Ketentuan Pelaksanaan Upacara Yadnya dan Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali

Guna mengantisipasi merebaknya penyebaran Covid-19 dan mengatur pelaksanaan Upacara Yadnya dan Kegiatan Adat di Bali, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali mengeluarkan keputusan bersama tentang Ketentuan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya dan/atau Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali.

Ketentuan Pelaksanaan Upacara Yadnya dan Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali


A. DASAR


  1. Arahan Presiden Republik Indonesia melalui pidato tanggal 15 Maret 2020, tentang perkembangan penyebaran penyakitvirus Corona (COVID-19) di Indonesia;
  2. Maklumat Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor: Mak/2/111/2020 tanggal 19 Maret 2020 tentang Kepatuhan Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (COVID-19);
  3. Data Penyebaran COVlD-19 di sejumlah daerah yang semakin meningkat harus diwaspadai dan diantisipasi agar tidak menimbulkan dampak yang semakin meluas demi penyelamatan umat manusia; dan
  4. Hasil Paruman Bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali tanggal 28 Maret 2020.
  5. Surat Edaran PHDI Pusat No. 312/SE/PHDI Pusat/IIl/2020 tentang PEDOMAN PERAWATAN JENAZAH DAN UPACARA PITRA YAJNA BAG[ JENAZAH PASIEN COVID- 19.

B. PRINSIP UPACARA PANCA YADNYA


  1. Yadnya dalam bentuk upacara wajib dilaksanakan sesuai dengan tiga kerangka agama Hindu, yang rncliputi: Tattwa, Susi/a, dan Acara. Dalam hal ini Acara mencakup: kitab suci, orang suci, tern pat suci, hari sucl, dan upacara suci.
  2. Upacara Yadnya dalam praktikagama Hindu di Bali menyediakan pilihan beragam, sebagai berikut: a. Kanistaning Kanista [kecil/inti], Madyaning Kanista, Utamaning Kanista; b. Kanistaning Madya; Madyaning Madya, Utamaning Madya; c. Kanistaning Utama; Madyaning Utama, dan Utamaning Utama.
  3. Dalam pelaksanaan Upacara Yadnya boleh dan dibenarkan ada penyesuaian sesuai dengan prinsip Desa (Tempat Pelaksanaan Upacara Yadnya), Kala (Waktu Pelaksanaan Yadnya), dan Patra (Kondisi Orang yang Melaksanakan Yadnya) dan berdasarkan sastra.
  4. Ada Upacara Yadnya yang pelaksanaannya harus mencari Dewasa Ayu, seperti mapandes, pawiwahan; ada pula Upacara Yadnya yang dilaksanakan tanpa mencari Dewasa Ayu, seperti upacara tiga bulanan, otonan, dan sejenisnya.
  5. Yadnya mesti didasari dengan niat, pikiran, dan hati yang lascarya nekeng twas (tulus ikhlas).

C. JENIS UPACARA PANCA YADNYA

Yadnya dalam bentuk upacara menurut agama Hindu terutama meliputi lima jenis yang disebut Panca Yadnya, yakni:

  1. Dewa Yadnya;
  2. Rsi Yadnya;
  3. PitraYadnya;
  4. Manusa Yadnya; dan
  5. Bhuta Yadnya.
Dalam setiap pelaksanaan Upacara Yadnya senantiasa ada Tri Manggalaning Yadnya, yakni:

  1. Sang Yajamana, yang melaksanakan Upacara Yadnya;
  2. Sang Tapini/Sarati, yang merancang dan membuat banten (tukang banten); dan
  3. Sang Wiku Pamuput, yang memimpin pelaksanaan Upacara Yadnya, biasanya sulinggih dwijati atau pamangku ekajati. Dalam hal ini Sang Yajamana dapat bermusyawarah untuk mufakat dengan Sang Tapini serta Sang Wiku Pamuput.


D. PELAKSANAAN UPACARA PANCA YADNYA

Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya dalam kondisi Negara, termasuk Provinsi Bali, sedang menghadapi kondisi pandemi Virus Corona (COVID-19) saat ini, hendaknya diatur sesuai dengan prinsip ber-yadnya (Dharma A,gama) yang telah disebutkan pada huruf B dan huruf C dan prinsip Dharma Negara dengan mengikuti Arahan, lmbauan, lnstruksi, baik dari Pemerintah maupun Pemerintah Daerah, Lembaga, serta instansi yang berwenang lainnya.

Berdasarkan pertimbangan prinsip Dharma Agama dan Dharma Negara tersebut, maka Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya selama berlangsung "Pandemi COVID-19" di Provinsi Bali, diberlakukan ketentuan-ketentuan sebagai berikut.

