Pembelajaran Simbiosis Melalui Cerpen


Terkadang kita akan merasa bosan terhadap sesuatu yang monoton. Hal itulah yang terbesit saat saya merencanakan sebuah pembelajaran. Ketakutan saya adalah ketika hal tersebut terjadi pada diri anak didik kita. Kita akan menjadi seorang guru yang membosankan.
Berakar dari pikiran tersebut, saya mulai mencari sebuah solusi. Bagaimana agar saat saya melakukan pembelajaran, anak didik saya menjadi antusias. Sehingga materi tentang simbiosis bisa menjadi menyenangkan saat mereka pelajari. 

Satu hal yang bisa saya lakukan adalah memberikan pengantar yang berbeda dari biasanya. Jika terkadang kita guru IPA memberikan video atau masalah sebagai pengantar, namun kali ini saya ingin melakukan hal yang beda. Saya ingin memberikan sebuah cerita kepada anak didik saya. Cerita anak yang mengarah kepada materi simbiosis. Akhirnya saya mencoba membuat sebuah cerpen anak. Cerpen yang mengarah kepada materi yang akan saya ajarkan. Cerpen tersebut saya beri judul “Kerbau mencari obat”.
Kerbau mencari obat 
Sudah beberapa hari si Kerbau tidak bisa makan dengan tenang. Walaupun di sekitarnya banyak rumput dan dedaunan yang hijau, tetapi dia tidak bisa menikmatinya. Rasa gatal yang menyerang tubuhnya, hampir tidak tertahankan. 
Gatal yang dia rasakan tidak seperti biasa. Bukan gatal karena diganggu oleh lalat. Dia sendiri tidak tahu penyebabnya. Yang dia tahu, gatal tersebut pertama kali menyerang saat dia berkubang (berendam di lumpur saat cuaca panas). 
“Tuhan, apa yang membuat tubuhku gatal seperti ini…” Lenguhnya. “ Gatal ini hampir menyerang seluruh tubuhku……oukh…Moooo…” 
Lunguhan si Kerbau, terdengar oleh sahabatnya si Burung Kutilang. Dia merasa kasihan kepada si Kerbau. Kemudian dia terbang dan hinggap di ranting dekat si Kerbau berada. 
“Kenapa kamu terus menerus melenguh Kerbau? Apakah kamu sangat terganggu oleh si Lalat?” Tanya Kutilang. 
Kerbau yang sedang asyik mengibaskan ekornya terkejut. Dia menoleh kearah datangnya suara. “Oh, sahabatku Kutilang…Bukan si Lalat yang mengganguku. Sudah bebarapa hari ini, rasa gatal menyerang tubuhku. Seluruh tubuhku seperti digigit oleh ribuan semut. Aku yakin bukan si Lalat penyebabnya….Moo…”Kata kerbau sambil melenguh. 
Burung kutilang merasa kasihan mendengar penderitaan yang dialami oleh sahabatnya si Kerbau. Tp, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Kerbau merasa gatal. Kemudian dia teringat sesuatu. “ Kerbau, mari kita pergi ke tempatnya Burung Hantu. Kita tanya kepadanya tentang penyebab gatalmu dan cara mengobatinya…” 
“Apakah dia tahu cara mengobati rasa gatalku?” Tanya si Kerbau bimbang. 
“Aku dengar, Burung Hantu memiliki kesaktian mengetahui segalanya…” Kata Burung Kutilang. “Tidak ada salahnya kita bertanya kepada dia. Siapa tahu dia mempunyai cara untuk menghilangkan gatalmu.” Lanjutnya lagi. 
Setelah berpikir sejenak, Kerbau lalu berkata “Kamu benar kawanku. Tidak ada salahnya kita bertanya kepada dia. Maukah kamu mengantarkan aku ke rumahnya..?” 
“Tentu saja kawanku. Apa gunanya sahabat jika tidak saling membantu. Ayo kita berangkat” Kata burung Kutilang sambil terbang masuk ke hutan. Kerbau mengikuti arah Burung Kutilang terbang. 
