun 2019 dalam petunjuk teknis penulisan ijazah tahun 2018/2019.

Border ijazah SD Tahun 2019 bisa digunakan untuk menghiasi SHUSBN SD tahun 2019. Meskipun tidak ada ketentuan SHUSBN dibuat harus menggunakan border ijazah, namun penampilan SHUSBN jauh akan terlihat lebih resmi. 

Selama ini, SHUSBN siswa sering hilang. Salah satu penyebabnya adalah karena tampilan SHUSBN siswa tanpa border tampak biasa saja. Dengan border ijazah, siswa tentu akan lebih menjaga SHUSBN seperti mereka menjaga ijazah SD mereka.

Border Ijazah SD Tahun 2019 ini memiliki format PNG. Sehingga bisa digunakan langsung dalam SHUSBN. Berikut gambar SHUSBN SD Tahun 2019.

Border Ijazah SD Tahun 2019 PNG

Bagi yang ingin menggunakan border ijazah SD tahun 2019 ini, bisa di unduh melalui link di bawah ini.


Demikian informasi mengenai Border Ijazah SD Tahun 2019. Semoga postingan ini bermanfaat.

Contoh SHUSBN SD Tahun 2019

Contoh SHUSBN SD Tahun 2019 - Ditahun 2019 ini, bukti kelulusan siswa SD ditandai dengan Seritifikat Hasil Ujian Sekolah Berstadar Nasional (SHSUBN). Sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS) USBN Tahun Pelajaran 2018/2019, SHUSBN dikeluarkan oleh masing-masing satuan pendidikan.


SHUSBN SD 2019


Tidak ada ketentuan yang diberikan dalam POS USBN 2018/2019 mengenai Sertifikat Hasil Ujian Sekolah Berstandar Nasional (SHUSBN) tahun 2019 ini. Sehingga sekolah diberikan keleluasaan untuk membuat bentuk SHUSBN. Namun, SHUSBN minimal harus memuat biodata peserta didik dan nilai hasil USBN siswa tahun pelajaran 2018/2019.

Format berikut bisa dijadikan contoh dalam membuat Sertifikat Hasil Ujian Sekolah Berstandar Nasional (SHUSBN) Tahun 2019. Bagian-bagian SHSUBN Tahun 2019 meliputi:


Kop Sekolah

Kop sekolah memuat logo kabupaten serta identitas satuan pendidikan penyelenggara USBN Tahun pelajaran 2018/2019.

Judul Serifikat

Judul sertifikat bisa dibuat dengan "SERTIFIKAT HASIL UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (SHUSBN) SEKOLAH DASAR TAHUN PELAJARAN 2018/2019.

Nomor Sertifikat

Dibawah judul kita isi dengan nomor sertifikat. Format nomor yang digunakan adalah Kode Sertifikat/Nomor Urut Sertifikat/Kode Sekolah/Disdik. Sebagai contoh 423.7/221/1Sp.Tengah/Disdik. Kode yang digunakan dalam SHUSBN Tahun 2019 ini adalah 423.7. Karena 423.7 merupakan kode surat yang berkaitan dengan ujian. Masing-masing siswa diberikan nomor urut sertifikat yang berbeda.

Biodata Siswa

Biodata siswa yang ada di dalam SHUSBN Tahun 2019 memuat: Nama, Tempat Tanggal Lahir, Nomor Induk Siswa, NISN, Nomor Peserta Ujian Sekolah, dan Sekolah Penyelenggara Ujian.

Nilai Siswa

Untuk nilai, yang dicantumkan adalah nilai USBN tahun 2019 yang memuat tiga mata pelajaran yang diujikan dalam USBN tahun 2018/2019 meliputi Bahasa Indonesai, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Tanda Tangan Kepala Sekolah

Untuk legalitas, pada bagian akhir diberikan tanggal dan tanda tangan kepala sekolah. Tanggal SHUSBN Tahun 2019 yang digunakan adalah tanggal 12 Juni 2019. Tanggal ini sesuai dengan tanggal pengumuman kelulusan siswa SD tahun 2019.

Pas Foto

Di sebelah tanda tangan kepala sekolah, diberikan kotak untuk menempel Pas Foto siswa. Ukuran pas foto yang digunakan adalah 3x4 cm.

SHUSBN Tahun 2019 ini kemudian dicap tiga jari oleh siswa. Jari yang digunakan adalah jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis tangan kiri dari peserta didik. Cap tiga jari harus mengenai foto, tapi tidak mengenai bagian wajah. 

Stempel (cap sekolah) dibubuhkan agar mengenai foto dan tangda tangan kepala sekolah. Cap sekolah ini jangan sampai mengenai bagian wajah dari foto siswa.

Demikianlah informasi mengenai Contoh SHUSBN SD Tahun 2019. Semoga informasi ini bermanfaat.

Surat Edaran Pedoman Pengisian Ijazah Terbaru

Surat Edaran Pedoman Pengisian Ijazah Terbaru - Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 5951/D/KS/2019 Tentang PEDOMAN PENGISIAN BLANGKO IJAZAH  PADA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH. Dalam surat edaran ini, ada sedikit perubahan mengenai penulisan nomor peserta ujian. Berikut merupakan Surat Edaran Pedoman Pengisian Ijazah Terbaru.

Surat Edaran Pedoman Pengisian Ijazah Terbaru


Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 0038/D/HK/2019 tentang Pedoman Bentuk, Spesifikasi Teknis, Tata cara dan Mekanisme Pengisian Blangko Ijazah pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dengan hormat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut: 
  1. Peraturan Direktur J enderal Pendidikan Dasar dan Menengah, pada lampiran I bagian F nomor 3 tertulis: "Nomor ljazah untuk SPK pada bagian bawah halaman muka mencakup kode jenjang pendidikan, kode satuan pendidikan, kode "SPK", dan nomor seri (nomorator)".  Seharusnya: "Nomor ijazah untuk SPK pada bagian bawah halaman muka mencakup kode penerbitan, kode jenjang pendidikan, kode satuan pendidikan, kode "SPK", dan nomor seri (nomorator)". 
  2. Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, pada lampiran II bagian B nomor 10 tertulis:  "Angka 10 diisi dengan nomor peserta Ujian Nasional terdiri atas 14 (empat belas) digit sesuai dengan nomor peserta yang tertera pada kartu tanda peserta Ujian Nasional dan sama dengan yang tertera di Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN). 1 (satu) digit berisi informasi jenjang pendidikan, 2 ( dua) digit berisi informasi tahun, 2 ( dua) digit berisi informasi kode provinsi, 2 ( dua) digit berisi informasi kode kabupaten/kota, 3 (tiga) digit berisi informasi kode sekolah, 3 (tiga) digit berisi informasi kode urut peserta, dan 1 (satu) digit berisi informasi validasi. Khusus untuk Ijazah SD dan SDLB, angka 10 diisi dengan nomor peserta ujian sekolah". Seharusnya: "Angka 10 diisi dengan nomor peserta Ujian Nasional terdiri atas 16 (enam belas) digit sesuai dengan nomor peserta yang tertera pada kartu tanda peserta Ujian Nasional dan sama dengan yang tertera di Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN). 1 (satu) digit berisi informasi jenjang pendidikan, 2 ( dua) digit berisi informasi tahun, 2 ( dua) digit berisi informasi kode provinsi, 2 (dua) digit berisi informasi kode kabupaten/kota, 4 (empat) digit berisi informasi kode sekolah, 4 (empat) digit berisi informasi kode urut peserta, dan 1 (satu) digit berisi informasi validasi. Khusus Untuk Ijazah SD dan SDLB, angka 10 diisi dengan nomor peserta ujian sekolah". 
Selengkapnya mengenai Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5951/D/KS/2019 Tentang PEDOMAN PENGISIAN BLANGKO IJAZAH  PADA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH bisa diunduh melalui link di bawah ini.

Download Surat Edaran Pedoman Pengisian Ijazah Terbaru.

Demikian informasi mengenai Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5951/D/KS/2019 Tentang PEDOMAN PENGISIAN BLANGKO IJAZAH  PADA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH. Semoga bermanfaat.


Pelatihan Online Seamolec Untuk Guru Tahun 2019

Pelatihan Online Untuk Guru Tahun 2019 - Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (Seamolec) kembali menyelenggarakan pelatihan untuk guru. Pelatihan ini dilaksanakan secara online. Jadi, guru tidak perlu meninggalkan tugas mengajar di kelas. Berikut merupakan Pelatihan Online Untuk Guru yang diselenggarakan oleh Seamolec di tahun 2019.

Pelatihan Online Seamolec Untuk Guru Tahun 2019

Jenis Pelatihan Online Seamolec Tahun 2019


Untuk periode 28 Juni s.d 26 Juli 2019, Seamolec menggelar empat pelatihan yang diselenggarakan secara online. Pelatihan tersebut meliputi:

  1. Blog as Learning Media
  2. Presentation Design Using Powerpoint
  3. Infographic Design
  4. Digital Learning Material Using Whiteboard Animation

Ketentuan Pelatihan Online Seamolec Tahun 2019


Bagi guru yang ingin mengikuti pelatihan online Seamolec tahun 2019 ini, berikut merupakan mekanisme pelatihan online Seamolec tahun 2019.

  1. Pemberian materi dilaksanakan melalui video conference. Sesi diskusi (video cenference) dilaksanakan selama 7 pertemuan setiap senin, rabu, dan jumat pukul 18.00-21.00 WIB.
  2. Sertifikat senilai 32 JP diberikan kepada peserta yang memenuhi kreteria penilaian.
  3. Nama peserta yang berhasil mendaftar akan tampil di laman my course Etraining sesuai dengan judul pelatihan yang didaftarkan.
  4. Peserta diwajibkan mencermati panduan pelatihan yang dapat diunduh melalui link http://etraining.seamolec.org pada menu Guidebook.
  5. Peserta yang terdaftar akan diundang ke grup whatsapp satu hari sebelum pelatihan dimulai sesuai dengan nomor yang didaftarkan.
  6. Uji coba video conference akan dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2019 pukul 19.00 WIB.

Pendaftaran Pelatihan Online Seamolec Tahun 2019


Bagi guru yang ingin mengikuti pelatihan online ini bisa mengakses http://etraining.seamolec.org. Persyaratan dan pendaftaran ada di dalam laman tersebut.

Demikianlah informasi mengenai Pelatihan Online Seamolec Untuk Guru Tahun 2019. Semoga bermanfaat.