Gerakan Literasi Sains Di Sekolah

Gerakan Literasi Sains Di Sekolah - Berikut ini merupakan materi lengkap dan terbaru tentang Gerkan Literasi Sains Di Sekolah. Dalam materi ini, akan dibahas mengenai Sasaran Gerakan Literasi di Sekolah, dan Strategi Gerakan Literais Sains di Sekolah.

Gerkan Literasi Sains Di Sekolah



1. Sasaran Gerakan Literasi Sains di Sekolah 


Basis Kelas

  1. Meningkatnya jumlah pelatihan guru sains dan nonsains;
  2. Meningkatnya intensitas pemanfaatan dan penerapan literasi sains dalam pembelajaran;
  3. Meningkatnya jumlah pembelajaran sains berbasis permasalahan dan berbasis proyek;
  4. Meningkatnya jumlah pembelajaran nonsains yang melibatkan unsur literasi sains;
  5. Meningkatnya skor literasi sains dalam PISA/TIMSS/INAP; dan
  6. Meningkatnya jumlah produk yang dihasilkan peserta didik melalui pembelajaran sains berbasis proyek. 
Basis Budaya Sekolah

  1. Meningkatnya jumlah dan variasi bahan bacaan literasi sains;
  2. Meningkatnya frekuensi peminjaman bahan bacaan literasi sains;
  3. Meningkatnya jumlah kegiatan literasi sains di sekolah;
  4. Meningkatnya akses situs daring yang berhubungan dengan literasi sains;
  5. Meningkatnya jumlah kegiatan bulan literasi sains;
  6. Meningkatnya alokasi dana untuk literasi sains;
  7. Terdapatnya tim literasi sekolah;
  8. Terdapatnya kebijakan sekolah mengenai literasi sains; dan
  9. Meningkatnya jumlah penyajian informasi literasi sains dalam berbagai bentuk (contoh: infografis dan alat peraga proses terjadinya hujan).
Basis Masyarakat

  1. Meningkatnya jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi sains; dan 
  2. Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi di sekolah. 

2. Strategi Gerakan Literasi Sains di Sekolah 



Strategi utama Gerakan Literasi Sains Sekolah berupa Literasi Sains Lintas Kurikulum, yaitu sebuah pendekatan penerapan literasi sains secara konsisten dan menyeluruh di sekolah untuk mendukung pengembangan literasi sains bagi setiap peserta didik. Keterampilan literasi sains secara eksplisit diajarkan di dalam mata pelajaran, tetapi peserta didik diberikan berbagai kesempatan untuk menggunakan sains di luar mata pelajaran sains di berbagai situasi. Menggunakan keterampilan sains lintas kurikulum memperkaya pembelajaran bidang studi lainnya dan memberikan kontribusi dalam memperluas dan memperdalam pemahaman sains. Selain melalui kurikulum, literasi sains juga dimunculkan di dalam lingkungan sekolah oleh staf nonguru dan kegiatan-kegiatan rutin yang terjadi di sekolah yang memberikan kesempatan nyata bagi peserta didik untuk mempraktikkan keterampilan literasi sains mereka.