Setelah beberapa lama melakukan perjalanan memasuki hutan, akhirnya tibalah mereka di rumah Burung Hantu. Rumah Burung Hantu merupakan sebuah lubang yang berada di dalam batang kayu besar. Burung Kutilang dan Kerbau berhenti di depan pohon besar tersebut. 
“Wahai Burung Hantu, apakah engkau ada di dalam? Aku bersama si Kerbau hendak bertanya kepadamu…?”Seru Burung Kutilang. 
Burung Hantu tampak keluar melalui lubang pohon tersebut. Matanya sedikit menyipit karena silau oleh sinar matahari. Sambil terbatuk dia berkata”Huhuk…Mengapa kamu mencariku Burung Kutilang? Kamu hendak bertanya apa?” 
“Wahai Burung Hantu, aku ke sini hendak bertanya kepadamu. Kawanku si Kerbau sudah beberapa hari menderita gatal. Apakah engkau tahu apa penyebab gatalnya?” Tanya Burung Kutilang. 
“Hemm…Aku mengerti. Kamu tunggu sebentar. Aku akan mencari tahu apa penyebab gatal dari si Kerbau…” Kata Burung Hantu sambil memejamkan mata. Tampak dia seperti hendak tidur. 
Setelah beberapa saat menunggu, Burung Hantu pun tampak membuka matanya berlahan-lahan. Kemudian dia berkata”Burung Kutilang dan Kerbau dengarlah… Penyakit yang menyerang si Kerbau disebabkan oleh makhluk yang sangat kecil. Dia menggigit kulitmu untuk menghisap darahmu. Gigitan makhluk tersebut yang menyebabkan kulitmu menjadi gatal..” 
“Tapi jangan kahwatir Kerbau….Penyakitmu bisa diobati. Kamu pergilah masuk ke dalam hutan. Di sana kamu harus membantu hewan yang memerlukan pertolongan. Nanti kamu akan menemukan sendiri obat untuk menyembuhkan sakitmu…”Lanjut Burung Hantu. “Terima kasih Burung Hantu. 
Aku akan menuruti semua petunjukmu… Sekarang aku mohon pamit..” Kata si Kerbau. Burung Hantu tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk dan berbalik badan menuju ke dalam lubang pohon. Meninggalkan si Kerbau dan Burung Kutilang yang memandang si Burung Hantu dengan gembira. 
“Kutilang, maukah kamu menemaniku pergi mencari obat untuk gatalku?” Tanya Kerbau kepada Burung Kutilang. 
“Aku ingin sekali Kerbau, tetapi aku harus mencarikan anak-anakku makanan. Ini sudah siang. Pasti mereka sudah lapar menunggu kedatanganku… Kata Kutilang. “Iya Kutilang… Aku mengerti. Kamu cepatlah pulang. Bawakan anak-anakmu makanan. Terima kasih ya Kutilang. Kamu sangat membantuku…” 
“ Sama-sama sobat. Itulah gunanya teman…. Ingat pesan si Burung Hantu. Semoga berhasil kawan…” Kata Burung Kutilang sambil terbang meninggalkan Kerbau. 
Kerbau sejenak memandang ke arah burung Kutilang terbang. Kemudian dia berjalan menuju ke dalam hutan. Kerbau terus berjalan masuk ke dalam hutan. Semakin lama, jalan yang dia lewati semakin tidak karuan. Pohon-pohon besar serta semak belukar memenuhi jalan yang dia lalui. 
Setelah beberapa lama dia berjalan, Kerbau akhirnya tiba di sebuah padang rumput yang ada di tengah hutan. Rasa lapar memaksanya untuk beristirahat sambil memakan rumput yang ada di sana. 
Ketika sedang asik makan, dia mendengar suara minta tolong. Kerbau kemudian mencari arah datangnya suara tersebut. Dia berlari menuju ke tempat datangnya suara minta tolong tersebut. 
Ketika dia tiba di tempat suara minta tolong, Kerbau melihat seekor burung yang sedang dikepung oleh dua ekor burung Elang. Kerbau berlari kearah burung tersebut dan mengusir kedua burung elang tersebut. Melihat seekor Kerbau dengan badan yang besar membantu burung buruannya, dua ekor elang tersebut pun pergi. 
