Literasi Finansial

Literasi Finansial - Kali ini kita akan mengulas tentang Literasi Finansial. Pembahasan kita terdiri atas Pengertian Literasi FinansialPrinsip Dasar Literasi FinansialRuang Lingkup Literasi Finansial, dan Indikator Literasi Finansial.

Literasi Finansial



1. Pengertian Literasi 


Finansial Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan penekanan mengenai pentingnya inklusi finansial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari literasi finansial. Pengertian inklusi finansial sendiri adalah sebuah proses yang menjamin kemudahan akses, ketersediaan, dan penggunaan sistem keuangan formal untuk semua individu.

Literasi finansial sebagai salah satu literasi dasar menawarkan seperangkat pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber daya keuangan secara efektif untuk kesejahteraan hidup sekaligus kebutuhan dasar bagi setiap orang untuk meminimalisasi, mencari solusi, dan membuat keputusan yang tepat dalam masalah keuangan. Literasi finansial juga memberikan pengetahuan tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya sebagai amunisi untuk pembentukan dan penguatan sumber daya manusia Indonesia yang kompeten, kompetitif, dan berintegritas dalam menghadapi persaingan di era globalisasi dan pasar bebas dan juga sebagai warga negara dan warga dunia yang bertanggung jawab dalam pelestarian alam dan lingkungan dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan kesejahteraan.

2. Prinsip Dasar Literasi Finansial 


  1. Keutuhan (holistik) unsur-unsur literasi finansial bersinergi dengan lima literasi dasar yang lain, dengan kecakapan abad ke- 21.
  2. Keterpaduan (terintegrasi) dengan kompetensi, kualitas karakter dengan lima literasi dasar lainnya. Keterpaduan dengan berbagai ranah, baik sekolah, keluarga, dan masyarakat.
  3. Responsif terhadap kearifan lokal dan ajaran religi yang ada di Indonesia. Berisi muatan yang mempertimbangkan kearifan lokal dan ajaran religi yang sangat beragam di Indonesia.
  4. Responsif kesejagatan: mempertimbangkan, tanggap, dan memanfaatkan hal-hal yang berkenaan dengan literasi finansial yang berasal dari mana saja (bersifat universal).
  5. Inklusif: merangkul semua pihak dengan terbuka dan setara; membuka kesempatan atau peluang serta kemungkinankemungkinan yang berasal dari pihak lain.
  6. Partisipatif: melibatkan, mendayagunakan, memanfaatkan berbagai pemangku kepentingan literasi finansial, dan berbagai sumber daya yang dimiliki berbagai pemangku kepentingan.
  7. Kesesuaian perkembangan psikologis, sosial, dan budaya: bahanbahan, program, dan kegiatan literasi finansial selaras dengan perkembangan individu, perkembangan sosial, dan budaya yang melingkupi atau menaungi individu.
  8. Keberlanjutan: seluruh program, kegiatan, dan hasilnya harus berlanjut dan saling menopang.
  9. Keakuntabelan semua program, kegiatan, dan hasil literasi finansial harus dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pemangku kepentingan literasi serta bisa diakses dan dikaji kembali oleh pihak lain.

3. Ruang Lingkup Literasi Finansial


Materi
Pengertian transaksi ekonomi dan beragam jenis praktiknya
Uraian
Pengertian alat tukar, barang, dan jasa

Materi
Pengenalan sumber daya ekonomi (earning)
Uraian
Sumber daya alam (SDA). Potensi mengenali dan menggunakan SDA untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama
Sumber daya manusia (SDM). SDM untuk mata pencaharian/profesi untuk pemenuhan kebutuhan dasar

Materi
Pengenalan konsep belanja (spending) sebagai pemenuhan kebutuhan dasar
Uraian
Skala prioritas, yakni kebutuhan primer, sekunder, dan tertier.
Sosialisasi dan kampanye gaya hidup ugahari (moderasi).
Ilmu konsumen.

Materi
Pengenalan konsep menyimpan (saving) dalam terminologi tradisional dan modern
Uraian
Menabung
Asuransi
Investasi

Materi
Pengenalan konsep berbagi (sharing) dengan berbasis pada kearifan lokal, ajaran agama, dan negara
Uraian
Amal
Pajak

Materi
Pengenalan konsep mengenai praktik tidak baik dan kejahatan finansial
Uraian
Korupsi
Rasuah
Investasi bodong
Jenis kejahatan finansial lainnya