2.1 Penguatan Kapasitas Fasilitator



  1. Pelatihan guru sains dalam menerapkan proses berpikir inkuiri dan saintifik serta metode pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan masalahmasalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Guru dilatih untuk memilih, membuat, dan memodifikasi permasalahan sehari-hari yang dapat digunakan di dalam pembelajaran literasi sains. Selain itu, guru juga dilatih berbagai strategi dalam pemberian tugas atau pekerjaan rumah yang dapat melibatkan anggota keluarga dalam literasi sains. 
  2. Pelatihan guru nonsains dalam menggunakan sains untuk memperkaya penyajian informasi di dalam mata pelajaran yang diampu. Dengan cara ini, peserta didik dapat melihat bagaimana penggunaan konsep dan keterampilan sains di dalam bidang studi lain dapat membantu mereka memahami konsep di dalam bidang studi itu. Pada saat yang sama, peserta didik memiliki kesempatan mengaplikasikan konsep dan keterampilan sains di luar jam pembelajaran sains. 
  3. Pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan dalam keterampilan menciptakan ekosistem di sekolah yang mendukung literasi sains. Ekosistem kaya literasi di sekolah dapat dihadirkan dengan memanfaatkan berbagai hal yang sudah tersedia di sekolah. Keterampilan dan kreativitas menciptakan ekosistem tersebut perlu dilatih agar berkembang dengan baik. 
  4. Pendidikan guru dalam mempersiapkan calon-calon guru untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengaplikasikan literasi sains. Dibutuhkan peran aktif LPTK untuk menyiapkan calon-calon guru yang literat sains dengan melakukan penyesuaian pola perkuliahan. 
  5. Forum diskusi bagi warga sekolah tentang literasi sains. Forum diskusi ini dapat menjadi wahana bagi warga sekolah untuk menyampaikan gagasan, berbagi praktik baik pelaksanaan literasi, dan refleksi terhadap berbagai kegiatan literasi yang dilakukan di sekolah. 
  6. Pelatihan pembuatan permainan edukatif tentang literasi sains. Tujuan dari pelatihan ini adalah agar guru dan tenaga kependidikan dapat membuat sendiri permainan edukatif yang dapat dimanfaatkan dan membantu peserta didik agar literat sains.

2.2 Peningkatan Jumlah dan Ragam Sumber Belajar Bermutu



  1. Penyediaan buku-buku berkaitan dengan sains, baik fiksi, nonfiksi, maupun referensi. Buku-buku bermutu yang dapat diakses oleh warga sekolah akan berpengaruh dalam mencetak warga sekolah yang literat sains.
  2. Program Satu Guru Satu Buku, khususnya untuk guru sains untuk menulis buku-buku yang berhubungan dengan sains. Guru hendaknya memiliki kemampuan untuk menyebarluaskan pemikiran dan pengetahuannya kepada banyak orang sesuai dengan bidang keahliannya.
  3. Penyusunan modul pelatihan yang berisi hakikat sains, literasi sains, pola pikir sistem (system thinking), serta bekerja dan berpikir kolaboratif dalam merancang proses pembelajaran. Modul pelatihan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sarana untuk mempercepat penyebarluasan informasi dan pemutakhiran pengetahuan tentang literasi sains.
  4. Penyediaan informasi dan sumber belajar daring mengenai literasi sains oleh Pustekkom. Sumber belajar daring dibutuhkan untuk memperkaya beragam bahan bacaan tentang literasi sains dan dapat diakses dengan mudah dengan menggunakan gawai.
  5. Penggunaan permainan edukatif tentang sains yang dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Permainan edukatif tersedia dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk fisik maupun daring.
  6. Memperbanyak kegiatan jelajah alam sekitar. Lingkungan alam sekitar juga dapat menjadi sumber belajar yang dapat dieksplorasi semaksimal mungkin oleh peserta didik. Kegiatan tersebut dapat dilakukan di dalam dan di luar jam sekolah. Guru dapat memberikan panduan kegiatan, kemudian peserta didik melakukan eksplorasi bersama kelompok atau per individu. 

2.3 Perluasan Akses Sumber Belajar Bermutu dan Cakupan Peserta Belajar


  1. Pengembangan sarana penunjang dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran sains sehingga dapat menciptakan ekosistem yang kaya literasi sains. Misalnya, menghiasi dinding, tangga, dan selasar sekolah dengan gambar berbagai macam planet atau hal lain yang berkaitan dengan sains, dan memberi keterangan manfaat dan nomenklatur pada tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah.
  2. Penyediaan laboratorium sains sebagai tempat bereksperimen dan bereksplorasi serta sebagai sumber belajar bagi peserta didik. Peserta didik membutuhkan ruang belajar yang mendukung. Dengan adanya laboratorium dan alat-alat eksperimen yang memadai, kesempatan belajar bagi peserta didik akan dapat diperluas.
  3. Pengoptimalan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah hendaknya memiliki waktu kunjungan selain jam istirahat, seperti mengalokasikan satu jam per minggu untuk setiap kelas.
  4. Penyediaan sudut baca di kelas yang berisi buku-buku sains. Sudut baca ini mendekatkan buku dengan peserta didik di kelasnya masing-masing. Peserta didik dapat leluasa membaca dan memilih bahan bacaan yang dikehendaki.
  5. Penyelenggaraan open house oleh sekolah yang sudah mengembangkan literasi. Sekolah yang terlibat dalam kegiatan ini dapat saling berbagi pengalaman, saling mendukung, dan berbagi informasi tentang kegiatan yang bermanfaat untuk dikembangkan di sekolah lain.
  6. Program pengimbasan sekolah. Sekolah percontohan secara mandiri dapat menularkan pengalaman dan kegiatan literasi sains ke sekolah imbas di sekitarnya.
  7. Kampanye literasi untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan pentingnya literasi sains agar semakin banyak pihak yang terlibat.