“Terima kasih ya… Kamu telah menyelamatkan nyawaku. Kalau boleh aku tahu, siapakah namamu?” tanya burung yang baru ditolong Kerbau. 
“Namaku Kerbau… Kamu siapa? Kenapa kamu diserang oleh dua ekor burung tadi?” 
“ Namaku Jalak… Mereka adalah si Elang. Mereka suka memakan burung yang lebih lemah dari mereka. Tadi mereka mau memakanku… Sahut Jalak. “Aku baru pertama kali melihat kamu di sini. Kamu datang dari mana?” tanya Jalak lagi. 
“Iya… Aku memang baru pertama kali ke sini. Aku ke sini hendak mencari obat…” Kata Kerbau. 
Kerbau pun menceritakan mengapa dia samapai ke tempat tersebut. Mulai dari dia menderita sakit gatal yang tidak tertahankan, bersama sahabatnya burung Kutilang pergi ke rumah Burung Hantu, sampai akhirnya dia tiba di padang rumput tersebut. 
Jalak manggut-manggut mendengar cerita dari Kerbau. Dia lalu berkata “Bolehkah aku memeriksa kulitmu Kerbau?” 
“Silakan saja Jalak. Rasa gatal yang menyerang kulitku ini benar-benar menyiksaku…Mooo…” 
Burung Jalak terbang dan hinggap ke punggung Kerbau. Dia memeriksa dengan cermat setiap jengkal kulit kerbau. Dia melihat banyak makhluk kecil yang berkeliaran di seluruh kulit Kerbau. “Mungkin makhluk ini yang menyebabkan gatal pada kulitmu Kerbau…” Kata Jalak sambil mematuk salah satu makhluk tersebut dan memperlihatkan kepada Kerbau. 
Kerbau mengamati makhluk kecil yang ada di paruh Jalak. Makhluk tersebut berwarna hitam dan memiliki kaki yang berjumlah enam. Makhluk tersebut terus berontak berusaha melepaskan diri dari paruh Jalak. 
Karena terus berontak, tiba-tiba kutu tersebut tertelan oleh Jalak. Jalak merasa bahwa kutu tersebut sangat enak. “Wah enak sekali makhluk ini. Boleh aku memakan semua makhluk-makhluk tersebut Kerbau?” pinta Jalak. 
“Tentu saja Jalak. Siapa tahu dengan hilangnya makhluk kecil tersebut, rasa gatalku bisa hilang juga….” 
Jalak pun terbang dan mulai mematuk-matuk makhluk kecil yang ada di kulit Kerbau. 
Setelah beberapa lama, tubuh Kerbau pun bersih dari kutu. Jalak yang memakan makhluk-makhluk kecil yang ada di kulit Kerbau pun tersebut kekenyangan. 
Setelah kulitnya bersih, Kerbau tidak merasa gatal lagi. Dia lalu berkata dengan senangnya. “Wah, gatal yang ada di kulitku telah hilang. Kamu hebat sekali Jalak. Kamu bisa menyembuhkan kulitku…Mou….”. Lanjutnya lagi “Terima kasih Jalak. Kamu sangat baik…” 
Jalak yang bertengger di ranting pohon senang mendengar Kerbau telah sembuh dari gatalnya. “Jangan berterima kasih padaku Kerbau. Karena aku juga mendapatkan makanan yang benar-benar enak. Sekarang aku sangat kekenyangan…” 
“Baiklah kawan. Karena gatalku sudah hilang, aku mau kembali ke tempat asalku…” kata Kerbau berpamitan. 
“Iya kawanku Kerbau… Jika nanti kulitmu gatal lagi, datanglah ke sini. Aku sangat senang memakan makhluk-makhluk kecil yang membuat kulitmu gatal.” 
Kerbau dan Jalak berpisah. Kerbau kembali ke tempat asalnya, sedangkan Jalak terbang masuk ke dalam hutan.  
Memang cerpen tersebut tidak terlalu bagus, namun cukup bisa membuat anak didik saya menjadi semangat menjawab pertanyaan yang saya ajukan mengenai cerpen tersebut yang mengarah ke materi simbiosis. Sehingga pembelajaran menjadi sedikit tidak membosankan.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

No comments

Theme images by enjoynz. Powered by Blogger.