1. Semua Upacara Panca Yadnya yang bersifat ngawangun ( direncanakan), seperti karya malaspas, ngenteg linggih, ngaben, ngaben massal, mamukur, maliqia, Rsi Yadnya (Padikshan), serta karya ngawangun yang lainnya, seperti "maajar-ajar, nyegara-gunung" dan lain-lain, supaya DITUNDA sampai batas waktu dicabutnya Status Pandemi COVID-19.

2. Upacara Panca Yadnya selain yang bersifat ngawangun ( direncanakan) sebagaimana dimaksud pada angka 1, dapat dilaksanakan dengan melibatkan peserta yang terbatas.
Dalam setiap pelaksanaan Upacara Panca Yadnya sebagaimana dimaksud pada angka 2 agar mengikuti prosedur tetap penanggulangan pandemi COVID-19 dari instansi yang berwenang:

  • Tetap mengutamakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS);
  • Tetap menjaga jarak antar orang paling sedikit 1,5-2,0 meter;
  • Tersedia tempat mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer); dan
  • Menggunakan masker.
4. Karya Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih
  • Pelaksana Upacara saking pangawit nqantos panyineban kamargiang olih Krama Desa Adat Besakih.
  • Malasti Ngubeng.
  • Karya Nyejer a wuku (7 rahina). 
  • Pangubaktian Krama Siosan (Panyungsung/Panyiwi) ngayat sakinq Merajan / Sanggah soang-soang.
  • Ring Padharman nganutin pamargi sekadi ring ajeng, nyejer tur kasineb a rahina.
5. Karya Ngusaba Kadasa di Pura Batur

  • Pelaksana Upacara saking panqawit ngantos panyineban kamarqianq olih Krama Desa Adat Batur.
  • Karya Nyejera wuku (7 rahina).
  • Pangubhaktian Krama Siosan ngayat sakinq Merajan / Sanggah soang-soang.
  • Krama Subak sane jagi ngaturang suwinih ke Pura Batur, wantah diwakili oleh utusan maksimal 2 orang. 
6. Karya di Pura selain Kahyangan Jagat

  • Pelaksana Upacara sakinq pangawit ngantos panyineban kamargiang olih Krama Pamaksan /Pangemong.
  • Malasti Ngubeng.
  • Nyejer paling suwe 3 rahina. 
  • Pangubhaktian Krama ngayat sakinq Merajan / Sanggah soang-soang.
  • Tidak diiringi seni wali/wewalen, seperti gambelan, rejanq, baris, topenq siddha karya miwah sane tiosan.
7. Pitra Yadnya
  • Upacara Pitra Yadnya, berupa Ngaben, bagi yang meninggal karena positif COVID-19, dilakukan dengan kremasi langsung atau makingsan di gni sesuai dengan Protokol Kesehatan COVID-19. 1) Jenasah diantarkan oleh petugas kesehatan. 2) Upacara makingsan di gni / kremasi disesuaikan. 
  • Bagi yang meninggal bukan karena COVID-19, supaya dilaksanakan Upacara makingsan di gni atau dikubur, kecuali Sulinggih dan Pamangku.
  • Apabila Ngaben tidak mungkin ditunda, dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut 1) Upacara dilaksanakan dengan sederhana dan jumlah peserta yang terbatas. 2) Tidak ada undangan, atau bentuk keramaian lainnya.
8. Manusa Yadnya

Upacara Manusa Yadnya yang terkait dengan kelahiran, seperti upacara bayi telu bulanan (tiga bulan), otonan (hari lahir/siklus enam bulanan) DAPAT DILAKSANAKAN dengan:

  1. Upacara dilaksanakan dengan sederhana dan jumlah peserta yang terbatas.
  2. Tidak ada undangan, atau bentuk keramaian lainnya.
Apabila Upacara Pawiwahan tidak dapat ditunda, maka pelaksanaannya dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Dihadiri hanya oleh kedua pihak keluarga inti dan saksi-saksi;
  2. Upakara paling inti berupa pakala-kalaan/pabyakaonan, tataban di Bale (Atma Kerthi), banten nunas Tirta Tri Kayangan Desa Adat, Tirta Mrajan, dan Tirta dari Sulinggih-cukup dilaksanakan oleh 2-3 orang.
  3. Pawiwahan cukup dipimpin Pamangku dibantu oleh Sarati Banten.
  4. TIDAK MENGGELAR RESEPSl-sampai batas waktu "Status Pandemi COVID-19" dicabut resmi oleh Pihak Berwenang.
Keputusan Bersama PHDI dan MAD Provinsi Bali  tentang Ketentuan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya dan/atau Kegiatan Adat Dalam Status Pandemi Covid-19 di Bali bisa diunduh melalui link berikut ini : Unduh Keputusan Bersama

I Gusti Lanang Gede Putra Astawa, guru di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali


EmoticonEmoticon