2.4 Peningkatan Pelibatan Publik 



  1. Sharing session dengan mengundang pihak publik untuk berbagi tentang cara mereka mengaplikasikan sains di dalam profesi dan kehidupan mereka sehari-hari. Pihak sekolah dapat mengundang narasumber pakar sains, peneliti, dosen, tenaga kesehatan, apoteker, teknisi pesawat, dan lain-lain.
  2. Mengadakan kegiatan Bulan dan Festival Literasi Sains dengan cara berikut. a) Mengundang dan melibatkan orang tua dan publik untuk melakukan kegiatan literasi sains bersama dengan peserta didik dan membuat alat peraga dan permainan sains yang dapat digunakan di rumah. b) Memameran hasil karya proyek peserta didik (hasil dari Project-Based Learning) yang bersifat interdisipliner dengan sains sebagai salah satu unsurnya. c) Menampilkan buku-buku yang berhubungan dengan literasi sains.
  3. Menyelenggarakan bedah buku bertema literasi sains. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan mengundang narasumber atau guru-guru sains dari berbagai sekolah dan warga sekolah lainnya sebagai audiens. Berangkat dari kegiatan sederhana semacam ini, peserta didik dan warga sekolah akan terlatih untuk berpikir inkuiri dan kritis terhadap bahan bacaan.
  4. Pelibatan BUMN dan DUDI pada kegiatan literasi sains di sekolah. BUMN dan DUDI dapat mengambil bagian dengan memberikan dana CSR mereka untuk membantu pelaksanaan kegiatan literasi sains, penyediaan bahan bacaan, membantu penyediaan alat-alat eksperimen di laboratorium, atau kegiatan lainnya yang mendukung pengembangan literasi di sekolah.

2.4 Penguatan Tata Kelola



  1. Alokasi dana untuk kegiatan penguatan pelaku, peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar, penyediaan sarana penunjang, dan kegiatan-kegiatan literasi sains terkait. Alokasi dana merupakan bentuk prioritas terhadap kegiatan literasi yang ada di sekolah.
  2. Pembentukan tim literasi sekolah. Tim tersebut terdiri atas kepala sekolah, pengawas, guru, dan wakil orang tua peserta didik dengan tugas menjadi motor penggerak dan memantau berjalannya kegiatan-kegiatan literasi di sekolah.
  3. Pembuatan kebijakan sekolah yang menyatakan pentingnya literasi sains dan keterlibatan semua warga sekolah dalam menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan literasi sains. Kebijakan tersebut dapat berupa pencanangan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah tiap hari secara bergiliran yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah, kegiatan membawa bekal makanan bergizi dari rumah, eksplorasi lingkungan sekitar sekolah, dan lain-lain.
  4. Memperkuat persatuan orang tua dan guru untuk membangun relasi kerja sama yang kuat untuk terlibat di dalam literasi sains. Orang tua dapat mengawal keberlangsungan kegiatan literasi dari pembiasaan yang dilakukan di rumah, sedangkan guru melakukan penguatan pembiasaan kegiatan literasi di sekolah.

I Gusti Lanang Gede Putra Astawa, guru di SD Negeri 1 Semarapura Tengah, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali


EmoticonEmoticon