4. Indikator Literasi Finansial



  1. Adanya peningkatan indeks literasi finansial. Peningkatan indeks literasi finansial dapat dilihat dari survei yang dilakukan oleh lembaga keuangan nasional dan internasional, seperti lembaga Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Dunia (World Bank).
  2. Ketersediaan berbagai modul literasi finansial dan sarana penunjang yang mendukungnya. Modul literasi finansial dalam beragam media yang variatif, seperti buku cetak, buku elektronik, audio, audio visual, aplikasi, alat peraga, dan sumber literasi finansial lainnya yang dapat diakses dengan mudah oleh semua lapisan masyarakat.
  3. Implementasi gaya hidup ugahari. Sosialisasi ugahari (moderasi) sebagai gaya hidup yang berdampak pada pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, dan berimbang.
  4. Peningkatan penggunaan berbagai produk jasa keuangan, seperti bank, asuransi, investasi, dan berbagai produk jasa keuangan lainnya. Masyarakat dapat mengakses layanan produk jasa keuangan yang legal dan aman untuk melakukan transaksi finansial.
  5. Konsumen yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab. Masyarakat dapat memilih dan memilah produk dan jasa yang akan digunakan serta melahirkan produk dan layanan ekonomi yang berkualitas.
  6. Masyarakat yang lebih memprioritaskan produk lokal (nasional). Meningkatnya produksi dan konsumsi produk lokal yang menguatkan perekonomian nasional untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
  7. Kompilasi kegiatan literasi finansial berbasis kearifan lokal di seluruh Indonesia. Keberagaman konsep dan praktik literasi finansial berbasis kearifan lokal yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan ekonomi.
  8. Sosialisasi dan pemanfaatan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang efektif dan efisien. Pemanfaatan KIP yang optimal oleh rakyat Indonesia mendorong kualitas pendidikan dan SDM.

4.1 Indikator Literasi Finansial di Sekolah


Basis Kelas

  1. Jumlah pelatihan literasi finansial untuk kepala sekolah, guru, dan manajemen sekolah;
  2. Intensitas pemanfaatan dan penerapan literasi finansial dalam kegiatan pembelajaran; dan
  3. Nilai literasi finansial berdasarkan OJK dan lembaga lainnya.
Basis Budaya Sekolah

  1. Jumlah dan variasi buku dan alat peraga berbasis literasi finansial;
  2. Frekuensi peminjaman bahan bacaan literasi finansial;
  3. Jumlah kegiatan literasi finansial ;
  4. Terdapat kebijakan sekolah terkait literasi finansial;
  5. Jumlah penyajian informasi literasi finansial;
  6. Akses situs daring dan luring yang berhubungan dengan literasi finansial; dan
  7. Terdapat lembaga keuangan sekolah yang aktif (bank sekolah atau koperasi).
Basis Masyarakat

  1. Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi finansial di sekolah; dan
  2. Tingkat keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi finansial di sekolah. 
4.2 Indikator Literasi Finansial di Keluarga

  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi finansial yang dimiliki keluarga;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi finansial dalam keluarga setiap harinya;
  3. Jumlah bacaan literasi finansial yang dibaca oleh anggota keluarga;
  4. Jumlah pelatihan literasi finansial yang aplikatif dan berdampak pada keluarga;
  5. Jumlah produk keuangan yang digunakan dalam keluarga, seperti tabungan, asuransi dan investasi;
  6. Tingkat pemahaman konsep tentang fungsi dasar keuangan, seperti cara menghasilkan uang atau mata pencaharian dan alat tukar barang dan jasa; dan
  7. Tingkat keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan finansial dalam kehidupan sehari-hari. 

4.3 Indikator Literasi Finansial di Masyarakat

  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan literasi finansial yang dimiliki fasilitas publik;
  2. Frekuensi membaca bahan bacaan literasi finansial setiap hari;
  3. Jumlah bahan bacaan literasi finansial yang dibaca oleh masyarakat setiap hari;
  4. Jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacaan literasi finansial;
  5. Jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi finansial;
  6. Jumlah kegiatan literasi finansial yang ada di masyarakat;
  7. Tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi finansial;
  8. Jumlah pelatihan literasi finansial yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  9. Tingkat ketersediaan akses informasi dan layanan finansial di seluruh Indonesia;
  10. Jumlah pengguna produk dan layanan jasa keuangan yang dibuktikan dengan hasil survei oleh lembaga keuangan yang kredibel;
  11. Angka pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan kesenjangan sosial yang dibuktikan oleh hasil survei (contoh: Badan Pusat Statistik, World Bank);
  12. Tingkat pendapatan per kapita masyarakat kelas menengah dan bawah yang dibuktikan dengan hasil sensus nasional oleh lembaga negara yang berwenang;
  13. Terbukanya lapangan pekerjaan yang diiringi dengan meningkatnya wirausaha dan UMKM yang dibuktikan oleh lembaga negara yang berwenang; dan
  14. Angka kejahatan finansial (contoh: laporan atau survei dari POLRI, KPK, OJK, BPK dan lembaga lainnya).
Demikian postingan mengenai Literasi Finansial. Semoga bermanfaat.

I Gusti Lanang Gede Putra Astawa, guru di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali


EmoticonEmoticon