Rangkuman Materi Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Sampai akhir 1944, kedudukan Jepang dalam Perang Pasifik sudah sangat terdesak. Pasukan Jepang mengalami kekalahan di berbagai wilayah. Keadaan ini yang dimanfaatkan oleh Bangsa Indonesia dalam mempersiapkan kemerdekaan. Berikut merupakan Rangkuman Materi Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Rangkuman Materi Persiapan Kemerdekaan Indonesia



Akhir Kekuasaan Jepang di Indonesia



Tanggal 6 Agustus 1945 kota Hiroshima di bom atom oleh sekutu.

Tanggal 9 Agustus 1945 kota Nagasaki di bom atom oleh sekutu.

Tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia) menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Perubahan BPUPKI menjadi PPKI merupakan upaya Jepang untuk menarik simpati rakyat Indonesia.

PPKI berbeda dengan BPUPKI. Jika BPUPKI anggotanya melibatkan orang-orang jepang, PPKI seluruh anggotanya merupakan Indonesia.

Tanggal 9 Agustus 1945, Soekarno, Moh. Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat dipanggil ke Dalath/Saigon/Ho Chi Minh di Vietnam oleh Marsekal Terauchi (Panglima Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara).

Tanggal 11 Agustus 1945 Marsekal Terauchi melantik Soekarno-Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI.

Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa kemerdekaan Indonesia akan diumumkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Tanggal 14 Agustus 1945, rombongan Soekarno, Moh. Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat.

Tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu (AS, Kanada, dan Australia) di atas geladak kapal perang Amerika (USS Missouri) yang berlabuh di teluk Tokyo.

Berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu didngar oleh Syahrir (tokoh pemuda) dari siaran radio Amerika (Voice of America).

Syahrir kemudian menyampaikan berita tersebut kepada Moh. Hatta yang kemudian meneruskan berita kepada Sukarno.


Peristiwa Rengasdengklok



Peristiwa Rengasdengklok terjadi karena perbedaan pandangan antara kelompok tua dengan kelompok muda mengenai kapan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Golongan Tua


  1. Usianya antara 45-50 tahun.
  2. Golongan ini bersikap hat-hati dan tetap pada pendiriannya pada perjanjian dengan Terauchi.
  3. Golongan tua tidak berani melanggar perjanjian karena kahwatir akan ada pertumpahan darah.

Golongan Muda

  1. Usianya masih 25 tahun.
  2. Golongan ini bersikap radikal/penuh emosional.
  3. Golongan ini menghendaki secepatnya diumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia yaitu tangga 16 Agustus 1945.
Sutan syahrir (golongan muda) setelah mendengar kekalahan Jepang segera menuju ke rumah Moh. Hatta untuk segera memplokamirkan kemerdekaan Indonesia.

Agar Sutan Syahrir tidak kecewa, Moh. Hatta mengajak Sutan Syahrir ke rumah Soekarno.

Soekarno tidak mau segera meproklamasikan kemerdekaan dan berjanji memproklamasikan kemerdekaan setelah bertemu dengan anggota PPKI.

Tanggal 15 Agustus 1945, para pemuda mengadakan rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh yang memutuskan kemerdekaan Indonesia harus segera dilakukan tanpa menunggu sidang PPKI.

Para pemuda mengutus Wikana dan Darwis untuk menemui Sukarno dan mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang ditolak oleh Sukarno.

Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 dini hari, Soekarno-Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh Shadanco Singgih.

Di Rengasdengklok, Soekarno-Hatta kembali didesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Soekarno akhirnya berjanji bersedia memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta.

Di Jakarta terjadi kesepakatan antara wakil kaum tua (Ahmad Subarjo) dengan wakil kaum muda (Wikana) mengenai pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 sebelum pukul 12.00 WIB.

Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 17.30 Ahmad Subarjo bersama Sudiro dan Yusuf Kunti berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput Sukarno-Hatta.

I Gusti Lanang Gede Putra Astawa, guru di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali